Enam Sampai Delapan dari Quentin Tarantino

0
327
Enam Sampai Delapan dari Tarantino

Sebelum Quentin Tarantino, tidak ada sineas yang begitu ikonik hingga otak saya secara alami menghafal nama sang sutradara selain Michael Bay dan Christopher Nolan. Nama pertama bersinonim dengan film aksi penuh ledakan, sedangkan nama kedua lekat dengan karya njelimet yang mengacak jalan pikiran penonton.

quentin

Baru-baru ini, saya menambah entri sineas terfavorit setelah menonton The Hateful Eight (2015). Hasil penelusuran singkat menunjukkan pengarah film tersebut, Quentin Tarantino, merupakan orang yang juga menghasilkan film legendaris: Pulp Fiction dan Kill Bill. Namun, mengingat kesempatan menonton keduanya (ketiganya, karena Kill Bill terbagi menjadi dua sekuel) belum jua datang, jatuhlah ingatan saya pada dua film yang mengerek Christoph Waltz ke percaturan Hollywood dan diganjar Oscar untuk pemeran pendukung terbaik: Inglorious Basterd (2009) dan Django Unchained (2012).

1 aIV3L118EFrwn1Br992dyg

Inglorious Basterd berlatar situasi Perang Dunia II di Prancis, mengenalkan publik Hollywood pada aktor paruh baya berbakat yang memerankan kolonel bengis pemberantas etnis Yahudi di wilayah itu—Col. Hans Landa (Christoph Waltz), petinggi pasukan Nazi Jerman. Karakter Hans Landa begitu rumit hingga disebut sulit diejawantahkan dari naskah lakuan hingga Waltz datang. Nyatanya, bukan cuma Landa yang bikin penonton terkesima, Aldo Rheine (Brad Pitt), sang pemburu kepala dari Tenessee, Amerika Serikat juga menempati plot yang melompat-lompat. Ini pun menjadi sebuah kenikmatan mendapati Waltz dan Pitt, berada dalam satu set.

Django Unchained, di sisi lain, membuat saya betul-betul ingin terjun ke universe di dalamnya. Karakter yang bertukar dialog dengan lambat tetapi bernas. Pengondisian cerita yang juga runtut dan tidak terburu-buru tetapi mampu membuat kita menyimak. Berbeda dengan film-film Nolan yang mengutamakan kecepatan dan sering menonjolkan kecerdasan karakter-karakternya, Unchained membiarkan dialog berpantul secara pelan. Bahkan, terkesan mengulur terlalu lama hanya untuk menyampaikan maksud tertentu (lihat bagaimana juragan tua Carrucan (Bruce Dern) meminta pelayannya untuk “menghormati” Django (Jamie Foxx) yang berkulit hitam saat mengajaknya jalan-jalan di perkebunannya).

MV5BOWFkMzMzZjctYjYzYy00NzQwLThlYTctNTQ2NjVmNjdlNmZhXkEyXkFqcGdeQXVyNTc3MjUzNTI@._V1_SY1000_CR0,0,1489,1000_AL_

Ada jeda cukup lama sebelum saya menemukan film dengan citarasa serupa, yang saya temukan dengan cara menelusuri histori sang sutradara. Sampai juga pada The Hateful Eight (2015). Sebagaimana tercantum dalam batang tubuh judulnya, merupakan film kedelapan sang sutradara, yang sejak lama menekankan hanya akan menggarap paling banyak sepuluh film sepanjang kariernya.

Jalan cerita The Hateful Eight sebetulnya sederhana: sekelompok pengelana yang terpaksa bersemayam selama beberapa waktu di sebuah kelab karena terpaan badai salju. Kecuali dua chapter pertama, semua adegan dilangsungkan di Minnie’s Haberdashery, kelab kecil saat kita masuk melalui pintu depan, dengan seluruh sudut kelab bisa disapu dengan mata. Meski begitu, kompleksitas konflik yang mengiringi semua karakter sebabkan durasi tontonan memanjang hingga menjadi 2 jam 47 menit.

“Jualan” utama film ini tentu saja seputar konflik yang menggejala karena ternyata meski baru pertama bertemu, terdapat irisan kehidupan di antara karakter yang terlibat. Kondisi seperti itu terbantu dengan situasi Amerika masa itu ketika masyarakat belum menikmati publikasi seluas era saat ini, sehingga penjahat jalanan atau sheriff hanya bisa dikenali dengan nama, bukan wajah. Akibatnya, lazim bagi para pelancong menggunakan nama samaran untuk menutupi kejahatannya di daerah lain.

the-hateful-eight-trailer-quenti-1

Eight memiliki nuansa Unchained dalam hal visualisasi kredit, latar tempat, waktu, serta dialog antar-aktor. Disejajarkan dengan Basterd, maka yang menjadi similaritas merupakan pengkotakan jalan cerita menjadi beberapa chapter. Bedanya, untuk menjembatani beberapa chapter yang dirasa “terlalu melompat”, sang sutradara urun tenaga dengan menjadi narator. Bila di Basterd dan Unchained terdapat Christoph Waltz sebagai aktor yang benar-benar diperah kemampuan aktingnya, maka Eight memilih Samuel L. Jackson, yang menyertai penonton dari chapter pertama sampai terakhir. Aktris Jennifer Jason Leigh juga bisa diajukan, dengan ia dipaksa memainkan peran yang sanggup tertawa, menggertak, tersedu, bahkan dalam keadaan muka lebam dan penuh darah.

Tiga film di atas ialah sajian keenam, ketujuh, dan kedelapan dari sutradara mahsyur yang sentuhannya telah diakui berbagai kritikus dan penghargaan sinematika. Ketiga fim tersebut menggambarkan ciri khas sang sutradara seperti yang diulas Ben Aryandiaz Herawan di Watchmen ID: penuh darah dan narasi panjang.

Quentin Tarantino, nama sang sutradara, masih menyisakan dua film bagi para penggemarnya. Saat ini ia sedang menggarap film Once Upon a Time in Hollywood yang bakal tayang pada tahun 2019 nanti. Jajaran aktor sekaliber Leonardo di Caprio, Brad Pitt dan Al Pacino siap menghiasi film ini. Tarantino pun sudah saya taruh di pot yang sama dengan sutradara legendaris Hollywood lainnya.

Baca juga: Posesif (2017): Teror Mencekam Sebuah Hubungan

Penulis       : Mukhamad Najmul Ula
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah
Infografis   : Bryan Brianialdy
Gambar     : Berbagai sumber