Review Ted Lasso Season 3: Akhiran yang Naik-turun

0
274
Review Ted Lasso Season 3: Akhiran yang Naik-turun

Petualangan eks-pelatih “sepak bola” Amerika asal Kansas mencicipi “sepak bola” asosiasi di Inggris pun berakhir. Usai membawa timnya ke Liga Primer Inggris pada musim 2, kini Ted Lasso season 3 mengarungi babak baru di sepak bola level teratas. Kisahnya pun dibuat jauh lebih naik-turun dan lebih berisi dibandingkan musim-musim sebelumnya.

Jika melihat dua musim pertama Ted Lasso, kita diberikan dua sajian yang berbeda. Musim pertama banyak pengenalan: baik itu karakter-karakternya, terutama Ted Lasso (Jason Sudeikis), maupun perkenalan kepada lingkungan klub asosiasi sepak bola, yang sepertinya diarahkan khusus kepada orang Amerika yang belum terlalu familiar dengan olahraga ini. Dengan pondasi latar belakang kepindahan Lasso yang kelam, nuansa serialnya pada musim pertama berbanding terbalik: begitu hangat, begitu menyenangkan, walau banyak kesulitan yang dihadapi.

Lanjut ke musim kedua, serial ini ternyata membawa kita ke arah yang takdisangka: lebih gelap dan lebih depresif. Kesulitan-kesulitan berdatangan, terutama isu tentang kesehatan mental seorang paruh baya. Musim ini mungkin taksemenyenangkan musim pertamanya, tetapi memberikan kita pelajaran yang begitu penting. Lasso, sosok yang hampir sempurna di musim pertama, membumi dengan serangan paniknya dan membuat karakternya sangat manusiawi.

Lalu, apa yang ingin diberikan di Ted Lasso season 3?

Melihat musim-musim Ted Lasso, saya jadi ingat dengan lima tahap kesedihan: penyangkalan, kemarahan, tawar-menawar, depresi, dan penerimaan. Lasso yang dalam proses perceraian dengan istrinya pada musim pertama dalam tahap penyangkalan. Lalu, datanglah musim kedua yang hadir akan kemarahan dan tawar-menawar. Pada musim ketiga ini, jawabannya ialah depresi dan penerimaan.

Kondisi depresi menerpa ketika Lasso gagal menemukan tujuan: apa yang ia lakukan di Inggris, jauh dari keluarganya, dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya bersama AFC Richmond. Ia kesulitan mengatasinya dan musim ketiga ini pun menyodorkan perjalanannya menuju pemulihan diri. Pada akhiran musim, kita pun diberikan konklusi sahih akan masa depannya. Tiga musim yang memberikan perjalanan hangat, indah, menyenangkan, dan penuh pelajaran.

Patut diingat nilai-nilai di atas hadir dalam dua musim pertama dan musim ketiga rasanya mengakumulasi semuanya. Walhasil, musim ketiga ini terasa sangat penuh, sangat menumpuk, dan terasa berusaha keras untuk menggurui kita. Banyak nilai-nilai sosial modern yang dimasukkan dan penyelesaiannya terlihat non-organik, serta terasa terburu-buru.

Perlu diingat, serial Ted Lasso takhanya fokus kepada sosok Ted Lasso saja. Banyak sekali perjalanan-perjalanan karakter-karakter sampingnya yang begitu menarik. Dalam musim ketiga ini pun beberapa karakter utamanya diberikan porsinya masing-masing: dengan episode yang lebih banyak dan durasi per episode yang lebih panjang.

Hal di atas dapat dilihat dari perjalanan Rebecca (Hannah Waddingham) yang berhasil melupakan mantan suaminya secara utuh, kisah Nate (Nick Mohammed) yang harus cari jati dirinya lagi, hingga Roy (Brett Goldstein) yang bingung dengan identitasnya. Karakter-karakternya diberikan akhiran yang baik dan selaras dengan perjalanan mereka sejauh ini.

Salah satu karakter yang mendapatkan perjalanan terbaik ialah Jamie Tartt (Phil Dunster). Ia diperkenalkan dalam serial ini sebagai pribadi yang sombong dan arogan. Namun, seiring dengan kesulitan yang ia hadapi, sosoknya berkembang jauh. Kita melihat sisi Jamie yang jauh berbeda dari sosoknya pada awal serial. Selain Lasso, ia merupakan karakter terbaik di serial ini.

Sisi koin yang terbalik terdapat pada Keeley (Juno Temple) di musim ini. Semenjak memulai perusahaan humasnya sendiri, kelanjutan kisahnya dibuat terlalu penuh dan dramatis, dan mendekati fiktif. Karakternya terlalu terombang-ambing pada musim ini seakan perjalanan beratnya dalam dua musim sebelumnya takberarti. Bagaimanapun, ia diberikan akhiran yang cukup manis, sama seperti protagonis-protagonis lainnya.

Porsi ajaran nilai sosial yang banyak dan porsi perjalanan karakter yang segudang, satu kata untuk Ted Lasso musim ketiga ialah “melimpah”. Ada baiknya: banyak pelajaran yang kita dapatkan. Ada juga buruknya: fokusnya ke mana-mana dan terasa teralu menggurui. Namun, melihat musim tambahan dari kisah yang begitu menyenangkan untuk disaksikan dengan kualitas yang takmerosot jauh saja rasanya sudah lebih dari cukup.

Infografik Review Ted Lasso Season 3: Akhiran yang Naik-turun oleh ulasinema

Baca juga: Review Stranger Things Season 3

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan