Power Rangers (2017): Upaya Penataan Ulang Identitas Kepahlawanan

0
251
Power Rangers (2017) dan Upaya Penataan Ulang Identitas Kepahlawanan

Power Rangers adalah nama yang tak asing terutama bagi anak-remaja yang tumbuh di dekade 90-an. Serial superhero ini kembali bertajuk seperti serial pertamanya, yakni Mighty Morphins pada film terbarunya. Dengan begitu, dapat dimunculkan pertanyaan: Apakah Power Rangers 2017 hanya sebuah reka ulang dengan pemanfaatan elemen nostalgik; ataukah ada pesan kepahlawanan lain yang hendak ditampilkan?

Formulasi Drama dan Identitas Remaja
Dalam dua film Power Rangers, baik di tahun 1995 ataupun 2017, tokoh protagonis diwakili lima orang remaja di kota Angel’s Groove. Ketika kelimanya berubah wujud dengan kekuatan supernya, masing-masing memiliki warna kostum tempur yang berbeda. Jason, remaja laki-laki dengan kostum tempur warna merah (ranger merah); Billy, remaja laki-laki dengan kostum tempur biru (ranger biru); Zack, remaja laki-laki dengan kostum tempur hitam (ranger hitam); Trini, remaja perempuan dengan kostum tempur kuning (ranger kuning); dan Kimberly dengan kostum tempur warna merah muda (ranger pink).

Kekuatan super yang mereka miliki didapatkan dari sebuah permata (gem) yang menyimpan kekuatan dari makhluk-makhluk purba seperti Tyranosaurus Rex, Triceratops, Mammoth, Sabertooth, Pteroductyl. Selain mampu berubah wujud, kelimanya juga mempunyai kemampuan untuk menggunakan robot raksaksa (megazord) untuk menghadapi musuh yang mereka kalahkan ketika berubah jadi raksaksa.

Konsep perubahan wujud dan robot raksaksa ini sebenarnya bukan ide asli dari Haim Saban selaku produser Power Rangers. Power Rangers sejatinya versi adaptasi dari serial tokusatsu Jepang yakni Super Sentai. Khusus untuk Mighty Morphin Power Rangers (MMPR), serial super sentai yang diadaptasi adalah Zyu-Ranger.

MMPR menggunakan footage dari tayangan asli Zyu-Ranger yang diproduksi di Jepang untuk dikombinasikan dengan adegan-adegan yang diproduksi di Amerika (Byrnes, 1994). Apabila diselisik, Saban hanya memproduksi adegan ketika tokoh-tokoh Amerikanya ditampilkan; untuk pertempuran dengan kostum tempur dan robot raksaksa, Saban menggunakan footage dari Zyu-Ranger.

Penggabungan dua konten itu adalah hal yang telah dilakukan sepanjang sejarah Power Rangers. Hanya ketika dua film di atas tayang, semua adegan murni diproduksi oleh Saban, tanpa mengambil potongan dari Super Sentai. Apabila MMPR 1995 masih menggunakan kostum yang serupa Zyu-Ranger, maka MMPR 2017 mengikis itu semua. Saban merekonstruksi ulang desain kostum menjadi sama sekali berbeda, begitu pula dengan desain robot raksaksa dan desain monster-monster musuh. Secara visual inilah yang membedakan MMPR 2017 dengan MMPR 1995.

Aspek penokohan dan alur cerita justru lebih melahirkan kebedaan yang signifikan antara kedua film ini. Apabila MMPR 1995 bertitik berat pada pertempuran dengan musuh hampir di keseluruhan film, MMPR 2017 justru menghabiskan 3/4 durasi film untuk melakukan build up dan eksplorasi identitas pada tokoh. Eksplorasi identitas ini hanya mendapat proporsi kecil pada MMPR 1995.

Pada Power Rangers (2017), Jason tetap dimunculkan sebagai sosok pemimpin, seorang remaja Amerika tulen–Kaukasian–yang terlibat kasus kriminal seperti kebut-kebutan dan perusakan fasilitas. Billy dimunculkan sebagai remaja African-American yang gadget freak dan menderita autisme. Zack adalah remaja keturunan Tionghoa yang orangtuanya adalah imigran. Trini adalah remaja keturunan Amerika Latin dengan isu homoseksualitas. Kimberly, ditampilkan sebagai keturunan Amerika tulen yang bermasalah dengan penyebaran foto porno dan membuatnya dimusuhi banyak orang.

Kelimanya bergumul dengan konfliknya masing-masing sampai berhasil mengatasinya. Kemunculan isu multikulturalisme pada MMPR 2017 di satu sisi tak begitu berbeda dengan apa yang ditawarkan MMPR 1995, berfungsi sebagai sugarcoat belaka untuk mempermudah proses komersialisasi dan tak sepenuhnya menjadi alat pedagogik untuk mengajarkan multikulturalisme (Everett, 1996). Eksplorasi identitas karakter dibanding isu multikulutralisme justru menjadi lebih penting. Sekaligus menjadi formulasi baru bagi Power Rangers yang biasanya mengedepankan aspek action dibanding dramatisasi tokoh.

Menjadi Pahlawan Super yang Paripurna 
Pergumulan identitas para Rangers menjadi simbolisasi dari perjuangan manusia menuju keparipurnaan jati diri sebelum menaklukan gangguan dari luar dirinya. Identitas dapat dipahami sebagai perilaku-karakter sosial seorang individu terhadap lingkungan sekitarnya (Cheshmehzangi, 2015). Dalam MMPR 2017, para Rangers harus menuntaskan konflik jati diri masing-masing sebelum memperoleh kemampuan berubah wujud dengan kostum tempurnya.

Setelah berhasil menyelesaikan konflik personal mereka, barulah pertempuran dengan musuh dimulai. Musuh, atau tokoh antagonis film ini adalah Rita Repulsa, seorang alien yang bangkit setelah tertidur jutaan tahun dan hendak menguasai bumi. Power Rangers pada akhirnya berhasil mengalahkan Rita Repulsa dan menyelamatkan bumi. Formula cerita ini sekilas terdengar klise karena seperti yang diekspektasikan di awal, Rangers akan mampu menaklukan musuhnya. Namun, dengan memproporsikan 3/4 durasi film ke dalam pergolakan batiniah dan identitas personal ketimbang pertarungan dengan musuh dari luar, terlihat ada trajectory berbeda yang hendak dituju oleh Power Rangers (2017).

Arah penceritaan kisah superhero yang umumnya diarahkan pada upaya pengorbanan dan perjuangan bagi orang banyak, tak lagi diperakukan sebagai prioritas dalam penceritaan film ini. Pergolakan personal para Rangers berupaya membuat penonton—juga dengan gejolak personalnya—terepresentasikan dalam film ini. Seperti misalnya isu homoseksualitas pada diri Trini, jarang sekali disentuh dalam kisah superhero dengan target penonton anak-remaja; sehingga bisa mewakili sebagian kecil penonton yang memiliki isu serupa.

Lalu isu imigran di Amerika seperti yang dialami Zack, turut merepresentasikan golongan-golongan imigran, atau warga keturunan yang berupaya sintas di Amerika. Apabila konflik jati diri ini hanya dipakai sebagai build up cerita, rasanya terlalu aneh, mengingat proporsi tempur yang ditawarkan juga tak seberapa dan tak terlalu dramatis. Dengan begitu, setidaknya terlihat upaya dekonstruksi yang dilakukan oleh  Dean Israelite sebagai sutradara; bahwa kepahlawanan di era ini bukan lagi penaklukan atas serangan dari luar, tetapi penaklukan atas konflik diri sendiri.

Baca juga: Auteur: Membuat Wes Anderson Menjadi “Wes Anderson”

Penulis : Sergius Derick Adeboi
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah