Terasing dalam Film-Film Wong Kar-wai

0
752
Terasing dalam Film-Film Wong Kar-wai

Untuk mengenali dirinya sendiri, manusia memerlukan unsur di luar dirinya. Sejatinya, manusia tidak dapat menolak ikatan sejarah dengan alam dan manusia lainnya. Wong Kar-wai membawa obrolan ini ke dalam film-filmnya, termasuk menyoal cinta.

Cinta tentu banyak bentuknya. Kepada Tuhan, cinta adalah kebutuhan transendensi, sedangkan kepada sesama manusia, cinta ialah penyatuan dalam realitas yang sama. Dari sekian banyak individu, kita cenderung mendalami satu individu musababnya keterbatasan manusia dalam menjangkau semuanya.

Idealnya mencintai menurut Fromm ialah pertemuan subjek dan subjek; “Aku” dan “Aku” yang menghargai keunikan setiap individu. Penyatuan subjek tidaklah mudah. Hal tersebut terbukti pada tokoh Lai Yiu-fai dan Ho Po-wing. Pasangan sesama jenis di film Happy Together (1997) ini kehilangan diri mereka ketika bersama. Simbolnya adalah kegagalan mereka mencapai tujuan mereka: pergi ke air terjun raksasa di Argentina bersama-sama. Ho Po-wing meninggalkan Lai Yiu-fai.

Hal yang sama juga tampak pada film Days Being Wild (1990), tokoh Mimi menyerahkan “keakuannya” ke Yuddi. Sebaliknya Yudi menyukai Mimi hanya untuk memenuhi kesenangannya setelah itu ia mencampakkannya. Kehadiran Mimi yang tidak dihargai oleh Yuddi menandakan bahwa cinta membutuhkan kehadiran (eksistensi).

Tokoh-tokoh yang  sudah disebutkan di atas tidak dapat berdiri pada kebebasan individu.Sebab tak punya “keakuan” serta ketergantuan kepada individu lain, tokoh Lai Yiu-fai pada Happy Together dan tokoh Mimi pada  Days Being Wild menjadi manusia yang terasing dan harus segera menemukan dirinya sendiri.

Selain itu, Wong Kar-wai juga kerap menciptakan tokoh yang psikisnya goyah. Di dalam Chungking Express (1994), ada dua polisi yang cinta mati dengan individu yang dicintai. Kebahagian tidak terpenuhi, keduanya jadi punya masalah dengan psikis, menutup diri, menyalahkan diri, dan merengek-rengek minta dicintai. Yang terparah terkadang dua polisi ini tak sadar dengan dirinya kemudian meng-alienasi-kan diri dari lingkungan.

Mari beralih ke In the Mood for Love (2001), di situ mungkin ada unsur yang diperlukan dalam menjalin hubungan. Menurut Fromm unsur tersebut yaitu penghormatan, tanggung jawab, perhatian, dan pengetahuan. Namun, Wong Kar-wai tidak mau membuat penontonnya tersenyum.   Meskipun Mr. Chow dan Mrs. Chan sudah memenuhi kriteria Fromm, tetapi mereka tidak bisa menjalin hubungan sebab aturan masyarakat: masing-masing telah menikah.

Pada akhirnya, apakah mencintai  individu lantas harus menanggalkan yang lain? Fromm menilai seseorang yang hanya mencintai individu yang dicintainya lalu acuh kepada sesama yang bukan dicintainya itu artinya bukan cinta, lebih tepatnya adalah ikatan simbol dan egois yang terus dipupuk.

Adapun dalam film-filmnya Wong Kar-wai lebih suka mencintai dalam bentuk visual yang malu-malu: berbisik kepada pepohonan tua saat tokohnya tak dapat melepas rahasia semaunya, tersedu-sedu saat ingin mencurahkan emosi pada perekam suara, menulis pesan di telapak tangan lawan bicaranya dengan jari, serta mengangguk dan menggeleng kepala sangat mendengarkan lagu sekaligus individu yang ditaksir.

Agar takterasing dalam film Wong Kar-wai, sajak kecil tentang cinta Sapardi ini mungkin dapat mengungkapkannya, “MencintaiMu harus menjadi aku.”

Penulis      : Anggino Tambunan
Penyunting : Muhammad Reza Fadillah