Review Kultur Emas Biru Episode 3: Denim dan Nusantara

0
286

Pakaian merupakan teks kebudayaan yang bisa dimaknai. Banyak makna yang termuat di dalamnya, termasuk denim. Hal ini yang coba diartikulasikan SUDUT dalam dokumenter Kultur Emas Biru.

Bagian “Untuk Nusantara” menjadi penutup seri dokumenter Kultur Emas Biru oleh SUDUT. Dalam berkisah, tersedia tiga episode yang dapat disaksikan di akun You Tube Seamless Creative. Dokumenter garapan Rully Adriyanto ini dipecah menjadi tiga episode, yakni “Asa”, “Karsa”, dan “Untuk Nusantara”.

Dalam menangkap fenomena denim, dokumenter ini mendatangkan lima narasumber: Direz dan Panca Novianto (Darahkubiru), Ahmad Hadiwijaya (Old Blue Co.), Bhisma Diandra (Denim Aficionado), Randhi Pratama (Aye & Co.), dan Bernhard Suryaningrat (Never Too Lavish)

Dalam episode ini terungkap cerita unik saat RI-1, Jokowi, mengenakan jaket denim bermotif peta Indonesia di salah satu kegiatannya. Momen ini membuat denim “meng-Indonesia” sampai-sampai beberapa orang meminta denim serupa. Hal ini yang dituturkan Bernhard Suryaningrat (Never Too Lavish).

Fenomena ini membuat semua tertuju dengan bahan biru ini. Terlepas soal sudut pandang politik, pemakaian denim oleh kepala negara bagai magnet. Indonesia makin “membiru”.

Episode ketiga ini coba menangkap fenomena lebih luas. Proses “mendenimkan” Indonesia bukanlah hal yang organik, melainkan ada upaya panjang dan konsistensi dari para penggiat di dalamnya. Seperti sepotong lirik lagu Efek Rumah Kaca, “Pasar Bisa Diciptakan”, denim mulai populer di Nusantara.

Keseluruhan, seri dokumenter Kultur Emas Biru menjadi karya yang menarik ditilik. Tawaran cerita yang jujur menjadi daya pikat. Proses penggalian pengalaman dan pengetahuan narasumber tidaklah njelimet

Kisah si biru menjadi semakin menarik sebab dikemas dengan visual yang menarik. Apabila ada hal yang perlu ditambahkan, penggalian cerita dari para pengguna atau penggemar denim merupakan sesuatu yang dapat melengkapi. Semakin banyak sudut, semakin kaya makna yang dapat dipotret.

Penulis: Redaksi
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah