Review Film Resident Evil (2026): Taksetia, tetapi Justru Serupa

0
3
Review Film Resident Evil (2026): Taksetia, tetapi Justru Serupa

Zach Cregger (Weapons, 2025) melupakan cerita saga film Resident Evil terdahulu dan taksetia juga dengan cerita dari gim orisinalnya. Di antara ketidaksetiaan dalam segi cerita tersebut, film terbaru Resident Evil (2026) ini justru sangat setia kepada mekanisme gimnya. Film ini mengemulasi kembali kesenangan kita dalam bermain gimnya.

Saat Paul W.S. Anderson mengadaptasi Resident Evil (2002) untuk pertama kalinya, ia takmenggunakan karakter-karakter dari gim untuk menjadi protagonisnya. Malah, ia menciptakan karakter baru bernama Alice dan menunjuk Milla Jovovich sebagai protagonis utamanya. Reaksi awal para penggemar sebenarnya cukup terbagi, tetapi mereka senang dengan beberapa komponen ceritanya yang setia dari gimnya. Bagaimanapun, tanggapan dari kritikus sangat negatif untuk film ini.

Seiring waktu berjalan, berbagai sekuel film Resident Evil terus bermunculan dan kualitasnya “gitu-gitu aja.” Di film keduanya, Resident Evil: Apocalypse (2004), muncul protagonis dari gimnya, yakni Jill Valentine, begitu pula Claire Redfield di Resident Evil: Extinction (2007). Hingga film keenamnya sebenarnya sukses secara finansial, tetapi terus bobrok dalam segi kualitas. Pada tahun 2021, dirilis daur ulang karya Johannes Roberts berujudul Resident Evil: Welcome to Raccoon City. Namun, film ini takhanya dapat respon negatif dari kritikus, tetapi buruk juga dari segi finansial.

Usai kegagalan dari film tersebut dan juga serial Netflix-nya pada 2022, Sony dan Constantin Film langsung merencanakan daur ulang lagi untuk Resident Evil. Cregger ditunjuk untuk menyutradarai dan menulis film ini bersama Shay Hatten (John Wick: Chapter 4, Army of the Dead). Cregger pun menegaskan film ini takkan menggunakan protagonis terkenal dari gimnya, tetapi ingin menghidupkan suasana dari gim-gim awalnya seperti Resident Evil 2 (1998), Resident Evil 3: Nemesis (1999), dan Resident Evil (2005).

Keberanian Cregger

Mungkin Cregger ada benarnya saat ia mengatakan, “saya takkan menceritakan kisah Leon, sebab kisah Leon sudah diceritakan dalam gim.” Mungkin kita tidak perlu menceritakan ulang kisah dalam gim yang sudah lengkap tanpa membawa hal baru yang menarik hanya untuk membuat kaya studio besar Hollywood. Di Resident Evil (2026) ini, Cregger tanpa embel-embel sub-judul dan menceritakan tentang NPC (Non-Playable Character, karakter dalam gim yang takbisa kita mainkan).

Premis awalnya cukup simpel, ia menciptakan seorang kurir medis bernama Bryan (Austin Abrams) yang mesti mengantar paket penting ke Raccoon City. Dari awal Bryan masuk rumah sakit, kita sudah merasakan insignifikansi protagonis utama kita saat ia berkali-kali diabaikan oleh petugas rumah sakit bak NPC dalam gim. Lalu, saat diminta mengantarkan paket medis lagi ke Raccoon City, ia diminta melengkapi beberapa peralatan penting, seperti menjalani misi dalam gim.

Dalam film ini, Bryan benar-benar seperti “fuck around and find out”. Ia harus mencari tahu banyak hal, mulai dari kekacauan Raccoon City yang dia hadapi, hingga cara menggunakan senjata. Hal terakhir sangat menarik, sebab ada beberapa detail yang sangat menghidupkan kenyataan film ini. Pertama, karakter utama harus belajar menggunakan senjata, mulai dari melepaskan pengaman hingga membidik dengan baik. Bahkan, ia pun harus menjarah ala gim untuk mendapatkan peluru dan perlengkapan lainnya serta terus meningkatkan senjatanya.

Dalam segi cerita dan plot mungkin film ini takterlalu tebal. Namun, Cregger banyak memberikan elemen-elemen kejutan yang menarik dalam setiap tingkatan yang dihadapi oleh protagonisnya. Dimulai dari menabrak orang asing aneh di tengah jalan bersalju, menciptakan perasaan kompleks saat menemukan anak kecil problematik, hingga bertemu monster yang wujudnya di luar kepala. Di antara semua elemen ini, paling menarik mungkin saat sang protagonis berjalan di tengah kota dan para zombi lompat dari atas apartemen. 

Kreativitas-kreativitas di setiap sudut dan tingkatan seperti inilah yang justru menghidupkan sebuah gim-gim hebat bak Resident Evil. Pengalaman imersif ini jarang atau bahkan belum pernah kita temui di film-film adaptasi gim seperti saga Resident Evil sebelumnya atau bahkan serial The Last of Us yang terbaru dan dipuji kritikus dari segi ceritanya. Jika sudah seimersif ini, apakah kita masih peduli jika Leon Kennedy atau Chris Redfield hadir di tengah cerita?

Perlukah Kisah yang Sama Diceritakan Berulang Kali?

Hal yang patut diingat bahwa gim Resident Evil sendiri pun terus berkali-kali memperbarui karakter utamanya. Pertanyaan lebih besarnya lagi, perlukah kita menerima kisah yang sama berulang kali, baik dari gim yang diadaptasi ke film, novel diadaptasi ke film, maupun dari film daur ulang untuk membawa pengalaman visual lebih modern. Jawabannya bisa beragam, saya sendiri sebagai pencinta gim Red Dead Redemption 2, saya masih ingin melihat kisah Arthur Morgan dibawa menjadi lebih nyata dalam film atau serial.

Walaupun bicara demikian, jelas sebagai penggemar suatu media, kita takingin media favorit kita dirusak dengan karya medioker. Inilah yang dijawab Cregger dalam film Resident Evil karyanya, ia menghadirkan kualitas. Dalam segi ini, rasanya kita takterlalu peduli jika ceritanya takberasal dari gim, tetapi masih mengandung unsur-unsur yang menciptakan gim tersebut.

Memang, di bagian akhir Resident Evil (2026) ini cukup membagi kita sebab sang karakter utama takmendapatkan akhiran baik seorang pahlawan. Cregger pun takterlalu memusingkan akhiran emosional dan tetap menjaga keanehan dalam film ini. Progresi dan nuansa ceritanya mungkin taksemuanya bisa menerima, tetapi kita takbisa memungkiri bahwa film ini luar biasa kreatif dan imersif bak gim yang dinyatakan.

Infografik Review Film Resident Evil (2026): Taksetia, tetapi Justru Serupa oleh ulasinema

Baca juga: Review Film Weapons (2025) – Fragmentasi Misteri