Review Film The Long Walk (2025): Bincang Cekam Hidup-Mati

0
195
Review Film The Long Walk (2025): Bincang Cekam Hidup-Mati

Setelah seabrek novel/cerpen Stephen King yang difilmkan, kini Francis Lawrence mengadaptasi kisah King, dengan pseudonim Richard Bachman, yang berjudul The Long Walk (2025). Film ini mengisahkan tentang sekelompok pemuda yang mengikuti perlombaan jalan paling lama dengan kecepatan 3 mil per jam. Jika mereka berhenti atau kecepatannya kurang, mereka akan dibunuh.

Mengadaptasi novel dunia distopia taklagi asing bagi Lawrence. Ia cukup sukses dengan saga The Hunger Games yang memiliki tema kesintasan untuk mendapatkan hadiah besar, serupa dengan The Long Walk ini. Kisah ini pun sedikit berbeda dengan The Hunger Games yang penuh aksi atau karya-karya horor King lainnya yang penuh teror.

Dalam The Long Walk, kita tidak disuguhkan banyak aksi. Sepanjang film  sebagian besar dari kita hanya menyaksikan sekelompok pemuda lelaki yang berjalan dan berbincang mengenai kehidupan mereka. Sesekali kita akan menyaksikan ketegangan dan cekaman saat salah satu karakter mengalami masalah sehingga mereka dibunuh.

Fokus cerita film ini ada pada karakter Raymond Garraty (Cooper Hoffman). Pada awal kisah, kita melihat ia diantar ibunya, Ginnie (Judy Greer), yang meyakinkannya untuk takikut serta dari kontes ini. Bagaimanapun, Ray menolaknya karena ia memiliki tujuan yang lebih besar daripada hanya mendapatkan hadiah materiil.

Sesampainya di tempat kontes, ia disambut dengan beberapa pesaingnya. Dimulai dari Pete McVries (David Jonsson) yang menjadi sahabatnya, Arthur Baker (Tut Nyuot) yang ingin menjalin pertemanan, dan beberapa pesaing dengan bumbu antagonistik dari Gary Barkovitch (Charlie Plummer) dan Stebbins (Garrett Wareing). Awalnya, mereka masih penuh semangat dan sumringah, sampai adanya peserta yang dibunuh, hawa perlombaan sedikit berubah.

Berbeda dengan film-film Lawrence yang bernuansa lebih dingin, The Long Walk (2025) rasanya menggunakan kehangatan dari daerah pedesaan Amerika pada tahun 80-an. Walaupun ada teror dan cekaman yang diberikan, beberapa peserta memberikan kehangatan karena beberapa dari mereka saling membantu satu sama lain, terutama para “Musketeer” yang terdiri dari Ray, Pete, Arthur, dan Hank Olson (Ben Wang). Obrolan-obrolan mereka pun hangat.

Diselingi dengan obrolan tersebut, visual teror, kengerian, dan kejijikannya pun taktanggung-tanggung. Dengan efek generasi komputer, peserta pertama yang dibunuh ditampilkan dengan jelas kepalanya hancur walau hanya sekejap. Apalagi, yang pertama meninggal ialah peserta termuda yang masih remaja. Hal ini menandakan bahwa Lawrence enggan terpaku pada hal-hal normatif.

Hal yang menarik adalah isi obrolan-obrolan mereka, terutama dari Ray dan Pete. Keuntungan materiil besar menjadi motor sebagian besar dari mereka yang mengikuti perlombaan ini. Namun, keinginan Ray dan Pete sedikit berbeda. Ray takdigerakan dengan motivasi untuk mendapatkan materiil, tetapi balas dendam terhadap sang Mayor (Mark Hamill). Sementara itu, Pete ingin menggunakan hadiah materiil tersebut untuk menyebar kebaikan dan menolong orang yang membutuhkan.

Perdebatan mereka saat memasuki fase ini menarik sebab keinginan mereka berbanding terbalik. Keinginan Ray hanya untuk keuntungan pribadi, sementara Pete lebih mulia dan menyangkut kebaikan banyak orang. Ray menganggap keinginan Pete pretensius dan motivasinya semu. Sementara itu, Pete persuasif kepada Ray dengan mengatakan bahwa balas dendam bukanlah resolusi yang mutlak.

Makin jauh mereka berjalan, makin sedikit juga pesertanya. Ada beberapa dramatisasi menarik dari kematian para tokohnya. Para protagonis seperti Hank dan Arthur mendapatkan adegan akhir yang matang. Terutama Arthur dengan akhiran yang mengharu-biru. Bahkan, para karakter yang awalnya antagonis pun dibuatkan penebusan dosa dan mendapat akhiran dengan tendensi protagonistik.

Di antara semua kehangatan tersebut, sebenarnya yang sedikit terasa janggal dalam film ini ialah minimnya nuansa persaingan yang dibawa. Selain Barkovitch, tiada karakter yang benar-benar menyulut rasa kompetitif dalam ceritanya. Memang, Ray dalam diskusinya bersama Pete sempat menyinggung hal ini, tetapi tindakan mereka selalu bergerak ke tendensi gotong royong. Mereka justru lebih banyak meluapkan emosi ke prajurit penjaga dan sang Mayor.

Sebenarnya, maksud dari The Long Walk ini dapat ditangkap, yaitu miniatur kehidupan. Layaknya hidup, kita berkompetisi untuk meraih kebahagiaan, tetapi setiap orang punya kebahagiaannya masing-masing. Dalam perjalanan, kita pun bertemu orang-orang yang bisa menjadi teman, musuh, atau orang yang kita kenal saja. Di sana, akan ada yang lebih dulu meninggalkan kita dan ada yang terus bersama kita sampai akhir.

Dengan teror dan cekamannya, hal yang ingin disampaikan Stephen King divisualisasi dengan mudah oleh Francis Lawrence. Obrolan-obrolan karakternya cukup menarik, tetapi bukan tipe yang membuat Anda terpikat dengan bobot pembicaraannya. The Long Walk (2025) pun akan berhasil jika anda fokus menikmati pembicaraannya dan berempati terhadap karakter-karakternya. Sebab, adegan akhir yang dramatis akan sangat efektif jika Anda telah terkait. Jika tidak, akan sulit bagi Anda menikmatinya.

Baca juga: Review Film Weapons (2025) – Fragmentasi Misteri

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah