Review Film Keluarga Cemara 2 (2022): Paket Lengkap Keluarga

0
25
Review Film Keluarga Cemara 2 (2022) Paket Lengkap Keluarga
Review Film Keluarga Cemara 2 (2022) Paket Lengkap Keluarga

Film kedua dari adaptasi cerita Arswendo Atmowiloto ini merombak jajaran kreatif dengan tetap menjaga para pemeran utamanya. Walaupun begitu, kita masih merasakan kehangatan yang serupa pada Keluarga Cemara 2 yang menjadi esensi pada film pertamanya. Masing-masing karakternya pun diberi ruang untuk berkembang.

Fokus film pertama Keluarga Cemara (2018) ialah sulitnya beradaptasi pada lingkungan baru. Dengan begitu, film garapan Yandy Laurens tersebut banyak bertumpu kepada sosok Ringgo Agus Rahman sebagai kepala keluarga yang menuntun keluarganya menghadapi kesulitan finansial dan sosial. Penyelesaian masalahnya pun ditulis dengan sangat baik dengan menyesuaikan dengan keadaan masa kini.

Kini, film keduanya tampil dengan merombak sutradara, penulis skenario, hingga produsernya. Untungnya, para aktornya masih bertahan sehingga kita bisa sekali lagi merasakan kehangatan keluarga ini di tengah dinginnya cuaca dan problematika yang ditampilkan film ini. Nyatanya, Ismail Basbeth selaku sutradara dan Irfan Ramly sebagai penulis skenario masih bisa menghadirkan nuansa yang mirip walaupun rupanya sedikit berbeda.

Kali ini, anggota keluarga Cemara memiliki permasalahannya masing-masing. Emak (Nirina Zubir) sibuk merawat Agil (Niloufer Bahalwan) dan dagangannya taklaku. Abah (Ringgo Agus Rahman) sibuk dengan pekerjaan barunya setelah pandemi menghentikan ojek daringnya. Euis (Adhisty Zara) mulai merasakan cinta dan asik dengan teman-teman SMA-nya. Sementara Ara (Widuri Putri) ditinggal sendirian sehingga merasa kehilangan kehangatan keluarganya lagi.

DalamKeluarga Cemara 2 ini, permasalahan para anggota keluarga Cemara diperkenalkan dengan agak terburu-buru, tetapi perlahan kita menangkap konflik utamanya. Permasalahan utamanya kali ini ialah Ara yang merasa sendirian. Ia pun mencari pengaburan dengan berteman dengan ayam neon dan berusaha membawa ayam peliharaannya tersebut kembali ke keluarganya.

Usaha Ara memang terdengar sangat kekanak-kanakan, tetapi pembawaannya begitu humanis dan di satu sisi menyenangkan. Takbisa berbagi kegembiraan lagi dengan keluarganya, Ara bertualang bebas bersama Neon (ayam kecilnya) dan teman barunya, Ariel (Muzakki Ramdhan). Petualangan ini pun memberi kegembiraan baru buat Ara yang merasa terkucilkan. Petualangan ini sedikit mengingatkan kita kepada film Petualangan Sherina (2000), penuh dengan keceriaan dan pemandangan alam yang segar.

Dalam kegembiraan Ara dan Ariel, kita diajak untuk menjadi anak-anak lagi. Memahami permasalahan-permasalahan mereka yang terlihat sepele, tetapi masuk akal jika dilihat jauh lebih dalam lagi. Permasalahan Ara ini akan terlihat lebih jernih ketika dialog Emak merasionalkan permasalahannya dengan sudut pandang berbeda kepada Abah yang takpercaya.

Menyenangkan untuk anak, orangtua diberi edukasi juga untuk memahami anak-anak mereka menghadapi pertumbuhannya masing-masing. Rasanya, Keluarga Cemara 2 ini bisa menghadirkan paket film keluarga yang lengkap untuk masing-masing keluarganya. Selain itu, masih ada lagi beberapa problematika nan edukatif lainnya. Mulai dari cara menghadapi Euis dan perubahan emosionalnya hingga cara Abah dan Emak membagi waktunya untuk menjaga Agil.

Ringgo dan Nirina memberi performa yang solid lagi, tetapi yang patut dijadikan sorotan utama ialah Widuri Putri. Dibebankan dengan mendapatkan porsi paling besar dalam film ini, ia tampil begitu manis. Pergerakannya sangat luwes, tampil sangat nyaman dalam kegembiraannya dan sangat terkendali dalam kesedihan dan amarahnya sebagai anak-anak. Akan mengejutkan jika namanya takmasuk nominasi aktris terbaik FFI tahun ini.

Hal yang agak berlebihan dalam film ini mungkin suasana dingin dan sunyinya. Dalam beberapa adegan, ada faktor cuaca yang sulit terkontrol yang kurang memaksimalkan kegembiraan petualangan Ara. Selain itu, film ini agak terlalu sunyi untuk film yang target pasarnya juga anak-anak. Basbeth mungkin ingin mengedepankan unsur super-realitas, tetapi justru akan lebih efektif memainkan perasaan penonton jika diisi dengan skoring.

Bagaimanapun, sayang sekali jika beberapa kekurangan ini menghentikan kita mengajak keluarga untuk berbagi waktu di bioskop. Di sisi lain, Keluarga Cemara 2 merupakan momen tepat bagi kita untuk memulihkan perfilman Indonesia, terutama film keluarga yang edukatif. Nampaknya, film seperti ini semakin punah di tengah gemerlap film-film Disney.

Baca juga: Rekomendasi Film Keluarga

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan