Gundala (2019) yang Masih Belum Gundala

0
238
Gundala (2019) yang Masih Belum Gundala

Berambisi besar tentu bukan sebuah masalah, melainkan sebuah tanda adanya motivasi lebih untuk mencapai kesuksesan besar. Ambisi besar ini pun dimiliki film superhero Indonesia, Gundala (2019). Dalam film ini terlihat ambisi besar Joko Anwar untuk membuka Jagat Sinema Bumilangit.

Sebelum film Gundala dirilis, pihak studio merilis sesuatu yang baru dalam dunia perfilman Indonesia, yaitu jagat sinema. Dari konferensi pers yang diadakan oleh Bumilangit Studios, dipaparkan bahwa mereka menjadikan Gundala sebagai gerbang pembuka Jagat Sinema Bumilangit. Jagat sinema ini memiliki ambisi besar, yaitu merencanakan berbagai film yang akan diproduksi dalam waktu dekat dan mengundang aktor-aktor papan atas untuk bergabung.

Masifnya pengumuman ini pun menambah euforia pada film Gundala. Banyak penggemar mengharapkan sesuatu yang mirip seperti jagat sinema yang telah diciptakan studio-studio Hollywood. Ada ambisi besar yang disebar: ada juga harapan besar yang tentunya dapat menjadi beban besar. Pemberitahuan ambisi besar Jagat Sinema Bumilangit pun memberikan penonton harapan besar pada Gundala sebagai film pembuka.

Bukan Film tentang Gundala

Joko Anwar membuka film Gundala  dengan menampilkan masa kecil Sancaka (Abimana Aryasatya). Digambarkan ayah Sancaka memiliki jiwa pemberontak, yaitu memimpin rekan-rekan buruh pabrik untuk mendemo pimpinan pabrik. Tensi tinggi tersebut langsung meredam dan berubah ketika ayah Sancaka dibunuh, lalu Sancaka kecil ditinggal oleh ibunya. Alunan emosi pada awal film ini terasa apik dan cukup padat walaupun terasa agak terburu-buru, terutama dalam berdialog.

Pembukaan film yang sangat baik ini sayangnya tidak diikuti  penceritaan yang baik pada masa Sancaka dewasa. Perlu diingat bahwa tidak semua orang mengenal penokohan Gundala dengan baik. Hal tersebut memang ironi sebab bisa diakui pahlawan super orisinil asal Indonesia masih kalah pamor ketimbang pahlawan super dari Hollywood seperti Iron Man, Spider-Man, Batman, atau Superman. Memang, adegan pembuka saat Sancaka masih anak-anak dibuka dengan sangat baik, tetapi penonton pasti masih ingin mengenal sosok Gundala saat dewasa. Mengapa Sancaka bisa menjadi Gundala dan bagaimana peranan pahlawan super ini di tengah-tengah masyarakat? Hal ini masih belum apik dijelaskan.

Beralih ke latar, digambarkan Jakarta dalam kondisi yang tidak kondusif. Kondisi tersebut mirip-mirip saat reformasi ketika demo ada di mana-mana. Selain kota yang digambarkan dengan warna buram, penggambaran suasana juga didukung oleh para pemimpin bangsa yang korup. Di sini masuklah tokoh Pengkor (Bront Palarae) di tengah-tengah para anggota legislatif negara yang baru terpilih. Namun, adegan ini datang agak tiba-tiba dan banyak dialog yang rasanya mubazir.

Masalah lain yang hadir dalam adegan ini dan berlanjut dalam film secara keseluruhan, yaitu perpindahan adegan. Awalnya, kita masih menerima penjelasan panjang setiap tokoh legislatif di sana karena belum tahu apa peranannya dalam film. Namun, seiring berjalannya cerita, adegan tersebut terasa sia-sia. Awal film terlihat terburu-buru dan mengorbankan adegan dramatis, selanjutnya punya banyak waktu untuk karakter-karakter minor.

Pastinya kita lebih berharap porsi Sancaka menjadi Gundala akan lebih banyak dengan transisi yang lebih manis. Alih-alih fokus ke kisah Gundala—yang menjadi judul film ini—porsi karakter-karakter minor ini terasa terlalu banyak. Bahkan, di satu titik, tokoh Gundala seperti terlupakan dan perjalanan karakter-karakter minor lebih dipentingkan. Perpindahan adegan pun jadi melompat-lompat sehingga fokus cerita jadi membingungkan.

Memang, porsi tampil Sancaka dan Gundala tidak bisa dibilang sedikit. Namun, porsi pengembangan karakter ini sangat minim. Gundala kebanyakan tampil hanya untuk bertarung dan bertarung sehingga penonton jadi kelelahan sendiri. Ada adegan simbolis yang menampilkan perlawanan masyarakat yang disebabkan oleh keberanian Gundala. Adegan-adegan ini coba dibangun dengan menampilkan pertarungan Gundala melawan preman pasar yang ditayangkan di televisi dan disaksikan lewat internet. Namun, hal ini masih jauh dari kata cukup. Tidak ada adegan yang benar-benar membuat Gundala memikat masyarakat dan hadir di tengah-tengah kekacauan.

Moral dan Amoral?

Film pahlawan super pasti melibatkan nilai moral, terutama cara pahlawan ini berlaku dalam kondisi tertentu dan menentukan sikapnya. Dalam film Gundala, nilai moral menjadi bahasan krusial sebab dikisahkan bahwa pasukan Pengkor menyebar serum amoral ke masyarakat. Entah bagaimana caranya ada serum amoral dan bagaimana sains bisa membuat kalkulasi dalam bentuk serum untuk memberikan dampak amoral. Jika memberikan dampak cacat fisik atau mental, masuk akal. Namun, tolok ukur moral dan amoral merupakan sesuatu yang tidak bisa ditentukan. Moral merupakan nilai yang diajarkan, bukan yang ada secara lahiriah, berbeda dengan fisik atau mental yang mungkin bisa cacat sejak lahir.

Lalu, bagaimana penampilan moralitas yang dibangun dalam film ini? Menggambarkan Jakarta yang destruktif bukan berarti Jakarta tanpa hukum. Terbukti dengan adanya lembaga legislatif dan  tokoh yang menggunakan lencana polisi artinya hukum berarti masih ada. Namun, sebaik apa hukum ditegakkan dalam film ini masih belum pasti. Salah satunya, hukum pembunuhan yang dibangun atas nilai moral dalam masyarakat.

Pembunuhan bukanlah hal sepele. Selain akan ditindak keras oleh pihak berwenang, hal ini juga memberikan dampak psikis pada pelakunya. Ada adegan ketika Sancaka dilempar dari atas pabrik yang dibalut dengan candaan oleh para preman yang menjadi pelakunya. Membunuh seseorang akan lebih mudah terendus oleh polisi dan akan ada persekusi dari masyarakat terhadap pelakunya, sayang konsekuensi ini tidak dibangun dalam film. Kurang jelas seperti apa nilai moral yang coba dikonstruksi dalam film Gundala, apalagi jika pahlawan super ini selalu tampil dalam baku hantam.

Menyaksikan Gundala membuat para penonton merasa adanya beban bahwa film ini harus membuka Jagat Sinema Bumilangit. Fokus terhadap sosok Sancaka menjadi Gundala pun hilang sehingga penonton tidak memiliki ikatan kuat terhadap sang pahlawan super. Padahal, jika dilihat dari proyek Bumilangit Studios, masih banyak film yang mampu meringankan beban Gundala untuk menampilkan konflik besar yang mungkin akan jadi tema utama film Patriot. Pada akhirnya, film Gundala pun belum menjadi Gundala (Gundolo yang berasal dari kosakata bahasa Jawa yang berarti ‘petir’). Film ini belum mampu menyambar hati penonton untuk jatuh cinta terhadap Gundala.


  • Penulis: Muhammad Reza Fadillah
  • Penyunting: Anggino Tambunan