Masuk di barisan film lebaran merupakan keputusan berani dari Tunggu Aku Sukses Nanti mengingat ketatnya persaingan pada 2026 ini. Pasalnya, ini bukan film komedi keras atau horor yang kerap laku, atau pun dengan sutradara kondang yang bahkan aktor utamanya tergolong baru menjadi pemeran utama. Keputusan berani ini ditebus dengan kisah yang relevan dan emosional.
Film ini mengisahkan tentang Arga (Ardit Erwandha), anak sulung yang takkunjung beruntung mendapatkan kerja. Belum lagi, ia ditekan dengan tante-tantenya yang kerap cerewet dan mengagungkan kesuksesan anak-anaknya yang juga sepupu Arga. Hal ini pun membuat Arga geram dan menyimpan dendam terhadap saudara-saudaranya tersebut.
Mengangkat Erwandha sebagai karakter utama merupakan keputusan berani, sebab sang komedian beberapa tahun terakhir merintis karier di dunia perfilman ini baru kali ini mendapatkan peranan utama. Belum lagi, skenario yang disodorkan oleh Evelyn Afnilia dan Naya Anindita yang sekaligus jadi sutradara ini sangat berpusat terhadap kelihaian akting Erwandha. Secara mengejutkan, Erwandha tampil hebat dalam film ini.
Kita mungkin sudah terbiasa melihat peranan Erwandha yang kerap menjadi orang yang lugu dan konyol dalam film-film ia sebelumnya serta dalam klip-klip komedinya di media sosial. Hanya saja, film ini banyak menuntut lebih dalam sisi jangkauan emosi Erwandha. Di sini ia dituntut juga untuk mengalami perjalanan karakter dari yang terlihat polos dan pemalas hingga angkuh, pendendam hingga pemarah.
Semuanya dijalankan dengan gradasi perubahan yang baik dan menawan dari Erwandha. Dari peranannya di sini, sangat memungkinkan jika ini menjadi titik perubahan besar dalam kariernya ke depan. Hal yang pasti, ia siap memerankan peranan-peranan yang lebih emosional ke depannya.
Dalam segi cerita dan pesan filmnya, kurang lebih sebenarnya mirip dengan Home Sweet Loan (2024) atau Satu Kakak Tujuh Ponakan (2025). Kisahnya berpusat kepada seorang anak yang terjebak di dalam generasi roti lapis sehingga ia harus bekerja keras mengangkat ekonomi keluarganya. Bedanya dalam film ini mungkin Arga mendapatkan tekanan berbeda yang mengharuskan ia bersaing dengan kesuksesan sepupunya dan ledakannya terletak di dendamnya karena ia terus dikritik tante-tantenya dan keluarganya yang kurang beruntung kerap dijadikan “babu” oleh saudara-saudanya yang lebih beruntung dalam segi ekonomi.
Perbedaan dalam perjalanan karakter ini membuat film ini sedikit lebih menarik. Apalagi, Erwandha berhasil memerankannya dengan baik. Sayangnya, dibanding kedua film pendahulunya mengenai pejuang modern di kota metropolitan, film ini punya masalah penuansaan dan penyuntingan yang cukup fatal. Dalam pengadeganannya, emosinya kerap takdibiarkan berkembang dulu dan adegannya sudah berganti. Hal ini sangat terasa di adegan puncak emosi Arga di kamar setelah marah kepada tante-tantenya.
Pengulangan Adegan: Penting atau Tidak?
Film ini pun terasa agak terburu-buru, padahal skenarionya bisa dibilang lebih padat dibanding HSL atau SaKaTuPo. Padahal, durasi filmnya bisa diperpanjang sedikit untuk menciptakan ruang lebih untuk karakter-karakternya berlakon dan penonton untuk menyerap adegan-adegannya. Alih-alih memberi ruang emosional tersebut, sutradara Anindita malah lebih fokus untuk mengulang adegan-adegan sebelumnya beberapa kali untuk menyegarkan kembali ingatan penonton. Saya sendiri kurang suka dengan cara seperti ini karena terkesan repetitif dan takdiperlukan, sebab takmemberikan wawasan dan sudut pandang baru.
Cara seperti ini sebenarnya telah dilakukan Anindita pada filmnya sebelumnya, yaitu Komang (2025). Mungkin ini gaya penyutradaraannya yang buat saya cocok-cocokan secara subjektif saja. Hal ini pun mengingatkan saya terhadap pernyataan Matt Damon yang mengungkapkan bahwa Netflix meminta banyak pengulangan plot dalam film The Rip (2026). Hal ini disebabkan dengan rentang perhatian penonton film modern yang rendah karena banyaknya distraksi. Mungkin hal seperti ini bakal lumrah di film-film masa mendatang.
Keseluruhan, Tunggu Aku Sukses Nanti menyodorkan kisah yang relevan. Akting Erwandha pun menjadi senjata utama yang efektif yang bisa mengundang baik tawa maupun emosi. Sayangnya, film ini masih terjebak di nuansa normatif dan konformis tanpa adanya gebrakan berarti. Setidaknya, di libur lebaran 2026 ini, kita takterjebak dengan deretan film horor yang takberarti.

Baca juga: Home Sweet Loan (2024) – Relevan dan Dekat


















