Review Film Eden (2024): Memulai Peradaban Bukan Candaan

0
175
Review Film Eden (2024): Memulai Peradaban Bukan Candaan

Ron Howard mengangkat cerita Margret Wittmer tentang sekelompok orang Eropa yang mencoba untuk bermukim di pulau terisolasi Floreana di Galapagos dalam film Eden (2024). Film ini bertabur bintang besar, mulai dari Jude Law, Vanessa Kirby, Daniel Brühl, Sydney Sweeney, hingga Ana de Armas. Kisah aslinya menarik, tetapi Howard kurang mampu memberikan percikan yang benderang.

Pasca-perang Dunia I, orang Eropa diterpa teror yang mengganggu mereka secara fisik, psikis, dan ekonomi. Belum lagi wabah flu Spanyol yang sempat merebak. Mencari pengaburan pun merasuki pemikiran mereka. Kepulauan tropis yang berada di tengah samudra pun menjadi tempat sempurna untuk memulai kembali kehidupan dan mengisolasi diri dari masyarakat. Inilah yang diinginkan oleh penulis yang berimpian menjadi filsuf, Ritter (Law) bersama kekasihnya, Dore (Kirby).

Tulisan-tulisan Ritter yang ia kirim dari Floreana pun menginspirasi banyak orang pada tahun 1920-an, salah satunya Heinz (Brühl). Ia pun membawa istrinya, Margret (Sweeney), dan anaknya, Harry (Jonathan Tittel), untuk mengikuti jejak Ritter. Bagaimanapun, hal yang awalnya ia kira sebagai pengaburan menuju surga, ternyata menjadi rintangan terbesar dalam hidup mereka. Kemudahan-kemudahan yang mereka dapatkan saat hidup dalam peradaban maju, ternyata menjadi sebuah kemewahan di pulau yang terisolasi tersebut.

Ritter yang kesulitan pun memandang pengisolasian dirinya sebagai tempat penyucian diri. Di sana ia mengalami kesulitan untuk bertahan hidup sehari-hari. Ia bahkan menjebak Heinz untuk mendapat tempat yang lebih sulit dan ingin menjauh dari penggemarnya tersebut. Namun, pada akhirnya Heinz dan keluarganya justru lebih sukses dalam membangun hal-hal esensial yang dibutuhkan untuk bertahan hidup.

Setelah Heinz, datanglah Eloise (De Armas) yang mengaku seorang bangsawan dari Prancis. Bersama beberapa lelaki, ia ingin membangun hotel eksklusif untuk orang kaya di Floreana. Kedatangannya pun membuat Ritter makin kesal, apalagi visi Eloise yang bertentangan dengan pandangan hidupnya dan hal yang ingin ia capai dengan tinggal di Floreana. Pertentangan pun tak terelakkan dan mereka semua terlibat dalam konflik panas.

Dalam film Eden (2024) ini, Howard mencoba untuk merusak impian kayangan menjadi khayalan semu. Semua keindahan tropis yang kontras diredupkan dengan pewarnaan abu kecoklatan. Mungkin ini ide Howard untuk menumbuhkan rasa mencekam  film ini layaknya film-film cekaman barat yang kerap menggunakan warna redup dan dingin. Rasanya, pemilihan ini kurang tepat sebab membuat citra film menjadi lusuh dan membosankan.

Progresi ceritanya pun demikian. Untuk membangun cekaman, perlu ditingkatkan keterikatan dan ruwetan di antara semua karakternya. Kita melihat Ritter tertekan dengan kedatangan manusia-manusia lainnya, tetapi perkembangan karakternya sangat minim. Padahal, jika dilihat dari premisnya, kisahnya sangat menarik. Apalagi, setelah kita mengetahui bahwa film ini berdasarkan kisah nyata. Sayangnya, skenario yang dikembangkan Noah Pink kurang mengikat kita.

Lebih disayangkan lagi jika melihat jajaran pemeran besar yang menghiasi film ini. Kirby dan Sweeney di sini menjadi sorotan. Walaupun rambut Kirby masih terasa terlalu elok di sini, ia mampu menampilkan keserbabisaan aktingnya dan tampil maksimal. Sementara untuk Sweeney, dengan riasan dan busana sederhana, ia menjadi karakter perempuan feminin tradisional yang cermat. Law juga tampil solid walau kadang kurang terkoneksi dengan pemeran lainnya.

Keseluruhan, film Eden (2024) punya banyak potensi jika diberikan skenario yang lebih kuat sebab dasar ceritanya sangat menarik. Jajaran aktor utamanya tampil solid, tetapi minim koneksi yang seharusnya bisa membuat keruwetan film lebih terasa. Sebenarnya filmnya tidak buruk dan potensinya sangat terlihat. Sayangnya, potensi itu tidak terwujud.

Infografik Review Film Eden (2024): Memulai Peradaban Bukan Candaan

Baca juga: The Long Walk (2025) – Bincang Cekam Hidup-Mati

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah