Review Film Susi Susanti Love All (2019): Biopik Olahraga dan Politik

1
513

Film Susi Susanti Love All menempatkan dirinya tidak sebagai film biografi Susi Susanti sebagai seorang atlet saja. Film ini memasukkan unsur sosial dan politik yang terjadi di Indonesia. Film ini memberikan polemik yang cukup pelik dan rumit dalam skala besar, tetapi mencoba menghabiskannya hanya dalam durasi satu setengah jam saja.

Dunia perfilman Indonesia masih tidak begitu mengenal seperti apa bentukan film biografi olahraga. Walaupun ada, keberadaannya tidak banyak dan tidak sepopuler film-film roman-komedi dan horor yang selalu menghiasi bioskop negeri ini setiap saat. Sebut saja King (2009), dan 3 Srikandi (2016), film-film tersebut tidak mendapatkan perhatian yang besar dari masyarakat.

Padahal, film-film biopik olahraga dapat memberikan inspirasi bagi anak-anak muda dan memunculkan kembali rasa nasionalisme yang mungkin sempat hilang. Rasa tersebutlah yang coba ditanam dan dikembangkan sebagai plot cerita dalam film Susi Susanti Love All. Film ini berkisah tentang lika-liku seorang Susi Susanti sebagai atlet dan keberadaannya di tengah kondisi sosial politik Indonesia yang sedang rumit.

Film Susi Susanti Love All diperkenalkan dengan beberapa kalimat pembuka yang menjelaskan kondisi keseluruhan film. Dalam teks tersebut, dijelaskan bahwa Indonesia justru mengandalkan seorang atlet yang bukan keturunan asli Indonesia. Atlet tersebut ialah Susi, seorang keturunan Tiongkok yang sulit mendapatkan kewarganegaraan Indonesia.

Setelah teks pembuka ini, adegan awal mengalir dengan cukup baik, memperkenalkan Susi yang memiliki bakat bermain bulu tangkis. Namun, Susi ditekan dengan kondisi sosial saat itu, ada anggapan olahraga sebagai kegiatan maskulin dan dianggap tidak cocok bagi dirinya yang seorang wanita. Bagaimanapun, tekad Susi bulat. Ibunya yang pada awalnya melarang ia bermain pun tersinggung karena Susi diejek pengecut dan membawa nama ayahnya yang mantan atlet bulutangkis.

Kemenangan Susi dalam pertandingan itu, membuatnya dipanggil untuk ikut pelatihan nasional di Jakarta. Dari sinilah karier Susi sebagai pebulu tangkis dimulai. Di antara kesulitan Susi dan beberapa kali dirinya harus patah semangat, sosok ayahnya (diperankan Iszur Muchtar) selalu coba menghibur dan memberi semangat pada Susi. Beberapa adegan Susi bersama ayahnya serasa bisa sangat menyentuh.

Sangat disayangkan, peranan Iszur Muchtar belum maksimal. Tiap kali dirinya berdialog, nada bicara yang dikeluarkan begitu datar. Penonton pun dibuat bingung seperti apa sebenarnya tujuan adegan intim Susi dan ayahnya. Tidak hanya ayah Susi yang terasa kurang, ibu Susi (diperankan Dayu Wijanto) terasa kesulitan berbicara bahasa Sunda dan melafalkan dialeknya. Lebih disayangkan lagi karena Moira Tabina Zayn sebagai Susi kecil sudah berperan dengan baik dan beberapa adegan awal film terasa asik untuk ditonton.

Kemudian, kita beralih ke masa remaja akhir Susi dan kali ini giliran Laura Basuki yang harus unjuk gigi perankan sosok legendaris bulu tangkis Indonesia ini. Dari fase ini, intensitas unsur politik dalam film mulai ditingkatkan. Perbincangan-perbincangan antara MF Siregar (Lukman Sardi) dan Try Sutrisno (Farhan) serta pertanyaan-pertanyaan perkara identitas Susi sebagai warga negara Indonesia menentukan warna politik film ini.

Pada awalnya, unsur politik dalam film ini cukup asik ditonton sebagai penambah latar suasana. Penonton masih menikmati keseruan dan ketegangan Susi memenangi Piala Sudirman 1989 dan roman menyentuh Susi dan Alan Budikusuma (Dion Wiyoko) ketika keliling Jakarta. Belum lagi adegan lucu saat mereka melewati jam malam dan harus memanjat pagar. Kita dapat merasakan latar suasana Jakarta pada masa itu dengan baik.

Memasuki konflik hingga mencapai klimaks, film ini terlihat berantakan. Dalam adegan pertarungan Susi memenangi Barcelona 1992, Sim F selaku sutradara mulai memasukkan unsur-unsur art film yang mengedepankan keapikan pengambilan gambar. Gaya ini pun berlanjut hingga masalah politik pada akhir-akhir kepemimpinan presiden Suharto serta perjuangan Susi di Piala Uber 1998. Menggunakan unsur estetika film yang tidak digunakan sejak awal justru dapat merusak kesatuan estetika film tersebut. Padahal, perkara penggunaan warna, film ini cukup apik.

Dalam segi akting, Laura Basuki tampil apik sebagai tokoh utama. Mungkin, porsi adegan alunan emosi Laura sebagai Susi masih terasa kurang. Selain Laura, Jenny Zhang pun tampil baik sebagai Liang Chiu Sia, pelatih Susi. Setiap ia tampil, aktingnya meyakinkan dan tegas.

Sayangnya, film Susi Susanti Love All kurang bisa mengajak kita fokus pada sosok Susi itu tersendiri. Alunan emosi Susi di setengah akhir film kurang terasa, saat film ini sibuk menjelaskan sulitnya menjadi keturunan Tiongkok di Indonesia pada zaman itu. Bagaimanapun, film ini sudah berhasil menguak perkara sosial dan politik Indonesia pada zaman orde lama dalam sudut pandang atlet Tiongkok yang ingin membela negara.

infografis review film susi susanti

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan