Posesif (2017): Teror Mencekam dalam Sebuah Hubungan

0
1013
Posesif (2017): Teror Mencekam dalam Sebuah Hubungan

Jika dilihat sekilas dari posternya, yang muncul di benak kita mungkin, “Ah, paling ini film ceritanya kaya FTV yang isinya cinta-cinta-an”. Namun, sayangnya dugaan tersebut akan terpatahkan pada detik pertama film Posesif (2017) dimulai. Hal itu disebabkan oleh latar suasana yang mencekam di dalam adegan pertama, yakni saat Lala (Putri Marino) sedang berlari namun ia merasa ada seseorang yang sedang mengikutinya. Hal ini seolah mengindikasikan bahwa Edwin selaku sutradara ingin menyampaikan bahwa konflik dalam film ini akan membawa perasaan penonton untuk ikut merasa tercekam seperti yang dialami Lala.

Tanggal 26 Oktober 2017, Palari Film merilis film berjudul Posesif (2017). Film ini menceritakan polemik keposesifan dalam sebuah hubungan percintaan: antara dua remaja SMA—Lala dan Yudhis— yang sama-sama baru pertama kali jatuh cinta. Premis yang disampaikan sutradara dalam film ini cukup sederhana, yakni “belajar untuk tidak takut kehilangan,” ujar Edwin dalam kanal Youtube Palari Film.

Lala (Putri Marino) merupakan seorang atlet loncat indah dan Yudhis (Adipati Dolken) merupakan anak baru di sekolahnya. Mereka berdua bertemu, mengenal satu sama lain, dan akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Proses pendekatan antara Yudhis dan Lala ditampilkan secara singkat oleh Edwin karena ia ingin fokus pada inti permasalahan: ke-posesif-an seorang Yudhis yang berdampak pada orang-orang di sekitarnya.

Dalam Posesif (2017), keposesifan Yudhis terhadap Lala dan latar belakang yang membuatnya menjadi seorang yang demikian digambarkan secara implisit. Misalnya, seperti Lala harus mengikuti kemauan Yudhis dengan tidak terlalu dekat dengan sahabat laki-lakinya. Karena harus selalu ada untuk Yudhis, Lala keluar dari tim loncat indah. Ia juga membatalkan niatnya kuliah di UI karena ia harus mengikuti Yudhis yang ingin kuliah di ITB. Yudhis akan melakukan berbagai cara agar keinginannya terwujud bahkan dengan cara yang berbahaya sekalipun.

Penyebab Yudhis menjadi pacar yang posesif pun dijelaskan secara implisit, yakni karena ia tidak ingin kehilangan Lala. Perilakunya terhadap Lala juga dipengaruhi oleh perlakuan kasar ibunya kepadanya. Ibunya tidak ingin kehilangan anak semata wayangnya seperti mantan suaminya yang meninggalkannya dengan Yudhis. Selain itu, dominasi Yudhis dalam hubungannya dengan Lala terlihat jelas dari aksinya yang nekad. Ia akan melakukan apa saja agar Lala mengikuti kemauannya dengan cara kejam sekalipun.

Ancaman sifat posesif
Meskipun Yudhis yang paling banyak ditampilkan keposesifannya, ternyata yang posesif bukanlah ia seorang, yakni ibunya dan ayah Lala. Keposesifan dari ketiga tokoh ini sangatlah berbahaya bagi orang sekitar dan berdampak pada lingkungan sosialnya. Jika keposesifan ini tidak dapat dikendalikan dengan baik, kehidupan orang sekitar akan terancam.

Keposesifan Yudhis terhadap Lala tidak hanya berdampak pada hidup Lala, namun juga berdampak pada nyawa teman laki-lakinya yang bernama Rino. Rasa kepemilikan yang tinggi terhadap Lala menumbuhkan hasrat kecemburuan terhadap Rino sehingga ia nekad untuk menyingkirkan Rino dari hadapan Lala.

Selain Yudhis, ibu kandungnya—diperankan Cut Mini—juga posesif terhadap anak semata wayangnya. Ia tidak ingin Yudhis meninggalkannya sebab mantan suaminya telah meninggalkannya. Misalnya, saat Yudhis ingin ke Bandung untuk meneruskan pendidikannya di ITB, ibunya rela menjual rumahnya untuk tinggal bersama Yudhis di Bandung.

