Review Film Hope (2026): Penuh Laga, Tanpa Arah

0
3
Review Film Hope (2026): Penuh Laga, Tanpa Arah

Na Hong-jin (The Wailing, 2016) membawa karya blockbuster-nya ke Festival Film Cannes, yakni Hope (2026). Filmnya membawa nuansa yang segar ke dunia film aksi/thriller fiksi-sains tentang alien yang datang ke bumi. 156 menit disuguhkan penuh dengan aksi supertegang dan seru, tetapi plotnya sangat tipis.

Sepuluh tahun setelah mahakarya horornya, The Wailing, Na kembali menulis film berlatar di pedesaan, saat seorang polisi menginvestigasi kematian aneh dari desanya yang diserang makhluk asing. Kini dalam Hope, Ko Beum-seok (Hwang Jung-min), kepala polisi di Pelabuhan Hope bersama sepupu jauhnya, Ko Sung-ki (Zo In-sung) menginvestigasi kematian brutal seekor sapi di tengah jalan pedesaan. Bersama pasukan pemburu yang dibawa Sung-ki, mereka awalnya mengira kematiannya disebabkan oleh hewan buas.

Bagaimanapun, setelah menginvestigasi lebih lanjut, mereka sampai di peternakan sapi yang porak poranda. Beum-seok yang kembali ke kota pun mendapatkan sebuah bangunan yang hancur, seperti serangan sebuah monster. Perlahan, kehancuran demi kehancuran dan teriakan demi teriakan hadir. Investigasi terus berlanjut dengan ketegangan dan rasa penasaran hebat, tetapi sampai satu jam kita takbenar-benar melihat wujud monsternya.

Baru setelah berbagai adegan lari-larian, tembak-tembakan, dan hancur-hancuran, kita melihat sesosok monster. Sosoknya sebenarnya menyerupai manusia, tetapi kulitnya sangat berbeda dan tingginya mencapai tiga meter dengan kekuatan luar biasa. Usai deretan kengerian Beum-seok di kota, kita baru bisa benar-benar mengetahui bahwa sosok tersebut merupakan alien setelah Sung-ki dan teman-temannya menemukan kapal aneh yang terdampar di tengah hutan.

Na memang sangat berhati-hati dalam mengungkap wujud dari sosok monster yang memporak-porandakan kota. Selama sejam kita dibuat penasaran, tetapi tidak menyebalkan sebab aksi demi aksi penuh ketegangan disajikan dengan dahsyat. Sayangnya, saat pengungkapan monsternya kita melihat animasi komputer yang buruk. Sosoknya memang mengerikan, tetapi efek visualnya tidak terkoneksi dengan baik dengan latar belakangnya sehingga sulit bagi kita untuk mengabaikannya.

Selain aksi tegang, Na juga menyelipkan lawakan-lawakan jenaka yang memberikan corak unik dalam filmnya. Beberapa kali karakter-karakter utama melakukan adegan lucu saat melawan keberaniannya. Puncaknya ada pada cerita Hae-sul (Im Hyun-sik) kepada Im Sung-ae (Jung Ho-yeon) saat ia mendapati tiga alien lainnya saat buang air besar di tengah hutan. Hanya saja, beberapa lawakannya terasa repetitif dan terlalu panjang.

Pertama kita melihat repetisi candaan ini saat Bum-seok bersama Nak-yeon (Lee Sang-hee) yang berkali-kali ketakutan masuk ke tempat yang dihancurkan monster. Lalu, adegan kejar-kejaran di bagian klimaks saat Sung-ki ketakutan melompat dari kuda ke mobil polisi pun terasa lama. Faktanya, menjelang sepertiga akhir sangat terasa repetisi yang takberpengaruh banyak pada perkembangan cerita. Saat Sung-ki melawan alien beringas, Ma’vveyo (Michael Fassbender) pun terasa berulang. Apalagi, setelah dilempar berkali-kali, Sung-ki tetap bisa sembuh yang sebenarnya kita kira sebagai plot armor terhadap karakter utama. Kenyataannya, nasib Sung-ki berakhir nahas.

Akhiran film pun terasa terdiskoneksi dari sekitar dua jam lebih yang disuguhkan cerita. Para alien yang ternyata makhluk cerdas hanya digambarkan sebagai penghancur barbar, begitu pula dengan manusianya. Memang, ada adegan kecil saat Beum-seok merasakan empati terhadap sosok alien yang menangis saat ia kejar, tetapi dari situ tidak dibangun plot apa pun.

Terasa sekali bahwa Na Hong-jin ingin menyusun kerangka untuk cerita yang lebih besar di sekuelnya. Namun, setelah dua setengah jam, kita takbenar-benar disuguhkan plot atau pengungkapan apa pun. Rasanya, film Hope (2026) akan terasa jauh lebih baik jika Na mendapatkan penasehat skenario dan bujet lebih untuk memperbaiki efek visualnya. Semua kekurangan ini memang mengurangi kualitas film, tetapi kita tidak bisa melupakan keseruan luar biasa dan beberapa tawa yang dihadirkan.

Infografik Review Film Hope (2026): Penuh Laga, Tanpa Arah oleh ulasinema

Baca juga: Review Film Nope (2022) – Peele Menahan-nahan