Review Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba the Movie – Mugen Train (2020)

0
597
Review Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba the Movie - Mugen Train (2020)
Review Film Demon Slayer - Kimetsu no Yaiba the Movie - Mugen Train (2020)

Menggunakan label film terlaris di Jepang sepanjang masa, Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba the Movie – Mugen Train mencoba mencakup pasar yang lebih luas. Namun, jalan cerita dalam film ini sangat bergantung pada serial animenya ataupun manga­nya. Sungguh pencapaian yang luar biasa, ini menandakan seberapa besar ketenaran kisah ini.

Kisah Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba pertama kali terbit sebagai komik yang berasal dari Jepang, atau yang kita kenal dengan manga. Komik yang diciptakan oleh Koyoharu Gotōge ini pertama kali terbit pada tahun 2016. Namun, uniknya, kisah tersebut baru mendapat perhatian besar publik setelah dialih wahana menjadi serial animasi Jepang atau anime dan ditayangkan di Netflix.

Ketika manganya telah tamat pada Mei 2020 lalu, anime film ini masih cukup jauh. Musim pertamanya habis ketika Tanjiro Kamado dkk. hendak menaiki Mugen Train untuk bertemu salah seorang Hashira (sebutan untuk sembilan prajurit pedang pembasmi iblis terbaik dalam kisah ini), bernama Rengoku. Tanjiro berharap Rengoku dapat menjelaskan dan mengajarkan mengapa ia bisa tarian api yang ia kenang dari ayahnya semasa kecil, hal yang menghasilkan aliran api ketika menggunakan pedang.

Hal unik dari serial animasi Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba ini ialah penayangan di bioskop. Jadi, sebelum filmnya ditayangkan, kisah ini memang sudah punya hubungan erat dengan layar lebar. Apalagi, kesuksesan anime ini takterlepas dari peranan studio Ufotable yang dapat mengonstruksi visualnya dengan baik untuk sekelas serial animasi.

Dengan kisah yang akan hadir di Mugen Train dan pujian baik dari visual Ufotable serta penyutradaraan Haruo Sotozaki, wajar jika bagian kisah ini dijadikan film yang tayang di layar lebar.

Singkatnya, kisah yang hadir di Mugen Train memang epik. Pertarungan Tanjiro dkk. melawan Enmu, salah satu iblis hebat yang masuk dalam 12 Kizuki (para iblis terbaik Muzan Kibutsuji, ketuanya para iblis), saja sudah menghibur. Belum lagi pertarungan hebat antara Rengoku melawan Akaza, 12 Kizuki yang lebih hebat dari Enmu.

Hanya saja, jika Anda belum menonton serial atau membaca komiknya, cukup sulit memahami jalan ceritanya. Sepertinya, skenario Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba the Movie – Mugen Train takbanyak melakukan rekonstruksi ulang dari komiknya untuk mengenalkan para karakternya dan hal yang menjadi konflik dalam film ini. Oleh karena itu, bisa dikatakan film ini sangat segmentif.

Cukup mengejutkan sebenarnya film ini bisa menjadi film terlaris di Jepang. Namun, sama ceritanya seperti Anda menyaksikan Avengers: Endgame yang merupakan film terlaris dari seri film yang sangat panjang, Demon Slayer pun punya waktu untuk membangun minat para penggemarnya, terutama penayangan-penayangan animenya di bioskop.

Untuk bisa benar-benar menikmati film ini Anda pun harus memahami pola-pola yang ditampilkan dalam serialnya atau mungkin animenyasecara keseluruhan. Misalnya, banyak lawakan yang berbentuk teriakan-teriakan keras para karakternya, lalu raut-raut muka konyol, serta tingkat sentimentalnya. Banyak juga tangisan-tangisan dan usaha mengharu-biru walau banyak juga candaan-candaannya.

Jika melihatnya sebagai film biasa, Anda mungkin bisa merasa risih karena takterbiasa dengan pola tersebut. Belum lagi ceritanya yang begitu padat. Yang tersisa untuk dinikmati bagi orang yang takmengikuti serialnya ialah pertarungan epiknya. Namun, bagi penggemarnya, rasanya tentu akan berbeda.

Secara visual, memang ada penanganan yang sedikit berbeda dari Ufotable untuk film ini ketimbang anime­nya. Film ini lebih banyak bereksperimen dalam adegan pertarungan dan menampilkan gambar latar belakang yang jauh lebih realistis ketimbang serial animasinya.

Sangat disayangkan, masih ada penanganan yang layaknya kejar tayang serial animasi. Misalnya, karakter-karakter yang stagnan (dalam film ini, para penumpang keretanya), ketika para tokoh utamanya bergerak dan berbicara. Selain itu, latar belakang yang sangat realistis kurang senada dengan para tokohnya yang sangat jelas animasinya.

Pada akhirnya, untuk benar-benar menikmati Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba the Movie – Mugen Train (2020) sulit. Namun, jika Anda penggemar yang mengikuti serial animasinya atau bukan penggemar, tetapi bisa sedikit membuka diri dan mau mencari referensi ada rasa yang membuat merinding juga.

Infografik Review Demon Slayer

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan