Review Film The Battle: Roar to Victory (2019)

0
527
Review Film The Battle Roar to Victory 2019

Jika Anda sedang mencari film perang yang memikat secara sajian visual dan kisah yang dramatis, The Battle: Roar to Victory mampu menghadirkannya secara memikat. Selain itu, film asal Korea Selatan ini juga mampu mengungkapkan bahwa siapa pun dapat menjadi pahlawan untuk negaranya.

Film ini diangkat dari kisah nyata perlawanan Korea terhadap pendudukan Jepang pada 1920 di Bongo-dong. Adaptasi ini mampu menghadirkan sebuah kisah perang yang heroik, emosional, dan jenaka. Selain itu, dramatisasi dalam film ini mampu menjerat penonton selama dua jam lebih. Kisah yang bergulir dalam film ini membuat penonton setia mengikuti adegan berikutnya.

Adaptasi kisah nyata ini terbilang sukses. Kesuksesan film ini dibuktikan dengan keberhasilan penjualan yang melampaui rekor film The Attorney (2013) dan Ode to My Father (2014). Tentu hal ini terdapat sebuah usaha kerja keras dalam produksi.

Penokohan yang Berwarna

Review Film The Battle: Roar to Victory (2019) Ryu Jun-Yeol

Hal yang memberi warna yang berbeda dalam kisah perang ini adalah unsur penokohannya. Dikisahkan, perlawanan untuk kemerdekaan Korea terhadap Jepang tidak hanya berkutat perjuangan pada pasukan tentara elite, tetapi juga orang di luar elite. Salah satunya pasukan bandit dan petani yang diinisiasi Hwang Hae-Cheol (Yu Hae-Jin).

Hwang Hae-Cheol secara pribadi punya pengalaman yang pahit dengan pasukan Jepang.  Adiknya tidak pernah bisa ia ajak bicara lagi sebab napasnya tidak lagi berhembus, dihentikan oleh pasukan Jepang. Hal ini pun memengaruhi penokohannya. Ia digambarkan menjadi orang yang lebih menahan diri untuk membunuh karena ia paham rasanya kehilangan.

Hae-Cheol sendiri adalah Tentara Kemerdekaan yang memiliki misi mengantarkan dana untuk Pemerintah Sementara Korea di Shanghai. Di perjalanan ia bertemu dengan pemimpin pasukan muda, Lee Jang-ha (Ryu Jen-Yeol). Keduanya bersatu dalam perang ini. Namun, dari segi karakter kita akan melihat perbedaannya.

Dalam peperangan, Hae-Cheol ditampilkan amatlah payah dalam menembak, justru kepandaiannya pada penggunaan pedang dan kata-kata yang membara. Selain itu, anak buah Hae-Cheol  juga digambarkan begitu norak ketika pertama kali menggunakan teropong, hal ini untuk menegaskan latar belakang mereka. Dengan sifat spontan dan berapi-api, mereka memberi warna yang berbeda dalam kisah ini.

Sementara itu, dari tentara pemerintah ada Lee Jang-Ha, komandan pasukan. Ia dan pasukannya memiliki tugas untuk menjebak pasukan Jepang. Misi tersebut ia telah takar dengan perhitungan matang. Dengan perbedaaan yang ada, ia kerap bertengkar dengan Hae-Cheol yang digambarkan naif.

Aksi Heroik dalam Sajian Memikat

Review Film The Battle: Roar to Victory (2019)

Kisah heroik kelompok perlawanan Korea terhadap Jepang ini banyak berlatar di hutan dan pegunungan. Alhasil, dari segi sinematografinya, penonton dimanjakan sekali. Ambilan gambar yang kaya mampu membuat penonton masuk dalam suasana perang.

Bagi Anda yang menyukai karya-karya Quentin Tarantino yang penuh aksi, film ini juga mampu menghadirkan aksi-aksi yang membuat dada berdebar. Dihadirkan perang terbuka, gerilya, dan satu lawan satu. Ada pula pasukan kuda, senjata penembak beruntun, dan bom asap. Selain itu, tangkapan gambar yang sigap makin menghadirkan aksi yang menarik.

Selain unsur visual dan kisah yang menarik, unsur skoring film ini juga mampu membuat kita seolah hadir dalam perang. Kita ikut merasakan kengerian yang hadir dalam perang. Rentetan aksi juga menjadi optimal sebab penataan efek suara yang pas.

Secara keselurahan, film ini menjadi pilihan pas untuk Anda yang sedang mengisi masa swakarantina. Sajian visual dan pengisahaan yang dramatis berhasil membawa kita ke dalam pengalaman sinematik yang memukau. The Battle: Roar to Victory rasanya mampu merawat nilai kemanusiaan kita.

Tonton keseruan film The Battle: Roar to Victory melalui aplikasi KlikFilm di sini

Infografik Review Film The Battle: Roar to Victory (2019) oleh ulasinema

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah