Review Film A Quiet Place Part 2 (2021)

0
1112
Review Film A Quiet Place Part 2 (2021)

Setelah tersendat selama setahun sebab COVID-19, A Quiet Place Part 2 akhirnya rilis juga. Sensasi dan sambutannya mungkin sedikit padam, tetapi hal ini takada hubungannya dengan kualitas. Dalam segi kualitas untuk sekuel, racikan John Krasinski pas, banyak yang lebih, tetapi ada juga yang kurang.

Mari berkelana kembali ketika A Quiet Place (2018) menjadi salah satu kuda hitam box office. Formula Krasinski segar sebab ada beberapa hal yang baru, tetapi beberapa mungkin mengikuti pakem yang baru lahir. Kesegaran tersebut dapat dilihat dari uniknya ide monster alien yang ada di film ini. Makhluk tersebut takmemiliki indra penglihatan (mungkin juga takpunya penciuman juga), tetapi punya pendengaran yang tajam. Ide apik ini pun jadi fondasi yang menjadi kekuatan dalam film.

Di balik itu, yang lebih cermat lagi ialah keintiman film. Krasinski menulis A Quiet Place fokus pada keluarga yang mencoba selamat di tengah suasana yang terasa seperti pasca-kiamat dengan cermat. Inti permasalahannya pun konflik keluarga, yang menjadi fatal karena kondisi dunia. Penyempitan ini membuat film menjadi intim. Takperlu ada militer ikut campur atau adegan-adegan bombastis di tengah kota karena latarnya hanya di kota kecil dan sebagian besar penduduknya telah tiada.

Latar seperti ini mengingatkan kita kepada serial Stranger Things yang sama-sama diserang alien dan terjadi di sunyinya pedesaan atau kota kecil yang takramai. Selain itu, takada kesan futuristik layaknya film-film alien lainnya. Kala Stranger Things tetap memuat unsur bombastis walau takbanyak, A Quiet Place tetap menjaga agar takterlalu meledak. Hal tersebut seperti menjadi antitesis dari film-film box office.

Ekspansi Bagian Kedua

Saat film pertama kental dengan gejolak keluarga, film keduanya masih memuat unsur tersebut. Namun, kali ini Krasinski berkutat pada pengembangan karakternya. Menariknya, dua karakter yang jadi sorotan ialah kedua anak tertua dari keluarga Abbott, Regan (Millicent Simmonds) dan Marcus (Noah Jupe).

Regan yang menjadi anak tertua kali ini ditantang untuk lebih percaya kepada orang lain dan tidak egois melakukan semuanya sendirian. Sementara bagi Marcus, ia yang tadinya mudah takut, diberikan momen untuk melawan ketakutannya dan menghasilkan aksi heroik. Kedua karakter ini pun diberikan adegan menyentuh pada akhir film walau tak sesentimental film pertama ketika Lee (John Krasinski) mengorbankan dirinya. Bagaimanapun, A Quiet Place Part 2 tetap terasa intim dan bisa menggapai kalangan usia yang luas.

Dalam segi cerita pun takbanyak melakukan ekspansi layaknya sekuel-sekuel yang terlalu ambisius. Aksi dalam film memang diperbanyak dengan batasan kesunyian khas yang diciptakan dari film pertama. Hal yang paling terasa ialah penambahan ketegangan.

Takseperti film pertama yang membangun ketegangan pelan-pelan dan disertai misteri wujud monsternya, film kedua taklagi malu-malu. Adegan pembuka yang menampilkan hari pertama serangan alien tersebut ke bumi langsung membangun tensi tinggi merupakan hal yang cermat. Tensi tinggi ini pun terus dijaga dan ditata dengan baik hingga adegan akhir.

Selain itu, adegan awal pun krusial untuk memperkenalkan karakter Emmett (Cillian Murphy). Karakternya memberikan warna menarik untuk film-film pasca-kiamat. Intrik tarik-ulur akankah Emmett menjadi protagonis atau antagonis menjadi bumbu sedap, terutama untuk pengembangan karakter Regan. Cillian Murphy pun punya aura yang bisa bermain dalam kedua alam itu, pertanda bahwa ia aktor yang tepat.

Tata tensi yang bagus pun takterlepas dari roller coaster suara yang sangat didukung oleh penyuaraan jitu. Divisi yang kembali dipimpin Ethan Van der Ryn dan Erik Aadahl layaknya di film pertama ini menegaskan kembali seberapa vitalnya penyuaraan dalam film. Nominasi Oscar mungkin akan melirik lagi hasil kerja mereka.

Walaupun dibalut dengan menarik dan menghasilkan adegan yang sangat tegang dan super-seru, ada beberapa bagian yang terlalu formulaik. Mencari koloni baru pada film-film pasca-kiamat memang terlalu monoton dan kisah film ini hampir terjebak dalam lubang itu. Untungnya, film ini diselamatkan dengan pengadeganan mantap pada bagian akhir serta kuatnya nilai moral yang ingin dibawa Krasinski dalam A Quiet Place Part 2.

Selain itu, dengan durasi 97 menit, sebenarnya film ini bisa memiliki akhiran yang lebih konkret. Entah Krasinski ingin memiliki akhiran yang serupa dengan film pertama atau entah memang ada rencana pembuatan sekuel. Apa pun jawabannya, A Quiet Place Part 2 patut ditonton. Jangan lewatkan kesempatan untuk memicu adrenalin dan berpacu dengan derap jantung dalam sinema.

Infografik Review Film A Quiet Place Part 2 (2021)

Baca juga: Review Film Mountain Song (2019): Terbatas Sumber Daya

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan