Dari fiksi-sains hingga tegangan politik, Alex Garland telah berkali-kali menebar teror lewat film-filmnya. Kini, ia mencoba cerita nyata dari teror Perang Irak bersama pelaku langsung, Ray Mendoza, dalam film Warfare (2025). Dalam kisah singkat, keduanya bisa memberikan replika secara menyeluruh dari kekejian Amerika Serikat di Irak.
Peloton Alpha One dari pasukan Navy SEAL AS dikirim untuk menyusup ke wilayah Irak dalam Perang Ramadi pada 2006 silam. Di sana, mereka ambil alih rumah penduduk dan menjebol tembok karena lantai atasnya ternyata dimiliki oleh keluarga lain. Malam pun menjadi agak bising dan paginya rumah mereka dicurigai.
Sejak judul film ditampilkan, waktu film bergulir dan durasi kejadian nyatanya sama. Dalam menit-menit pertama saat penembak jitu Elliott Miller (Cosmo Jarvis) mengawasi gerak-gerik kerumunan, film memang terasa datar. Namun, Garland perlahan membangun tensi dan ciptakan ketegangan dalam detail kecil yang menentukan hidup-mati.
Debaran pun makin kencang kala granat menghampiri peleton mereka. Ledakannya takmemberikan luka fatal kepada anggotanya, tetapi cukup untuk melucuti nyali mereka. Luka Miller membuatnya harus dievakuasi, tetapi saat evakuasi dilakukan, ledakan kedua memakan korban jiwa dan memberikan luka fatal kepada Miller dan Sam (Joseph Quinn).
Di sinilah Garland mulai menghadirkan teror perang yang sesungguhnya. Film-film Hollywood kerap menampilkan bahwa tentara punya kelengkapan mental untuk menjadi gagah dan membasmi musuh dengan mudah. Namun, dalam kisah nyatanya, semua tentara ingin kabur ketika disadarkan bahwa kematian hanya berjarak kurang dari sejengkal.
Garland paham betul dalam mengeksploitasi ketakutan ini menjadi sajian audiovisual yang mengerikan. Elemen suara dimainkan, mulai dari ledakan bom, lalu suara berdenging, hingga teriakan kesakitan Miller dan Sam. Suara ledakan memang menghentak dan menggetarkan nyali, tetapi menebar teror dari suara teriakan merupakan cara brilian Garland untuk menyampaikan ketakutan kolosal ke bangku penonton. Sisa-sisa nyali para tentara Alpha One pun perlahan terkikis dan sirna.
Beruntung mereka masih bisa diselamatkan oleh Alpha Two yang kembali menghadirkan tenaga bertempur dan akhirnya mengevakuasi tim. Dalam 95 menit, film Warfare (2025) merupakan cerita yang cukup untuk menghadirkan teror perang sehingga membuat bulu kuduk penonton bergidik. Mendoza berhasil menampilkan kisah perangnya dan Garland berhasil menghadirkan teror lewat kemampuan bersinemanya.
Mendoza mungkin ingin menghadirkan ketakutan para tentara dalam masuk ke medan perang. Dalam kerumunan kecil, mereka menyusup ke rumah penduduk, mengobrak-abrik rumah mereka, dan menodong senapan dalam kegelapan. Jika melepas sudut pandang para tentara, kita bisa menemukan teror yang hadir dan posisi sebagai penduduk yang ditindas.
Saat adegan pertempuran berlangsung pun para tentara AS menyuruh dua tentara Irak yang membantu mereka untuk maju duluan dan menjadi pelindung. Imbasnya, salah satu tentara Irak pun menjadi satu-satunya korban jiwa dalam pasukan mereka. Begitu juga di adegan akhir film yang menampilkan kerusakan yang disebabkan oleh para tentara AS yang telah pergi.
Warfare memang singkat, tetapi film ini bisa menjadi rekap tentang invasi militer AS yang mengacak-acak Irak. Mereka datang dalam kelompok kecil seperti virus, merusak harmoni negara dengan dalil menyelamatkan mereka, lalu kabur begitu saja tanpa bertanggung jawab. Memang detail ini tersirat dan hanya sekitar sepuluh persen dari film ditampilkan oleh Garland dan Mendoza yang fokus utamanya menceritakan ketakutan para tentara. Namun, hal ini cukup untuk membuat film lebih berimbang.

Baca juga: Review Film Sinners (2025) – Blues & Vampir
Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah


















