Review Film Love for Sale 2 (2019): Fokus Perbaiki Film Pertama

0
460
Review Film Love for Sale 2 (2019): Fokus Perbaiki Film Pertama

Andibachtiar Yusuf dan Mohammad Irfan Ramly, selaku penulis skenario kedua film Love for Sale,masih ingin bermain-main pada film keduanya. Alih-alih menjawab pertanyaan penonton yang dibuat penasaran pada akhiran film pertama, mereka justru memberikan alternatif lain. Love for Sale 2 (2019) memberikan kesan yang berbeda dari film pertama.

Ketika film Anda dipuji akan keunikannya dan akting hebat pemeran utamanya, wajar jika Anda akan membuat sekuel yang masih berpusat pada kedua hal itu. Tahun lalu, Love for Sale (2018) menjadi film Indonesia yang memiliki keunikan tersendiri dengan permasalahan yang relevan dengan masyarakat zaman sekarang. Ditambah lagi dengan akting brilian Gading Marten sebagai pemeran utama yang dapat mencerminkan sosok pria bujang tua di Jakarta.

Menyaksikan film pertama, wajar jika penonton mengharapkan kisah dalam film kedua melanjutkan perjalanan Richard (Gading Marten) mencari Arini (Della Dartyan). Nyatanya, penulis skenario film ini berkata lain. Love for Sale 2 mengambil jalan yang cukup riskan, mengganti pemeran utama dengan Adipati Dolken dan menciptakan kisah baru yang agak berbeda dari pendahulunya.

Love for Sale 2 berpusat pada sosok Ican (Adipati Dolken) yang terus dipaksa ibunya (Ratna Riantiarno) untuk menikah. Berbeda dari sosok Richard yang bermasalah dengan kesendiriannya, Ican hampir tidak pernah sendirian. Ia punya keluarga yang mencintainya, punya tetangga dan teman-teman yang selalu mengajaknya mengobrol, serta selalu berani mendekati wanita hanya untuk bermain-main saja. Namun, Ican dan Richard sama-sama memiliki tekanan bahwa mereka perlu punya pasangan.

Kemesraan Ican dan Arini.

Dalam film kedua ini, ada usaha untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan film pertama. Dalam film pertama, kurang digambarkan pandangan masyarakat sekitar atas hubungan Richard dan Arini. Seperti yang kita ketahui, masyarakat kita masih memegang norma bahwa tinggal serumah antara perempuan dan laki-laki yang belum menikah merupakan hal tabu. Oleh karena itu, di film kedua, nilai religius ditingkatkan lewat sosok ibu Ican.

Nuansa kemasyarakatan kota Jakarta pun begitu kental dalam film kedua ini. Setiap karakter pendukung begitu hidup. Hal ini ditampilkan mulai dari Ican yang ingin berangkat kerja atau ingin olahraga pagi yang beberapa kali diajak mengobrol oleh tetangganya atau tokoh utama ini yang habiskan pulang kerja dengan mengopi sambil main domino. Karakter-karakter pendukung ini bahkan diberi porsi yang besar sehingga karakter-karakter mereka cukup matang.

Sorotan terutama tertuju kepada karakterisasi Ibrahim yang ditampilkan dengan sangat apik oleh Yayu Unru. Begitu juga dengan bapak-bapak tetangga Ican yang gemar mengajaknya mengobrol enteng sebelum si tokoh utama memulai aktivitas. Karakter-karakter ini terasa dekat karena memang orang seperti mereka hidup di sekitar kita yang tinggal di kawasan padat penduduk.

Pengemasannya pun sangat baik. Percakapan Ndoy (Ario Wahab) yang menasihati Buncun (Bastian Steel) usai adiknya tersebut cerai contohnya, dikemas dengan sangat padat, sangat hidup. Adegan ini dan beberapa adegan lainnya diambil dalam take panjang dan berhasil menghidupkan suasana. Sinematografi yang baik pun dipercantik dengan pencahayaan yang apik.

Keluarga Ican bersama Arini menikmati waktu bersama di teras rumah.

Seiring dengan berjalannya film, kisahnya justru fokus dengan berbagai macam masalah yang dimiliki bukan oleh Ican Ada berbagai macam konflik karakter pendukung yang diberikan sehingga fokus kepada Ican mulai blur. Film dipusatkan kepada tokoh ibu Ican yang justru dibantu Arini untuk menyelesaikan berbagai macam masalah tersebut.

Sebenarnya tidak ada masalah dengan berbagai macam konflik yang ada karena muatannya begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari kita. Permasalahannya ada pada konsentrasi film yang terlalu ingin menarik simpati penonton kepada sosok ibu Ican. Ada usaha yang berlebihan pada hal ini. Lalu, ketika cerita ingin kembali ke Ican, kita jadi merasa kurang bersimpati karena kurangnya porsi perkembangan tokoh. Dampaknya, kemesraan Ican dan Arini akhirnya terkesan terlalu tiba-tiba.

Jika dibilang film Love for Sale 2 berpusat kepada tokoh Arini, tidak bisa demikian juga. Porsinya masih terasa kurang. Sisi kemanusiaan Arini memang ditunjukkan (film pertama Arini bertindak seperti kemauan Richard saja, tidak terlihat ego pribadinya), tetapi perkembangan karakternya tidak begitu terasa. Mungkin, hal ini disebabkan rencana adanya film ketiga yang ingin mengupas-tuntas siapa itu Arini.

Andibachtiar Yusuf memang berhasil mengatasi hampir segala kekurangan film pertama di film kedua. Namun, hal ini justru membuat fokus cerita menjadi agak diabaikan. Dengan segala kekurangannya, Love for Sale 2 tetap film yang sangat asik untuk ditonton. Nuansa kehidupan kota Jakartanya juara.

Infografis Review Love for Sale 2

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan