Review Film Godzilla vs. Kong (2021): Epik!

0
201
Review Film Godzilla vs Kong (2021): Epik

Menonton film raksasa yang menampilkan banyak aksi dan kehancuran sana-sini pasti kita telah memiliki ekspektasi tertentu. Kita takmengharapkan adanya adegan superdramatis dan karakterisasi kuat; kita hanya ingin melihat monster mengamuk. Film Godzilla vs. Kong menyadari hal ini dan membuat film aksi gila yang superpadat.

Melihat judul Godzilla vs. Kong sudah pasti penonton simpelnya mengharapkan satu hal: pertarungan monster kadal raksasa yang diberi nama Godzilla, melawan gorilla supermasif: Kong. Anda pun takperlu menunggu lama untuk pertarungan paling epik dari dua monster raksasa ini. Kedua monster pun takmalu-malu sebab sejak awal film telah muncul.

Hal tersebut merupakan keistimewaan film ini yang merupakan sekuel dari tiga film sebelumnya dari dunia sinematik Monsterverse: Godzilla (2014), Kong: Skull Island (2017), dan Godzilla: King of the Monsters (2019). Takperlu ada sembunyi-sembunyi sosok monster lagi dan langsung menghancurkan sana-sini, hal inilah yang memang sesuai ekspektasi oleh para penonton.

Dalam penulisan skenario, Eric Pearson, Max Borenstein serta penceritaan dari Terry Tossio, Michael Dougherty dan Zach Shields belajar dari kesalahan-kesalahan film-film pendahulunya. Pada film Godzilla pertama, kemunculan Godzilla terlalu malu-malu. Kehadiran karakter-karakter manusianya juga terlalu didramatisasi sehingga jadi ada dua sisi film yang terlalu berbeda.

Hal ini sudah dibenahi dalam film Kong: Skull Island, tetapi fokus utama film lebih ke karakter manusia ketimbang sosok Kong yang nantinya akan jadi sosok yang bertahan dalam sekuel-sekuel lanjutan. Dalam Godzilla: King of the Monsters, para manusia hanya jadi peramai dari kekacauan yang diciptakan. Maka dari itu, perlu ada tujuan dari para manusia ini yang nantinya bersinggungan dengan Godzilla maupun Kong serta dalam pertarungan besar para monster.

Jika menonton, setidaknya, film Godzilla: King of the Monsters, kita paham bahwa Godzilla ialah monster yang ingin menjadi predator utama dan keberadaan Kong akan mengganggunya. Pertarungan keduanya memang takterelakkan, tetapi dengan dua monster yang ditampilkan sebagai protagonis, harus ada jalan untuk keduanya berkonsolidasi untuk menghibur para penggemar.

Di sinilah antagonis utama masuk: manusia. Dalam kehidupan nyata, keserakahan manusia dan keinginan untuk mendominasi dunia membuat alam terusik, salah satunya ialah ketidakmampuan berdampingan dengan predator. Kita melihat predator-predator teratas dalam rantai makanan hanya sebagai ancaman terhadap kehidupan manusia dan seenaknya menghabisi mereka tanpa peduli timbal baliknya.

Godzilla sebagai predator puncak pun hanya dilihat sebagai ancaman. Ada manusia yang ingin memiliki kekuatan lebih untuk menghancurkan Godzilla hingga manusia kembali menjadi predator puncak. Dengan adanya tujuan konkret seperti ini, karakter manusia dalam film ini mampu menjadi kerangka yang memegang peran penting dalam film, bukan tempelan peramai situasi saja.

Salah satu karakter manusia paling menarik ialah Jia (Kaylee Hottle), anak perempuan bisu yang mampu menetralisasi Kong. Karakter ini serasa seperti modifikasi jitu dari perempuan-perempuan pirang cantik dalam film-film King Kong pendahulu yang dapat menetralisasi sang monster. Kemampuan Jia berkomunikasi dengan bahasa isyarat yang ternyata bisa dilakukan Kong menciptakan koneksi yang lebih utuh dari sekadar kecantikan tokoh utama perempuan-perempuan pirang.

Bagaimanapun, ada beberapa karakter yang terasa seperti tempelan dan keberadaannya hanya untuk peramai situasi serta pendukung satu momen saja. Hal ini yang memang dikorbankan untuk kepadatan film agar pemirsa bisa puas dengan kehancuran sana-sini dari pertarungan para monster. Benar saja, pertarungan para monster memang epik.

Beralih pada aspek lain, efek visual film ini mungkin agak kasar dan terlalu terasa sintetis dalam pertarungan pertama Kong melawan Godzilla di lautan. Namun, pada pertarungan selanjutnya di daerah perkotaan, visual cantik dengan warna-warni gedung, walaupun sedikit berlebihan, tetap memuaskan mata. Ada juga pengaturan suara yang menggelegar, tetapi beberapa skoring masih normatif dan bahkan ada yang kurang sesuai.

Dengan karakter-karakter manusia punya tujuan konkret, ada tujuan akhir sehingga pertarungan pertarungan antarmonster dalam Godzilla vs. Kong takrepetitif dan melelahkan layaknya Godzilla: King of the Monsters. Hiburan hebat dalam kelasnya, Adam Wingard mengingatkan kita lagi betapa mengasyikkan menonton film di bioskop setelah pandemi melanda. Durasi 113 menit yang takboleh dilewatkan jika Anda pencinta film-film monster yang ingin memiliki pengalaman sinematik hakiki.

Review Film Godzilla vs. Kong (2021): Epik!

Baca juga: Review Film Unhinged (2020): Menegangkan dan Sedikit Menjengkelkan

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan