Review Film NKCTHI (2019): Bersama-sama Menemui Trauma

0
794

Trauma tidak pernah hilang sebab kita punya ingatan. Ia ibarat tamu yang setiap saat terjaga di depan pintu. Kita bisa memilih di antara dua hal: mempersilakan ia masuk atau kita menanti ia mendobrak masuk ke dalam rumah. Hal ini yang coba ditunjukkan Angga Dwimas Sasongko dalam karya terbarunya, Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini atau disingkat NKCTHI.

NKCTHI mengisahkan tentang upaya sebuah keluarga untuk menghadapi trauma masa lalu yang coba dilupakan. Luka pada masa lalu yang belum usai menyebabkan tokoh-tokoh di dalamnya memiliki masalah psikis. Upaya rekontruksi masa lalu akhirnya diusahakan untuk melajutkan masa depan. Keluarga ini coba menata ulang kembali kehidupan mereka dengan menghadapi trauma secara bersama.

Tema keluarga yang diangkat rumah produksi Visinema Pictures dalam NKCTHI bukanlah sesuatu yang baru. Belum lama, tahun 2018, kita menyaksikkan tema keluarga pada Love for Sale 2 (2018). Berbeda dengan film pertamanya, Love for Sale 2 sangat tebal dengan latar keluarga Minang. Kekuatan latar budaya menjadi keunggulan film tersebut dibandingkan dengan film pertamanya.

Film NKCTHI dibagi dalam beberapa fase, dan salah satunya fase anak-anak/remaja yang ditunjukkan dalam gambar ini.

Berbeda dengan Love for Sale 2, latar budaya, agama, dan sosial-politik pada NKCTHI tidak terlalu tebal. Mungkin ini usaha untuk menguniversalkan masalah pada film ini dengan masyarakat sebanyak-banyaknya dengan cara melepaskan atribut kebudayaan tertentu pada.Alhasil, usaha ini dijalankan dengan mengisolasi keluarga pada NKCTHI dari lingkungan sosial dan komunitas, terutama terasa sekali tidak adanya tetangga dan sanak-saudara.

Terisolasinya keluarga ini serupa kelas menengah di Barat dan jauh dari gambaran keluarga kelas bawah. Ada nuansa individualis yang terasa. Di sisi lain, mungkin cara ini dipilih dengan sengaja oleh sutradara untuk menyempitkan fokus pada upaya penarikan benang merah masalah secara perlahan-lahan dan diledakkan menjelang akhir film, tanpa harus menyentuh masalah sosial kehidupan keluarga ini.

Selain sebagai kelas menengah yang terisolasi, keluarga ini juga diberi penokohan sebagai keluarga yang berpendidikan. Hal ini ditunjukkan dengan minat setiap anak dalam kisah ini. Ada Angkasa (Rio Dewanto), anak pertama, yang berkutat dengan pertunjukkan musik. Ada Aurora (Sheila Dara), anak kedua, yang sangat menyukai seni rupa. Terakhir, ada si bontot, Awan (Rachel Amanda) yang menggemari dunia arsitektur dan menjadi lulusan terbaik di jurusannya.

Dengan latar kelas menengah yang gemar seni, sama sekali tak ada perdebatan mengenai serba-serbi pemikiran yang abstrak maupun pandangan yang bebas, bahkan “gila”. Semua tertib dengan pandangan umum. Minat Angkasa pada musik, Aurora pada seni rupa, dan Awan dengan seni arsitektur kurang dimanfaatkan pembuat skenario sebagai penokohan. Bahkan, hal ini membuat sebuah paradoks dalam penokohan. Tokoh Ayah (Donny Damara) selalu dimenangkan dalam keributan di dalam rumah, sedikit perlawanan dari anak-anaknya, bahkan anak-anaknya menurut dan diam. Adapun Tokoh Ibu (Susan Bachtiar) menjadi penenang keributan.

Para pemeran utama dari keluarga yang menjadi pusat film NKCTHI.

Mengupas Trauma

Sedari awal penonton sudah diberi bocoran secara tidak langsung tentang masalah yang akan meledak pada kemudian hari. Pergantian antaradegan membuat kita membaca perubahan setiap tokoh dengan bantuan kilas balik ke masa lalu yang beberapa kali ditampilkan. Cara ini dipilih untuk menyambung utas masalah dari kejiwaan setiap tokoh, pun dapat mendramatisasi cerita.

Kita akan melihat penokohan ayah yang pilih kasih terhadap anaknya. Selain itu, tokoh ayah selalu posesif terhadap anak bontotnya, Awan. Hal ini memicu kecemburuan Aurora, kakak perempuannya. Ada pula tanggung jawab besar harus diemban Angkasa yang setiap saat harus menjaga Awan, adik bontotnya. Rumitan ini akan menuntut kita pada kesimpulan awal.

Perilaku yang janggal dan bahasa tubuh setiap tokoh juga akan memancing kita untuk menyimpulkan klimaks yang akan disimpan pada ujung kisah. Pada bagian klimaks, kita memang merasa tokoh sangat terpukul. Namun, penggambarannya kurang realistis. Ledakan masalah tidak ditampilkan dengan begitu hebat, bahkan cenderung singkat dan tidak memunculkan goncangan hebat pada psikis setiap tokoh.

Tidak ada ledakan yang begitu besar mungkin lantaran porsi kisah yang dipecah ke semua tokoh dalam satu keluarga: ayah, ibu, dan ketiga anaknya. Resolusi kisah begitu cepat. Harapan kembali muncul. Psikis anggota keluarga kembali memulih sebab ketabahan dan keberanian mereka dalam menemui trauma.

Terlepas dari kekurangannya, NKCTHI mampu menaikkan isu keluarga terutama soal trauma bersama, sebuah masalah yang sangat dekat dengan sebagian besar orang. Film ini juga dikemas dengan menarik dan menyentuh sisi terdalam penonton. Penggambaran trauma pada tokoh juga mampu menyiksa penonton dan membuat penonton berempati kepada setiap tokoh. Hal ini juga membuat penonton untuk menunda prasangka terhadap setiap tokoh.

Infografis film Nanti Kita Cerita tentang Hari Ini sajian ulasinema.

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah