Review Film Joker 2019: Tokoh Fiksi tentang Realitas Kehidupan

0
825
Review Film Joker 2019: Tokoh Fiksi tentang Realitas Kehidupan

Sejak penayangan perdananya di Indonesia pada tanggal 2 Oktober 2019, film Joker mendapatkan perhatian tersendiri bagi para penikmat film di tanah air. Saya sendiri pun sudah menonton film karya garapan dari Todd Phillips ini sebanyak tiga kali. Sebab, sajian alur ceritanya luar biasa.

Rasa ketertarikan saya telah muncul sedari bulan April dalam peluncuran trailer pertama film Joker. Saya pribadi bukan pengikut film pahlawan super DC seperti Batman, Superman, dll. Untungnya, film ini hanya mengisahkan awal mula sosok Joker yang tercipta dari pria badut berbadan kurus dengan halusinasi tinggi yang dianggap gila oleh sekitarnya. Pria itu bernama Arthur Fleck.

Sosok Arthur Fleck yang diperankan oleh Joaquin Phoenix mampu membawa penonton masuk ke dalam kehidupan pribadi kelam seorang Arthur. Mulai dari rasa ketidakadilan yang dialami, kekerasan fisik, hingga berbagai masalah kehidupan sosial yang begitu kompleks menjadi komposisi sempurna terciptanya tokoh Joker.

Todd Phillips, sebagai sutradara film, mampu mengisahkan Joker dengan sangat teliti dan juga rapi. Todd dengan kepiawaiannya sebagai sutradara mencoba untuk bisa mengajak sekaligus merasakan dan juga memahami masalah kehidupan Arthur Fleck sedari awal film ini dimulai. Phillips membuat film dengan isi alur cerita yang mudah dipahami dan sederhana, tetapi berkesan hingga detik terakhir film diputar.

Review Film Joker 2019: Kesedihan Arthur Fleck yang Diperankan Oleh Joaquin Phoenix

Joker Sebagai Identitas Simbol Perlawanan

Apa yang terjadi dengan kehidupan Arthur Fleck merupakan sebuah cerminan dari kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah. Hal tersebut ditunjukkan dengan akting sempurna dari Joaquin Phoenix sebagai Arthur yang sangat merefleksikan kehidupan masyarakat kelas sosial bawah dengan natural dan sangat nyata.

Bersama takdir hidupnya yang penuh kesengsaraan, penghinaan, dan juga rasa tidak adil yang selalu dialami, Arthur melakukan perlawanan terhadap itu semua. Dia memendam perasaan sakit yang teramat. Akhirnya rasa sakit itu telah mencapai titik klimaks sehingga bangkit sebagai iblis bernama Joker. Joker tercipta dari manusia yang penuh dengan masalah, dianggap berbeda dari lingkungan, penuh depresi, kegagalan, serta ditambah rasa kecewa dan sakit yang begitu hebat.

Joker bersama sebagian warga Gotham yang merasa tertindas akan adanya status sosial membuat perlawanan terhadap kaum elite. Bagi kaum yang tertindas, kaum elite dianggap sebagai penyebab terbentuknya sekat antara si miskin dan si kaya. Sementara Arthur ingin melawan seluruh penindasan dan ketidakadilan yang dialaminya, masyarakat kelas bawah Gotham ingin melawan sebagai bukti bahwa mereka mampu bersikap.

Walaupun melakukan perlawanan dalam diri Joker tetap ada Arthur. Ia tetaplah tokoh yang sama seperti apa yang kita kenal. Dapat dikatakan, Joker merupakan bentuk karakter antagonis, sosok penjahat sempurna dengan banyak pemuja, dan akan menyingkirkan mereka yang dianggap berbeda.

Sulit melupakan Joker yang pantas disebut sebagai salah satu film terbaik tahun ini. Elemen yang tergabung dalam film ini begitu sempurna, seperti sinematografi, performa aktor, hingga jalan ceritanya. Skoringyang dimainkan oleh musisi dan juga komposer serial pendek Chernobyl, Hildur Guðnadóttir, mampu membuat penonton di dalam studio merinding serta menambah kesan kelam yang dalam saat mengiringi kehidupan Arthur Fleck yang teramat suram.

Secara menyeluruh, film Joker ini begitu sempurna. Film ini dapat  dianggap masterpiece dari Todd Phillips. Takayal jika Joker mampu mendapat standing ovation selama delapan menit dan menyabet film terbaik di Festival Film Venice.

Artikel ini merupakan artikel kiriman pembaca ulasinema. Anda pun bisa mengirim artikel anda ke ulasinema@gmail.com. Syarat dan ketentuan tulisan bisa dicek di sini.

Penulis: Kriswanto
Penyunting: Redaksi