Review Film The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years (2016)

0
285
Review Film The Beatles Eight Days a Week The Touring Years (2016)

Mencoba merangkum revolusi masif kultur pop yang diberikan grup musik asal Inggris, The Beatles, bukanlah perkara mudah. Belum lagi jika kita membicarakan problematik yang terdapat di dalam grup itu sendiri. Ron Howard pun coba merangkum kejayaan hebat ketika Beatles masih aktif manggung, pada tahun 1962—1966 dalam dokumenter The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years.

Membicarakan kisah The Beatles, pengaruh besar terhadap kultur pop, bahkan pengaruh terhadap masyarakat sosial secara umum, sangat sulit. Membicarakan The Beatles tidak bisa membicarakan empat orang saja, tetapi membicarakan dunia dan situasi sosial yang diciptakan oleh grup ini. Grup musik asal Liverpool ini memberikan pengaruh besar terhadap dunia musik kontemporer, dari musiknya sendiri hingga budaya pengidolaan terhadap selebriti.

Memilah Sejarah Besar The Beatles

Penulis skenario Mark Monroe coba menyempitkan skala kisah The Beatles. Ia coba memotret kondisi saat mereka harus tampil dalam tur tanpa henti dalam 4 tahun pertama karier grup musik tersebut. Membicarakan bagaimana John Lennon, Paul McCartney, George Harrison dan Ringo Starr menjalani tur mereka bisa dibilang tidak mudah. Pemfokusan sudut pandang diperlukan agar idenya dapat disampaikan dengan baik.

Review Film The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years (2016)

Bagaimanapun, sepertinya merangkum hal ini pun tidak mudah. Merekonstruksi momen-momen awal kejayaan The Beatles memang akan lebih mantap jika para pelakunya hadir. Saat Beatle yang masih hidup tinggal McCartney dan Starr, pendapat Lennon dan Harrison diperdengarkan menggunakan rekaman masa lampau. Seperti layaknya manusia, McCartney dan Starr pun belum tentu ingat secara detail momen yang terjadi dan bagaimana perasaan mereka saat itu. Sementara itu, pendapat Lennon dan Harrison agar lebih terbuka menggunakan rekaman-rekaman wawancara usai The Beatles bubar.

Pada awalnya, direksi Ron Howard agak membingungkan. Ke mana fokus dokumenter ini kurang begitu jelas. Setengah awal film rasanya penulis Monroe dan arahan Howard coba merekonstruksi ulang pengaruh sosial dan keadaan sosial yang memengaruhi The Beatles. Penuh dengan teriakan, deskripsi tersingkat bagaimana gilanya “Beatlemania” pada masa itu yang dirangkum dalam film ini.

Pembangunan momen-momen ini, bisa dibilang sangat bersejarah jika menggemari musik apalagi The Beatles, memang dapat menimbulkan sensasi yang membuat mulut tersedak akan kekaguman. Kita melihat bagaimana pengaruh masif yang dibawa empat orang ini terhadap dunia. Betapa menggilanya para penggemar ketika bertemu sosok mereka, empat lelaki muda dari Liverpool yang jika dilihat lagi tampangnya seperti “anak kampung”.

Rekonstruksi dalam Eight Days a Week… ini mungkin kurang komplit, tetapi cukup untuk memberikan informasi serta menimbulkan sensasi unik saat menyaksikannya. Saat merekonstruksi kultur sosial yang diberikan The Beatles, kegilaan anak muda ketika grup ini menyambangi mereka ditonjolkan. Di sela-sela itu, McCartney bercerita sedikit tentang awal mula karier unik mereka, yang begitu memanusiakan mereka, ketika orang-orang mendewakannya.

Kisah Beatles dari Berbagai Sudut

Review Film The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years (2016) John Lennon

McCartney dan Starr beberapa kali bercerita, tetapi sepertinya Howard belum mau terlalu intim kepada mereka. Selain itu, dihadirkan sosok-sosok tersohor masa kini, yang menjadi saksi sejarah kehebatan Beatles saat mereka masih muda, seperti Sigourney Weaver dan Whoopi Goldberg. Porsi Weaver tidak begitu banyak, jadi kehadirannya seperti mempertebal bahan referensi saja. Cerita menjadi manis ketika Goldberg mengisahkan kesulitan mereka mendapatkan tiket Beatles saat tampil di Shea Stadium New York pada tahun 1965. Dimasukannya Goldberg dalam dokumenter ini juga menjadi langkah cerdas. Kita dapat melihat adanya isu rasial yang memengaruhi kesulitan orang kulit hitam untuk mencintai musik orang kulit putih.

Saat membangun ulang kultur sosial yang diberikan The Beatles dengan cukup baik, rasanya ada beberapa ide tanggung saat memberikan kejadian sosial yang memengaruhi grup ini. Dimasukkan kejadian pembunuhan presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy, tetapi kelanjutan hal ini dan pengaruhnya terhadap Beatles kurang dikonkretkan. McCartney yang menarasikan hal ini saja sepertinya tidak banyak berbicara.

The Beatles: Eight Days a Week… semakin banyak memasukkan kegilaan penggemar saat The Beatles mendatangi kota mereka. Semakin banyak kegilaan juga yang ditampilkan saat konser terjadi. Memang hal inilah yang membuat band ini akhirnya turun dari panggung dan tidak lagi melakukan konser. Pada momen ini, rasanya momen film semakin intim. Kita semakin diajak melihat keempat orang ini sebagai manusia, bukan alat penghibur semata.

Momen akhir film ini merangkum sisa-sisa perjalanan penampilan The Beatles yang mereka intimidasi lewat album-album mereka. Hingga mereka kembali tampil bersama berempat untuk terakhir kalinya di atas kantor pusat Apple Corps, dokumenter ini ditutup dengan lagu “Eight Days a Week”. Kurang komplit, tetapi The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years lebih dari cukup bagi para penggemar The Beatles dan pencinta musik untuk merasakan masifnya grup musik ini.

Tonton keseruan film The Beatles: Eight Days a Week – The Touring Years melalui aplikasi KlikFilm di sini

Infografik Review Film The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years (2016)

Baca juga: Review Film The Battle: Roar to Victory (2019)

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan