Review Film No Other Choice (2025): PCW Coba Komedi Gelap

0
152
Review Film No Other Choice (2025): PCW Coba Komedi Gelap

Bertahun-tahun Park Chan-wook membuat sinema gelap yang serius tentang tindak kriminal para karakternya. Namun, kali ini ia mencoba membuat komedi gelap dalam No Other Choice (2025). Filmnya berkisah tentang seorang manajer perusahaan kertas yang kena PHK dan kesulitan mencari kerja kembali di bidangnya.

You Man-soo (Lee Byung-hun) kena PHK dari pekerjaannya sebagai manajer di perusahaan kertas. Hidupnya pun terpecah-belah, karena cicilan rumahnya menunggak, ia harus melepas dua anjing yang disayangi anaknya, dan sampai harus membatalkan langganan Netflix. Terlebih lagi, kecintaan Man-soo pada dunia produksi kertas membuat ia sulit untuk bekerja di bidang lain.

Tiga belas bulan setelah bekerja takkeruan, ia mendapatkan tawaran bekerja lagi di perusahaan kertas oleh temannya. Bagaimanapun, Man-soo bukanlah kandidat satu-satunya sebab banyak juga yang mengalami nasib sama sepertinya, kena PHK karena perusahaan kertasnya pailit. Ide jahat pun lahir dalam diri Man-soo: ia ingin menyisihkan semua pesaingnya agar bisa mendapatkan pekerjaan yang ia cintai tersebut.

Tema pembunuhan terencana menjadi salah satu ciri dari film Park Chan-wook. Bersama Lee Byung-hun yang akhir-akhir ini kita kenal dari kedinginannya dalam memerankan Hwang In-ho di serial Squid Game (2020), rasanya film ini akan menjadi karya klasik PCW lagi. Nyatanya, tidak, Park justru menjadikan film ini komedi gelap dan temanya tentang kesulitan pekerja di kelas sosial tertentu, mirip dengan Parasite (2019) karya Bong Joon-ho.

Unsur komedi sebenarnya sudah hadir di film-film Park sebelumnya, walau porsinya sedikit. Ia pun makin mempertajam cita rasa komedinya dalam serial The Sympathizer (2024). Dengan sosok Lee yang kaku, gerak-geriknya menjadi karakter utama yang kikuk dalam melakukan pembunuhan justru sangat menghidupkan unsur komedi dalam film ini. Belum lagi gaya bersinema Park yang kerap menggunakan perbesaran dan kamera jarang statis yang seakan mencitrakan komedi itu sendiri.

Permainan komedi gelap dalam film ini dimulai dari Man-soo yang seakan kepepet dan ngebet untuk kembali ke pekerjaan impiannya sehingga ingin menyisihkan salah satu pesaingnya, Choi Seon-chul (Park Hee-soon). Saat berkesempatan menghabisi nyawa Seon-chul, Man-soo justru gugup dan membatalkan niatnya karena ia takmerasa dirinya orang yang sedingin itu.

Bagaimanapun, Man-soo justru merancang rencana lebih jahat. Ia membuka lamaran kerja palsu agar dapat mengetahui para pesaingnya lebih detail. Ia pun menilai portofolio masing-masing dari pesaingnya dan memilih pesaing terkuat agar ia sisihkan. Perencanaan terukur seperti ini benar-benar seperti film PCW.

Bagaimanapun, eksekusinya banyak menemui hal-hal takterduga. Dimulai dari pengamatan Man-soo yang bertemu Gu Bummo (Lee Sung-min) dan tiba-tiba ia digigit ular dan ditolong oleh istri Gu, Lee Ara (Yeom Hye-ran). Di satu titik bahkan Man-soo bersimpati terhadap Gu Bummo sehingga ia makin bingung untuk membunuhnya.

Lalu, sampailah kita dengan sekuen pembunuhan Gu Bummo yang brilian. Banyak elemen-elemen kejutan yang dimainkan dan koreografinya pun dibuat dengan sangat terukur dan sangat mengundang tawa. Unsur gerak lambat sempat dimainkan, mengingatkan kita kembali terhadap Parasite-nya Bong.

Beberapa pembunuhan selanjutnya pun dibuat dengan apik oleh Park yang di satu sisi masih memerangkan moralitas Man-soo. Bahkan, sampai di pembunuhan terakhir pun kita masih bingung untuk menebak-nebak akankah Man-soo yang terlihat bingung dan lugu dapat melakukan pembunuhan. Hal seperti ini memang memuluskan jalan film ini untuk menjadi komedi, tetapi realismenya sedikit terusik.

Dalam aspek tersebut, PCW ingin menunjukkan betapa dinginnya seseorang di level pekerjaan tinggi yang membutuhkan sifat kompetitif tinggi. Man-soo merupakan gambaran nyata dari kapitalisme yang menghalalkan segala cara untuk menjadi pemenang. Ia merupakan tersangka sekaligus korban dalam sistem yang kejam ini. Sangat mirip Parasite bukan?

Sayangnya, walau dengan segala kekacauan yang ia perbuat, di adegan terakhirnya, Man-soo menjadi pemenang. Park tiba-tiba menyisipkan cerita tambahan yang menyelamatkan protagonis utamanya: pendekatan yang sangat komedi dan kembali menjauhkan diri dari realisme. Rasanya takadil, tetapi mungkin inilah dunia yang sesungguhnya yang ingin dicitrakan oleh Park Chan-wook.

Walaupun banyak unsur yang mirip dengan Parasite, film ini tetaplah film Park Chan-wook. Dari sinematografinya, cara berceritanya, dan konstruksi skenarionya dengan skema yang detail, No Other Choice (2025) makin menguatkan diri sebagai auteur. Dengan komedinya yang terus menggempur, film ini merupakan salah satu pengalaman sinema paling komplit yang hadir pada 2025.

Infografik Review Film No Other Choice (2025): PCW Coba Komedi Gelap

Baca juga: Decision to Leave (2022) – Dendam, Pendam, Padam

Penulis: Muhammad Reza Fadillah