The Young Karl Marx (2017): Dramatisasi Paradoksalnya Latar Belakang Marx dan Engels

0
1533
The Young Karl Marx (2017): Dramatisasi Paradoksalnya Latar Belakang Marx dan Engels

Seratus tujuh puluh tahun yang lalu, ada hantu gentayangan di Eropa – hantu komunisme. Borjuasi utama seperti restorasi monarki, entitas suci gereja, dan pemikiran radikal Prancis gemetar dibayang-bayangi hantu tersebut. Revolusi industri yang terjadi membidani lahirnya kekuatan baru bernama kaum proletar, sebuah bom waktu yang terus berdetak bagi kaum borjuis, sampai sekarang.

lavkn

“Kaum komunis merasa hina jika menyembunyikan pandangan dan tujuannya. Mereka dengan terbuka menyatakan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan menghancurkan seluruh kondisi sosial yang ada. Biarkan kelompok penguasa merinding melihat revolusi komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan apa-apa kecuali rantai mereka. Mereka punya dunia yang dapat dimenangkan. Buruh di seluruh negeri, bersatulah!”

Kira-kira begitu ajakan Karl Marx dan Friedrich Engels kepada pekerja di seluruh dunia dalam penutup Manifesto Komunis. Ajakan yang mengantarkan revolusi di berbagai belahan bumi. Oleh Raoul Peck, cikal-bakal munculnya manifesto itu diceritakan dalam The Young Karl Marx (2017) bromance singkat yang berlangsung selama lima tahun antara Marx dan Engels.

115091

Sutradara asal Haiti itu menggambarkan Marx (August Diehl) sebagai pemuda dengan semangat yang berani menyampaikan pendapatnya secara lantang. Ia mencintai dan dicintai keluarganya kendati hidup dalam kemelaratan. Pada tahun 1843, ia dipenjara karena kritik-kritiknya terlalu tajam terhadap pemerintahan Prusia. Perilaku represif yang dilakukan pemerintah mengantarkan Marx hijrah ke Paris untuk lebih bebas menyebarkan gagasannya.

Di lain tempat, Engels (Stefan Konarske) diceritakan sebagai anak seorang aristokrat. Ia tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman ayahnya yang sukses pada bidang industri tekstil di Manchester. Kehidupan sehari-harinya sering menyaksikan pekerja di pabrik ayahnya yang bekerja tanpa henti juga tidak memiliki jaminan keselamatan. Keadaan tersebut mengusik nurani Engels dan membuatnya menulis Condition of The Working Classes in England.

Kemelaratan Marx dan borjuasi Engels bertemu di kediaman Arnold Ruge, seorang penerbit jurnal pada masa itu. Mereka berdua datang untuk mengambil royalti atas tulisan-tulisan mereka yang terbit di jurnal Ruge. Marx ingin mengambil haknya untuk membiayai keluarganya, sementara Engels tidak terlalu membutuhkan uang atas tulisannya.

Awalnya Marx tidak begitu menyukai Engels meskipun hal-hal yang ditulisnya juga memperjuangkan kelas pekerja. Penampilan Engels yang penuh kemewahan memberikan kesan munafik bagi Marx. Namun, pembicaraan soal kekaguman Engels atas gagasan-gagasan Marx mengikis ketidaksukaan itu. Akhirnya mereka minum-minum dan menghabiskan hari bersama, sebuah prolog untuk persahabatan sepanjang hidup.

Saat menyaksikan Marx memiliki seorang kawan baru, istri Marx – Jenny Von Westphalen – Marx (Vicky Krieps), menyaksikan keserasian yang begitu hangat. Mereka berdua sama-sama memperjuangkan kelas pekerja. Dalam penampilan, berantakannya Marx diisi oleh rapihnya Engels. Sampai-sampai, ketika mereka berdua kebingungan menentukan judul untuk buku mengenai Sosialis-Berlin yang akan ditulis bersama, Jenny memberikan usul Critique of Critical Critique – Kritik atas Kritik Kritis – untuk judul buku yang akan mereka tulis.

Mengenai hubungan dengan pasangan, situasi bertolak belakang dari Marx dan Engels kembali disajikan dalam film ini. Marx menikahi Jenny yang merupakan keturunan bangsawan Jerman. Dari perkawinannya, mereka memperoleh seorang putri. Sementara Engels adalah seseorang yang tidak menikah. Namun, ia menjalin hubungan dengan Marry Burns (Hannah Stele), salah satu pekerja wanita Skotlandia yang dipecat ayahnya.

qb;na

Berangsur-angsur film ini menampilkan bagaimana perjuangan Marx dan Engels untuk para pekerja dalam berbagai organisasi politik. Tokoh-tokoh sosialisme seperti Weitling dari Inggris dan Proudhon dari Prancis beberapa kali turut meramaikan alur dalam cerita. Dalam beberapa bagian, Marx dan Engels tidak segan untuk mengutarakan pendapatnya jika itu mengenai ketidak-adilan bagi para pekerja. Meskipun itu dengan bayaran dikeluarkan dari organisasi atau pembubaran organisasi itu sendiri.

The Young Karl Marx barangkali menjadi semacam ikhtiar untuk mengenalkan kembali komunisme sebagai paham untuk kemanusiaan. Selama ini kita tahu, sejak dipopulerkan Lenin, Stalin, Mao, Guevara, Castro, sampai Tan Malaka, komunisme sering diidentikan dengan peristiwa berdarah. Persahabatan Karl Marx dan Friedrich Engels dalam film ini dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kehangatan dalam komunisme. Kendati memiliki berbagai perbedaan, Marx dan Engels adalah teladan untuk menghormati manusia, baik sebagai individu maupun secara komunal.

Sebagai masyarakat yang dididik oleh negara untuk membenci komunisme, narasi dalam The Young Karl Marx (2017) merupakan salah satu penawar yang perlu kita konsumsi untuk mengikis kebencian itu.

Baca juga: Dunkirk (2017): Sejarah, Narasi Pulang dan Kekuatan Bercerita dari Nolan

Penulis : Ahmad Bari’ Mubarak
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah
Infografis : Farhan Iskandarsyah
Sumber gambar : IMDb.com dan cari asal di Google