Review Film Everything Everywhere All at Once (2022)

0
24
Review Film Everything Everywhere All at Once (2022)

Ketakjuban pada alam semesta ialah magnet yang akhirnya menuntun manusia untuk memahami dirinya sendiri. Adanya multisemesta takubahnya menjadi cermin manusia memahami kembali kehadiran dirinya. Ide serupa dihadirkan film garapan A24, Everything Everywhere All at Once (2022).

Dikisahkan, imigran paruh baya asal Tiongkok, Evelyn Wang (Michelle Yeoh), dikepung berbagai rupa problem: bisnis penatunya terancam disegel sebab tunggakan pajak, isu pernikahan yang menguat, serta hubungan yang kusut dengan anak semata wayangnya, Joy. Pada awal adegan, kita diajak menyelami mumetnya pikiran Evelyn: satu tubuh dengan ribuan permasalahan yang beranak-pinak.

Kejadian aneh tiba padanya: dunia multisemesta tersingkap dan membuatnya terlempar pada kondisi serbamemungkinkan. Ia melesat dari semesta ke semesta lain dengan bantuan teknologi supercanggih yang terpasang di telinganya. Ia dapat menjelma sosok lain atau versi lain darinya jika bertindak janggal dari rutinitas dan kenormalan.

Kemudian, ia coba mengupas hubungan dunia nyata dengan semesta lainnya. Utamanya ialah hubungan dirinya dengan Joy. Di semesta lain, Joy digambarkan sebagai sosok bengis yang dikenal sebagai Jobu Tupaki. Penyebabnya ialah di semua semesta, ia terjebak dalam kesedihan sebab pengabaian oleh ibunya.

Film yang digarap Dan Kwan dan Daniel Scheinert ini menampilkan kisah yang intim: alih-alih asyik mengungkap adanya multisemesta dengan penjelasan yang menjelimet, kita diminta melihat upaya menambal hubungan yang retak antara ibu dan anak perempuannya yang amat kompleks. Dengan menerabas ruang dan waktu secara sekaligus, kisah ini cemerlang daripada film bertema serupa.

Selain itu, latar yang lentur, segala kejutan kisah, situasi komedi yang mengena, dan adegan sentimentil yang intens dapat membuat penonton terhipnotis. Kita diajak berkelana dari impresi ke impresi lainnya. Film ini pun berhasil menyarikan perwajahan sinema Asia dengan jitu. Referensi film-film Asia bertema bela diri dan drama terdahulu diolah jadi tampilan  yang menghibur sekaligus memikat.

Selain kisah yang segar dan tampilan yang memanjakan, akting Michelle Yeoh mampu menghidupkan kisah. Aktris yang ambil bagian pada film Crouching Tiger, Hidden Dragon (2000) silam ini mampu menghadirkan sosok ibu yang tegar dan rapuh sekaligus. Juga, ia dapat menghidupi tokoh-tokoh yang beragam dan sesuai tuntutan kisah: Evelyn memiliki banyak versi pada semestanya masing-masing. Akankah namanya disebut dalam ajang penghargaan tahun depan? Kita menantinya.

Sementara itu, dari sekian soal yang termuat dalam film ini, Evelyn mungkin akhirnya tersadar bahwa waktu terus berjalan dengan bersamaan: yang lalu, kini, dan akan. Semuanya mesti terhubung tanpa meniadakan satu sama lain. Dengan kata lain, waktu tidak tumbuh lurus. Oleh sebab itu, ia mencoba untuk menjadi versi terbaik dirinya pada masa lalu dan masa depan dengan menjadi yang terbaik pada masa kini.

Selain itu, multisemesta, secara bebas, dapat disarikan menjadi multipikiran, yaitu bagaimana sosok Evelyn di kepala suaminya, ayahnya, anaknya, di depan petugas pajak, pelanggan, dan lainnya. Ia berusaha menjadi sosok terbaik untuk segala peran tersebut dengan mendorong versi terbaik dirinya. Namun, dalam usaha itu ada pengorbanan dan luka yang begitu dalam. Kondisi yang sewaktu-waktu dapat mencuri kewarasan yang ia miliki. Parahnya, ia merasa mesti menghadapi kondisi yang sulit tersebut dengan seorang diri.

Akhirnya, Everything Everywhere All at Once menjadi film yang tidak boleh Anda lewatkan. Tidak hanya disajikan dengan tampilan yang memikat, kisahnya dapat menjadi cermin bagi kita dalam memaknai ulang kehadiran kita pada alam semesta yang selalu membuat kita takjub dan penasaran dengan jutaan misteri di dalamnya.

Infografik Review Film Everything Everywhere All at Once

Baca juga: A24 – “Mesin” Baru Penghasil Oscar

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah