House of the Dragon memasuki musim ketiga yang makin meriah. Makin banyaknya pertarungan naga dan makin banyaknya karakter-karakter besar yang menghadapi ajalnya. Musim ini mungkin secara kualitas mendekati serial utamanya, Game of Thrones walau memiliki kekurangan mendasar.
Sejak awal House of the Dragon ditayangkan, hal utama yang membuat kita menanti-nanti ialah pertarungan antarnaga. Musim pertama takbanyak menyediakannya saat cerita fokus terhadap raja Viserys I Targaryen (Paddy Considine) dan perkembangan karakter-karakter utama lainnya seperti Rhaenyra (Emma D’Arcy), Daemon (Matt Smith), dan Alicent Hightower (Olivia Cooke). Walaupun kita merasakan sedikit permainan takhta ala Game of Thrones, sulit untuk menyukai karakter-karakternya yang hanya responsif terhadap plot alih-alih merancang plot itu sendiri.
Pertarungan antarnaga pun hadir pada musim kedua. Penonton lumayan terhibur dengan kegarangan Vhagar, naga yang kini ditunggangi Aemond (Ewan Mitchell) menghabisi Meleys dan penunggangnya yang sekaligus tantenya, Rhaenys (Eve Best). Ia bahkan hampir membunuh kakaknya juga, Aegon II (Tom Glynn-Carney). Pergerakan beringas Aemond yang takterduga pun menghibur kita, membuatnya menjadi pemain takhta yang paling menarik. Pada musim kedua ini pun HBO menggunakan pemasaran yang memerangkan Tim Hitam yang dipimpin oleh Rhaenyra/Daemon dan Tim Hijau yang dipimpin oleh Alicent/Aegon/Aemond.
Sayangnya, perebutan takhta ini bukanlah permainan politik menarik. Tiap karakter kerap mendapatkan nasib sial dan jalan cerita rasanya fokus untuk menambal kesialan demi kesialan itu. Peperangan keduanya memang terasa intens secara emosional, tetapi takmampu banyak menyuguhkan peperangan skema politik yang menarik bak Game of Thrones. Lagi-lagi kita makin sulit untuk memfavoritkan karakter-karakternya.
Perjalanan Rhaenyra sebagai matriarki yang harus melawan patriarki dan segala polemik politik seksisnya membuat kita teringat terhadap Daenerys. Rhaenyra mungkin tidak sekharismatik Daenerys, tetapi sisi sensitif dan emosionalnya membuat kita mudah untuk menyukainya. Bagaimanapun, Rhaenyra bukan seorang pemain politik andal. Saat ia memiliki kekuatan, berkali-kali plot cerita memberikannya takdir buruk sehingga hatinya perlahan membusuk. Perjalanan karakternya di musim ketiga pun membuat kita menjauh dari kata empati terhadapnya.
Di tengah plot temaram yang diberikan penulis terhadap Rhaenyra, D’Arcy tampil fantastis. Penampilan ini menjadi yang terkuat dalam tiga musim di sini. Pada episode ketiga, ia dengan lihainya menggabungkan emosi yang membuncah dan mencoba untuk tegar. Transisinya dari sosok yang emosional dan penyayang menjadi dingin dan kejam dengan apik dipentaskan D’Arcy. Namun, dalam sisi penulisan, perubahan karakternya takterlalu menjadi poin yang menarik.
Daemon pun pada musim ketiga ini takterlalu memberikan permainan takhta yang atraktif. Pada musim ini, ia murni menjadi petarung dan menghadirkan beberapa aksi yang seru. Setidaknya, ini hal yang kita harapkan dari serial House of the Dragon dan beberapa peperangan disajikan dengan hebat. Episode pertama langsung meledak dengan meletusnya peperangan The Battle of the Gullet yang mematikan satu karakter besar. Lalu, pada episode kedua, kita melihat jalannya skema yang mulus, sesuatu yang sangat mendekati Game of Thrones saat Rhaenyra menduduki King’s Landing. Episode ketiga, walaupun penyutradaraannya berbeda dengan ciri serial ini, tetapi memberikan kesulitan dan kegelisahan Rhaenyra dalam menjadi raja.
Lalu, datanglah episode keempat, kelima, dan keenam yang lemah dalam hal penulisan. Di sini masuk pemain baru dalam diri Ormund Hightower (James Norton) yang seakan siap memberikan skema menarik untuk mengobrak-abrik hegemoni Tim Hitam. Walaupun sempat memberikan kesulitan, Ormund takterasa cerdas seperti Baelish di GoT ataupun penuh pengalaman dan bijak bak Tywin Lannister. Karakternya sangat oportunis dan alih-alih ingin merebut takhta, ia seperti murni penjahat yang memang ditulis menjadi antagonis.
Paling mengecewakan pada musim ini mungkin perjalanan dari Alicent dan Aemond yang hampir takmemberikan warna dalam perebutan takhta di Westeros ini. Setiap skemanya rasanya hanya diterpa kesialan alih-alih dilawan dengan skema yang sepadan atau lebih kuat. Berbicara tentang kesialan, mungkin kematian beberapa karakter pada musim ini murni kesialan. Disebabkan kita yang takterlalu berempati dengan karakter-karakter yang mati di sini, saat mereka gugur pun terasa hampa.
Mungkin memang inilah poin utama dari cerita Dance of the Dragons: para Targaryen yang haus akan kekuasaan dan banyak melakukan penyimpangan pun akhirnya dikutuk dan dipertarungkan satu sama lain. Mungkin, menyelami serial House of the Dragon dengan ekspektasi yang serupa dengan Game of Thrones merupakan kekeliruan. Mungkin, kita hanya perlu mengharapkan peperangan yang lebih besar dan pertarungan antarnaga, sebuah proposisi menarik jika ini film aksi. Namun, dalam serial yang panjang, kemunculan pertarungan yang lebih sporadis membutuhkan plot menarik yang sayangnya takterlalu banyak diberikan pada serial ini secara keseluruhan.
Pada akhirnya, kita pun harus memisahkan House of the Dragon dan Game of Thrones sebagai dua entitas yang berbeda. Dengan cara seperti itu, House of the Dragon akan lebih nikmat disaksikan tanpa ekspektasi berlebih. Cerita yang disuguhkan di serial ini cukup solid walau di beberapa bagian terasa rumpang karena penulis mencoba memperpanjang dan mengisi kekosongan dari materi aslinya.

Baca juga: Review House of the Dragon Season 2 (2024)


















