Review Film The Phoenician Scheme (2025): Rekoneksi Ayah & Putrinya

0
226
Review Film The Phoenician Scheme (2025): Rekoneksi Ayah & Putrinya

Wes Anderson melanjutkan produktivitasnya dengan petualangan aneh nan komikalnya dalam The Phoenician Scheme (2025). Kini, Benicio del Toro memimpin bersama pendatang baru, Mia Threapleton dan kolaborasi pertama Anderson dengan Michael Cera. Film ini berkisah tentang seorang pebisnis terkenal yang meminta putri sulungnya untuk melanjutkan bisnisnya.

Zsa-Zsa Korda (Del Toro) adalah seorang pebisnis ulung yang punya kesialan tiada ujung. Korda selalu diincar oleh pembunuh bayaran dan hampir berkali-kali mati, terutama dalam kecelakaan pesawat. Terbaru, pesawat Korda dibom dan kecelakaan yang membuatnya taksiuman dan pergi ke akhirat untuk pertama kalinya. Episode aneh ini membuat Korda sadar bahwa ia takkan hidup abadi sehingga ia ingin memiliki ahli waris.

Dipanggillah putri sulungnya, Liesl (Threapleton), yang ingin mengabdikan hidupnya menjadi biarawati. Liesl diberikan periode masa percobaan tiga bulan untuk melanjutkan bisnis Korda, sementara Korda juga diberikan masa percobaan serupa untuk meyakinkan Liesl melanjutkan bisnisnya. Dimulailah perjalanan mereka bersama ahli seorang ahli entomologi, Bjørn (Cera), untuk meyakinkan para investor, yang sebagian besar masih keluarganya sendiri, untuk berinvestasi dalam perombakan negara Fenisia.

Kemampuan Anderson dalam menampilkan visual elok nan presisi memang tiada duanya. Ia langsung memamerkannya pada kredit pembuka dalam satu tembakan panjang dalam gerak lambat yang jarang ia gunakan. Adegannya hanya menampilkan Korda dirawat oleh beberapa perawat yang lalu lalang di kamar mandi, tetapi benar-benar cantik.

Sejak Asteroid City (2023) yang menceritakan tentang kedatangan alien, Anderson sepertinya mulai mencoba cerita-cerita lebih kompleks. Kembali berkolaborasi bersama penulis skenario Roman Coppola, petualangan pebisnis diselimuti oleh elemen spionase menjadi kompleks. Belum lagi saat menjelaskan tentang The Gap dalam dialog cepat komikal ala Anderson yang mudah membuat kita tersesat dalam maknanya sehingga sulit untuk mengikuti keseruan film.

Bagaimanapun, Anderson selalu menampilkan kisah menyentuh, salah satunya dari koneksi keluarga. Jika ditilik lebih dalam, akan terasa bahwa dalam film ini, sang sineas ingin menampilkan kisah seorang ayah yang ingin menjalin ulang hubungan dengan putrinya yang telah lama pergi. Tema film seperti ini kerap kita temukan saat sang ayah di ambang kematian, walau Korda tidak penyakitan, ia terus diincar pembunuh bayaran.

Dalam perjalanan Korda bersama Liesl, mereka banyak menemui saudara dan teman/lawan bisnisnya. Perlahan pun dikupas tentang kematian ibu Liesl, alasan Korda melepasnya ke gereja, dan dugaan bahwa Korda bukan ayah Liesl, melainkan pamannya, Nubar (Benedict Cumberbatch).

Bukan hanya rekoneksi Korda-Liesl, perjalanan ini pun menjadi pencarian jati diri juga bagi mereka berdua. Korda yang berulang kali hampir mati dan pergi ke akhirat ingin mencoba untuk mempercayai Tuhan, yang telah ia temui berulang kali juga. Sementara bagi Liesl, ini momen baginya memaafkan ayahnya dan menerima takdirnya yang membawanya jauh dari gereja.

Walau kisahnya cukup manis, sulit bagi kita untuk benar-benar hanyut dalam momen emosionalnya. Mungkin perkaranya di momen besarnya, Anderson terlalu komikal. Kita pun jadi kurang merasakan keteguhan Korda dalam menjalani jati diri barunya. Takbisa dimungkiri juga bahwa momen komikal beberapa kali mengundang tawa di film ini, terutama saat Bjørn mengungkap identitas aslinya.

Dalam film ini pun kita jadi merasakan keterbatasan Anderson dalam mengeksplorasi tema yang lebih besar. Ia mungkin terlalu terpaku dengan narasi visualnya. Petualangan besar yang hadir di film ini terasa kecil karena miniaturnya, keinginannya untuk selalu presisi, atau dengan rasio aspek 4:3-nya. Walaupun terasa filmnya yang paling lemah, tetapi ini tetap berada dalam standar Wes Anderson. The Phoenician Scheme (2025) mungkin lebih bisa dinikmati saat kita telah lama tidak mengunjungi film-film Wes Anderson atau dalam penontonan kedua kalinya saat kita lebih menangkap dialog cepatnya.

Infografik Review Film The Phoenician Scheme (2025): Rekoneksi Ayah & Putrinya

Baca juga: Isle of Dogs (2018) – Hasrat Manusia Mengatur Alam

Penulis: Muhammad Reza Fadillah