Keposesifan ibunya juga terlihat dari perlakuannya terhadap Yudhis. Ia bahkan tidak segan untuk melakukan kekerasan kepada anaknya jika anaknya membangkang. Hal ini berdampak pada psikologi Yudhis serta berpengaruh pada perilaku Yudhis kepada Lala. Jadi dapat dikatakan bahwa Yudhis dan ibunya sama-sama berperilaku posesif namun Yudhis posesif karena ia tidak ingin kehilangan seseorang yang lebih menyayanginya, sedangkan ibunya tidak ingin kehilangan Yudhis karena ia tidak ingin kehilangan anggota keluarganya lagi.

Tatapan sebagai pengantar cerita
Perilaku posesif terlihat sangat jelas dan detail. Dalam film, perilaku posesif Yudhis terhadap Lala tergambar dari perilaku verbalnya seperti yang dijelaskan di atas. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, kita akan tercengang dengan keposesifan Yudhis yang tidak hanya terlihat dari perilakunya, namun juga isyarat tatapan-nya. Hal tersebut menunjukkan kredibilitas Edwin sebagai sutradara yang mengarahkan pemain dengan sangat apik dan juga Adipati Dolken yang mampu melakoni tokoh Yudhis dengan penghayatan yang menyeluruh.

Pada bagian awal cerita ketika Yudhis dan Lala sedang dalam tahap pendekatan satu sama lain, keposesifan Yudhis terlihat dari tatapannya yang tidak lepas dari Lala. Ia menatap Lala dengan lekat sampai bayangannya sudah tidak nampak lagi. Hal ini menujukkan bahwa Yudhis tidak ingin kehilangan Lala sedikit pun termasuk bayangan sosok Lala.

posesif-film-indonesia-movie-header

Memasuki bagian tengah cerita, konflik mulai terlihat. Bencana besar dalam hidup Lala dan Yudhis mulai terlihat dari cuplikan gambar di atas. Cuplikan tersebut merupakan adegan ketika Yudhis memberi kejutan untuk Lala di rumahnya. Yudhis menyelinap masuk ke rumah Lala diam-diam kemudian membisikkan ucapan selamat ulang tahun pada Lala, saat ia tengah terlelap. Akan tetapi, meskipun dalam gambar tersebut Lala tersenyum namun ada simbol yang tersirat dalam adegan itu. Terlihat dari gambar bayangan wajah Yudhis lebih gelap dari Lala. Hal ini menyiratkan bahwa sisi gelap Yudhis mulai terlihat dan bencana besar dalam hidup Lala sudah ada di depan matanya.

Konflik dalam hidup Lala dan Yudhis semakin rumit. Mulai dari Lala yang berani menolak keinginan ayahnya untuk menjadi atlet loncat indah; Lala mengundurkan diri dari tim,hingga kabur dari rumah meninggalkan ayahnya secara diam-diam dengan Yudhis. Yudhis pun nekad meninggalkan ibunya setelah mendapat pukulan yang keras dari ibunya. Yudhis dan Lala nekad meninggalkan keluarga dan mimpinya untuk melanjutkan pendidikan yang sudah mereka dapatkan. Mereka memutuskan untuk hidup bersama.

Perjalanan mereka setelah bebas dari kekangan orang tua tidak berjalan mulus. Di tengah jalan, Lala diganggu oleh sekelompok preman. Karena tidak terima pacarnya diperlakukan demikian, Yudhis menghajar mereka dan Lala pun mendapat imbasnya.Yudhis dan Lala sama-sama terkena luka memar di wajahnya.

fgdgfdgdfg

Cuplikan gambar di atas merupakan adegan ketika Yudhis dan Lala sedang berdiskusi mengenai masa depan mereka setelah keduanya mendapati luka lebam pasca-peristiwa perkelahian dengan sekelompok preman. Yudhis menyadari hubungan mereka berdua tidak dapat dilanjutkan karena ia sendiri tidak dapat melindungi Lala. Ia yakin apabila hubungannya dilanjutkan ada marabahaya yang akan datang. Namun, Lala tidak terima begitu saja. Karena sudah telanjur sayang kepada Yudhis, ia tidak rela berpisah dengan Yudhis. Ia bersikukuh akan selalu mengejar Yudhis meskipun Yudhis telah memutuskan hubungan dengannya.

Dari gambar tersebut ada dua makna tersirat di dalamnya. Pertama, Tatapan Yudhis kepada Lala tak selekat dulu. Ia tidak berani menatap Lala yang sudah berwajah lebam karena tak tega melihat kekasihnya terluka. Di samping itu, Yudhis juga menyadari bahwa ia tidak dapat melindungi Lala dari ancaman luar maupun emosi dirinya sendiri.  Kedua, luka memar di wajah mereka mengisyaratkan bahwa hidup mereka berdua telah hancur. Melarikan diri dari rumah merupakan keputusan yang salah. Bukannya kebebasan yang mereka raih, justru kehancuran yang terjadi dalam hidup mereka.

Pada tahap terakhir, akhirnya Yudhis meninggalkan Lala.Lala kembali pulang ke rumah dan kembali pada zona nyamannya. Ia mengejar mimpinya, berkumpul dengan temannya, serta bergabung dengan tim loncat indah. Perlahan-lahan, Lala pun juga melupakan dan meninggalkan kenangannya bersama Yudhis. Sementara Yudhis menghilang tanpa jejak. Tak seorang pun tahu keberadaanya bahkan ibunya sendiri.

Memasuki akhir cerita Posesif (2017), alur kembali lagi pada adegan pertama film ini, yakni adegan saat Lala sedang berlari. Kemudian ada sosok Yudhis tiba-tiba muncul setelah sekian lama menghilang. Berbeda dengan bagian awal film, dalam adegan ini Lala akhirnya menyadari bahwa Yudhis hadir kembali.

F

Jika diperhatikan dengan seksama, ada yang berbeda dengan tatapan Yudhis pada Lala dan sebaliknya. Dalam gambar tersebut terlihat Yudhis menatap Lala dengan tenang sambil tersenyum. Tatapan tersebut berbeda dengan cara ia menatap Lala sebelumnya. Dari tatapan tersebut terlihat bahwa Yudhis telah berubah. Ia sudah sembuh dari penyakit “keposesifannya”.

Tatapannya yang teduh pada Lala mengisyaratkan bahwa ia telah kembali pada Lala dengan perubahan yang telah dialami setelah menghilang dari hidup Lala. Namun sayangnya, Lala sudah tidak memiliki perasaan yang sama terhadap Yudhis seperti dulu.  Hal itu terlihat dari tatapan kosong Lala pada Yudhis yang berbeda dengan cara Yudhis menatapnya. Lala sudah telanjur melupakan Yudhis. Oleh karena itu, meskipun Yudhis kembali ke kehidupannya, Lala meninggalkan Yudhis di tempat. Ia melanjutkan larinya. Jika sebelumnya Yudhis yang meninggalkan Lala, kali ini Lala-lah yang meninggalkan Yudhis beserta kenangannya.

Secara keseluruhan, Posesif (2017)cukup bagus dalam menggambarkan situasi hubungan yang tidak sehat. Penggambaran keposesifan dalam suatu hubungan terlihat sangat mencekam dan membuat suasana semakin tegang. Penonton akan merasakan ketegangan dan kegelisahan yang dialami Lala maupun Yudhis.

Penggambaran buruknya dampak dan perilaku keposesifan berhasil divisualisasikan dengan baik. Namun, penggambaran bagaimana proses Yudhis dapat sembuh tidak disorot. Yang terlihat dari film ini hanya menampilkan bagaimana perilaku posesif dan apa dampaknya, tetapi tidak menawarkan solusi bagaimana menyembuhkan perilaku posesif dan proses apa saja yang dilalui. Akibatnya, adegan ketika Yudhis muncul kembali ke kehidupan Lala terkesan mendadak. Akan tetapi, yang bisa ditarik: nilai moralnya dari film ini adalah sifat keposesifan yang berlebihan hanya dapat disembuhkan oleh dirinya sendiri. Oleh karena itu, kita harus menyangi diri sendiri terlebih dulu.

Berikut ini kami telah susun infografis film Posesif (2017)

infografis blog.jpg

Baca juga: Enam Sampai Delapan Tarantino

Penulis      : Itsna Raudhatun Nisa
Infografis   : Farhan Iskandarsyah
Penyunting : Anggino Tambunan