Film-Film Woody Allen dan Soal Moral

0
368
Soal Moral pada Film-Film Woody Allen: Match Point (2005), Cassandra’s Dream (2007), dan Irrational Man (2015)

Mungkin tak ada kebenaran yang tunggal dan universal. Pada pikiran kita, ada sesuatu yang kita yakini benar meski dianggap salah di masyarakat. Selagi kebenaran akan terus menjadi sementara, kita punya satu yang pasti: ketidaknyamanan dan ketidaktenangan. Hal tersebutlah yang dapat kita temukan pada film-film Woody Allen.

Match Point (2005), Cassandra’s Dream (2007), dan Irrational Man (2015) adalah segelintir film Woody Allen yang membuat penonton gelisah. Penonton diajak bersimpati pada tokoh utama yang pontang-panting dalam kepercayaan diri. Masing-masing tokoh dilanda konflik batin dan psikologis soal kebenaran dalam membunuh. Realitasnya, pembunuhan untuk alasan apapun ialah perbuatan tidak bermoral, tetapi satu dan lain hal: nafsu individu, aturan, dan hukum dapat menerabasnya. Ada yang berhasil ada yang gagal.

Cassandra’s Dream misalnya, tokoh adik-kakak, Terry Blain dan Ian Blain putuskan berjudi dengan pikirannya. Keduanya diminta untuk membunuh seseorang yang tak dikenal. Ganjaran atas usaha pembunuhan yang mereka kerjakan adalah melimpahnya uang dan pendamping hidup yang jelita. Namun naas, Terry menjadi gelisah sepanjang hari.  Ia berkutat dengan nilai dosa. Ketika beraktivitas sehari-hari ia masih mampu meladeni pikirannya yang kusut. Begitu tidur, ia tanpa pertahanan. Ia ketakutan. Apa yang terjadi pada Terry membuat Ian panik sebab ia bisa saja keseret hukum dan rusaklah masa depan yang sudah dibayar di muka.

Pada film Match Point, tokoh Chris Wilton mampu memenangkan pikiran. Ia tetap keukeuh dengan kebenaran yang ia yakini. Dikisahkan, tidak mudah bagi Chris untuk keluar dari konflik batin, ia mesti ciptakan kebohongan satu dan kebohongan lainnya serta meyakini diri. Bahkan di dalam film, Woody membuat adegan surealis saat Chris berdialog dengan korbannya dan ia merasa tidak bersalah. Sebagai pengarang cerita, Woody tak menghukum tokoh ini: ia memberinya sebuah keberuntungan. Buah usaha dari kebohongan dan kerja keras menutupi kejahatan. Keberuntungan tidak datang begitu saja, harus diusahakan.

Beda Terry dan Chris, beda pula Abe Lucas dari Irrational Man. Prof. Abe meyakini kejahatan yang ia perbuat adalah kebenaran. Anehnya, membantu seorang ibu dengan membunuh hakim pengadilan justru menjadi kebenaran yang ia yakini. Padahal ia sama sekali tidak mengenal si ibu dan si hakim. Absurd! Namun masalahnya bukan itu, Abe sejatinya merasa menjadi manusia eksis. Bebas dalam moral yang ada diluar dirinya. Ia negasikan kebenaran di luar dirinya. Alih-alih panik ketika diburu polisi, ia malah menjadi semangat menjalani hidup. Namun ia tak beruntung, Woody menghukumnya dengan terjun bebas dari lantai atas.

Dari ketiga film drama gelap yang dibuat Mr. Allen, jangan-jangan Woody ingin menyematkan pesan: jika anda pernah berbuat salah, tetapi Anda berhasil melaluinya, janganlah mengulang kejahatan lagi. Keberuntungan itu nol, tetapi baru ada bila anda mau mencari keberuntungan itu. Terlepas dari hal tersebut, apa pun pilihannya, semua ada konsekuensinya cepat atau lambat. Kita dapat bebas menentukan pilihan, tetapi kita tidak bisa menciptakan konsekuensi.

Tragedi dalam karya fiksi adalah cerminan realitas. Hal tersebut dapat kita dapati juga dapati dalam film-film Woody Allen. Woody sudah pasti puas, sebab berhasil menyampaikan unek-uneknya. plong!

Penulis       : Anggino Tambunan
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah