Komika dalam Sinema: Citra dan Penokohan

0
375
Komika dalam Sinema

Ada dua sudut pandang menarik yang dapat kita temukan dalam film bertokoh utama pelawak tunggal: penokohan komika yang dapat merespon desakan sosial-budaya dengan kelucuan serta penokohan komika yang mempunyai ambisi penuh dalam alam pikirnya.

Keresahan Pangkal Tawa

Melalui Annie Hall (1977), Woody Allen—sineas serbabisa yang meniti karier dari pelawak tunggal—mengaplikasikan ide: komedi datang dari keresahan. Keluhan Alvy Singer—diperankan Woody—rupanya sangat jenaka. Bahkan, sebagian penonton serasa menertawakan hidup Woody Allen: lelucon menanggung nasib seorang Yahudi di Amerika, tak ber-Tuhan, memusingkan makna hidup, dan gagal dalam percintaan.

Timbul pertanyaan setelah menonton Annie Hall: siapa yang sedang kita tonton, Woody Allen atau tokoh fiksi, Alvy? Setidaknya referensi kuat terhadap citra Woody nampak juga pada penokohan Alvy: neurotik dan kocak. Ditambah teknik khas komika: bermonolog ke penonton pada awal film; hal ini menyiratkan Woody sedang mengungkapkan keresahannya.

Selang 40 tahun, rupanya The Big Sick (2017) hadir serupa dengan Annie Hall, kita mendapati rentetan komedi: lika-liku hidup Kumail. Sama seperti Woody, Kumail juga seorang pelawak tunggal—ia memerankan dirinya sendiri. Seorang Pakistan yang abai nilai budayanya: muslim yang meninggalkan ibadah, memilih perempuan Amerika sebagai kekasihnya, dan menolak perjodohan dalam budaya Pakistan.

Dalam The Big Sick, kita tidak akan menemukan banyak terma psikologi dan filsafat abad ke-20 seperti yang dimuat Annie Hall. The Big Sick lebih menawarkan isu kekinian: orientalisme, ISIS, dan isu kehidupan masyarakat muslim di Amerika.

Ada kesamaan premis yang ditemui: penolakan pihak keluarga karena perbedaan agama. Alvy ditolak keluarga Annie karena seorang Yahudi. Hal tersebut diperlihatkan pada adegan saat Alvy tiba-tiba menjelma menjadi Rabbi saat makan bersama keluarga Annie. Adapun Kumail dikucilkan keluarganya karena kerasan menjalin hubungan dengan perempuan Amerika, bahkan ia dikeluarkan dari keluarganya.

Keresahan Woody dan Kumail mengenai cinta memang menjadi fokus cerita. Akan tetapi yang membuat menarik justru bukan kisah cinta yang mereka tawarkan ataupun kerja keras keduanya melawak di depan umum, melainkan isu sosial-budaya yang mereka resahkan. Dari berbagai sentilan terhadap isu tersebut, kita mendapatkan rentetan tawa.

Tentu kita ingat saat Alvy kecil bilang kepada ibunya bahwa ia tak mau mengerjakan PR sekolah sebab dunia akan hancur (kiamat), ”Dunia ini hancur bukan urusanmu, Alvy!” sahut ibunya. Adapun Kumail mengomentari pertanyaan orangtua Emily mengenai isu 9/11. Kumail bilang, ”kami (orang muslim) kehilangan 11 orang terbaik pada kejadian 9/11”.

Ambisi Penuh

Jim Carey membuat gaduh studio Larry King. Ia mengumpat dan menyiramkan air ke wajah narasumber lain pada acara bincang-bincang malam itu. Namun, hal tersebut bukanlah hal nyata, melainkan Jim Carey sedang meng-imper-sonet Andy Kaufman ke dalam film biografi Man on the Moon (1999).

Film komika yang tergolong sebagai film komedi gelap ini berhasil membedah ambisi seorang Andy Kaufman. Ia merupakan seorang seniman yang punya segenap gimik—mencipta tokoh fiksi, menggelar gulat lintas gender, dan pura-pura mati—dalam meraih capaian yang diidamkan.

Selain Man on the Moon, ada pula The King of Comedy (1982) yang mampu menunjukkan vitalitas memperjuangkan ambisi. Berkisah tentang Rupert (Robert De Niro), komika yang ogah ber-komik di tempat hiburan, namun kekeuh harus muncul di acara bincang malam tersohor se-Amerika. Tak tanggung-tanggung, ia culik pembawa acara—sekaligus komedian idolanya—untuk dapat kesempatan tampil semalam dalam televisi.

Rupert dan Andy memutar penilaian umum kita terhadap citra komedian yang bersahaja dan hidup dilingkupi kekocakan. Keduanya membahasakan sebuah realita: beratnya menjadi penghibur. Keduanya mesti memeras otak serta tubuh dalam menghadapi beratnya industri hiburan dan mencari jalan alternatif untuk sukses.

Jika sudah menonton filmnya, kita tentu ingat saat Rupert mesti menunggu di lobi kantor berhari-hari agar rekaman lawaknya diterima. Bahkan, ia kemudian mengatur rencana menculik pembawa acara bincang-malam agar diizinkan tampil di depan publik. Andy Kaufman pun sama gilanya, ia mengatur rencana tipuannya kepada publik: ia meninggal karena sakit.

Karena gelapnya komedi pada film tersebut, kita tidak banyak menertawakan Rupert dan Andy, bahkan dibuat kesal. Namun, rasa simpatik kita akan muncul karena kerja keras keduanya dalam meniti karier. Walaupun, cara yang ditempuh keduanya tidak umum dan nyeleneh. Pembahasan latar sosial-budaya tidak banyak termuat, melainkan perkembangan sisi psikologis kedua tokoh yang menarik untuk diikuti.

Berangkat dari empat film di atas, setidaknya ada dua sundut pandang menarik yang kemudian dapat kita perluas: penokohan komika dapat merespon desakan sosial-budaya dengan lucu serta penokohan komika yang mempunyai ambisi penuh dalam alam pikirnya.

Baca juga: Baby Driver (2017): Perpaduan Asik Aksi dan Musik

Penulis       : Anggino Tambunan
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah