Review Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Infinity Castle – Part 1: Akaza Returns (2025)

0
221
Review Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Infinity Castle Part 1: Akaza Returns (2025)

Seri animasi Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba telah mencapai babak akhir. Kini para pembasmi iblis dijebak ke dalam kastil takterbatas atau Infinity Castle oleh raja iblis, Muzan Kibutsuji. Tanjiro dan kawan-kawan pun masing-masing harus menghadapi iblis-iblis Kelas Atas di Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba the Movie – Infinity Castle (2025).

Setelah menggemparkan dengan Mugen Train empat tahun silam, Demon Slayer kembali masuk sinema dengan skala yang besar. Memasuki perjalanan terakhir, film ini dijanjikan untuk takmendapatkan penanganan layaknya rekap seri animasinya seperti dua film sebelumnya, To the Swordsmith Village (2023) dan To the Hashira Training (2024). Seri Infinity Castle ini pun akan dibagi menjadi tiga film dan bagian pertama ini berjudul Akaza Returns.

Seperti judulnya, bagian pertama ini akan berakhir setelah Tanjiro menghadapi Akaza. Bagi para penggemar komik/manga-nya pasti sudah tahu di bagian mana kisah ini berakhir. Bagian awal komik ini menceritakan tentang pertarungan salah satu Hashira (pasukan terkuat dari pembasmi iblis), Shinobu, yang menghadapi iblis peringkat dua, Doma.

Layaknya animasi-animasi Jepang, selagi pertarungan pasti ada kilas balik untuk memperkuat motif para karakternya. Di sini, dikisahkan kakak Shinobu dibunuh oleh Doma. Shinobu pun dipenuhi amarah awalnya, tetapi lama kelamaan motivasinya makin ciut karena ia takmemiliki kekuatan layaknya pembasmi iblis lainnya. Shinobu pun bertarung hingga titik darah penghabisan dan takdirnya mungkin sudah diketahui para penggemar.

Sayangnya, pertarungan melawan Doma di film ini dipotong di bagian sini. Akhiran dari Shinobu pun rasanya kurang didramatisasi, sebab terbatasnya durasi. Inilah kelemahan dari seri animasi jika masuk di bioskop seperti yang disulut oleh Demon Slayer ini. Walaupun di bagian awalnya sudah ada rekap kisah sebelumnya, cerita sudah lompat ke dalam konflik dan bahkan klimaks tanpa adanya pengenalan terlebih dulu. Bagi penggemarnya, mudah untuk mengikuti kisah ini. Namun, bagi penonton awal, sangat tidak dianjurkan.


Mungkin, dramatisasi untuk kekalahan Shinobu terhadap Doma akan dilanjutkan di film selanjutnya. Hal inilah yang membuat film ini terasa tanggung. Untungnya, di dua pertarungan selanjutnya, ceritanya terasa lebih selesai. Kekalahan Shinobu pun menjadi penjelas betapa kuatnya iblis tingkat atas dan penjelas adanya perbedaan kekuatan antara manusia biasa dan iblis.

Pertarungan selanjutnya ialah Zenitsu melawan iblis tingkat atas terbaru yang bertingkat enam, Kaigaku. Dalam kilas balik lagi, terungkap bahwa Kaigaku adalah senior di perguruan aliran pedang pernapasan petir Zenitsu. Oleh kakek guru, mereka ditunjuk sebagai penerus perguruan mereka karena Kaigaku bisa semua dari enam teknik pernapasan, tetapi takbisa pernapasan pertama, sementara Zenitsu hanya bisa yang pertama.

Amarah pun memenuhi Zenitsu karena kecewa kakak perguruannya malah menjadi iblis. Pertarungannya pun sangat epik, Ufotable berhasil menghidupkan kecepatan ditambah dengan elemen petir yang sepertinya mustahil jika digabungkan dengan animasi dua dimensi. Bagi karakter Zenitsu sendiri, ini menjadi babak baru baginya yang takperlu taksadarkan diri untuk menampilkan kekuatan maksimalnya. Ia dipenuhi dengan amarah dan momen kejutan pada teknik pernapasan terakhirnya menjadi elemen yang menarik.

Setelah itu, kita diajak ke pertarungan yang lebih epik lagi antara Tanjiro dan Giyu melawan iblis tingkat tiga, Akaza. Bagi Tanjiro, melawan Akaza menjadi momen balas dendam usai sang iblis membunuh Rengoku yang tertera dalam kisah Mugen Train. Tanjiro pun dipenuhi amarah. Rasanya fokus utama dalam jilid ini ialah balas dendam bagi para protagonis. Makanya, saat para iblisnya dikalahkan, ada rasa kepuasan bagi penonton. Apalagi, adanya perkembangan kekuatan dari para protagonis utamanya seperti Tanjiro dan Zenitsu.

Saat melawan Akaza, kita melihat Tanjiro yang sudah bisa mengimbangi kecepatan sang iblis tersebut, takseperti di Mugen Train. Tanjiro memang belum bisa seratus persen imbangi Akaza dan rasanya mustahil ada manusia biasa yang bisa melawan sang iblis sendirian. Di sinilah peranan penting Giyu sang Hashira yang dapat mengimbangi Akaza. Pertarungan Giyu sendiri mungkin taksedahsyat saat Akaza hadapi Rengoku, tetapi gerakannya lebih sistematis.

Bagaimanapun, mengakhiri Akaza merupakan level berbeda lagi dan Giyu pun takbisa sendirian. Di sinilah kemampuan cermat Tanjiro menganalisis situasi diperlukan. Kilas balik kembali ditunjukkan dan di bagian pertarungan superdahsyat ini, kilas balik rasanya mengganggu tempo cerita. Apalagi, kilas baliknya ditampilkan cukup lama dan membuat temponya terbanting.

Kilas balik ini memang kemewahan dari seri animasi yang membutuhkan waktu lama untuk menjelaskan secara detail. Namun, bagi film, penanganan temponya seharusnya bisa dibedakan. Sebab kilas balik ini, walaupun penting untuk jadi penjelasan cerita, pengadeganannya sangat membunuh tempo cerita. Menontonnya pun membuat kita panas dingin.

Untungnya, adegan kilas balik Akaza sangat dramatis. Penonton yang fokus pada aksi dibuat tersihir dengan pilunya masa lalunya. Kita pun diajak bersimpati dengan antagonis dalam cerita ini. Kisahnya pun jadi penting sebab jadi penggerak penting dalam kematian sang iblis.
Keseluruhan, jilid Demon Slayer: Infinity Castle (2025) ini menjadi pembuka yang epik. Kisahnya tanggungnya dapat dimengerti dan penanganan panas-dinginnya menjadi hal yang bisa diterima bagi penikmat seri ini. Mungkin, beberapa adegannya bisa sedikit dipangkas dan disimpan untuk seri animasinya agar durasinya lebih singkat. Namun, takbisa dimungkiri, film ini telah memberikan pengalaman aksi fantastis di bioskop yang jarang bisa dinikmati penggemar anime sebelumnya.

Infografik Review Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie Infinity Castle – Part 1: Akaza Returns

Baca juga: Review Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Mugen Train (2020)

Penulis: Muhammad Reza Fadillah