Review Film My Spy (2020): Pakem Film Segal

0
269
Review Film My Spy (2020)

Ada kalanya kita membeli tiket bioskop dan berharap tidak banyak: hanya ingin terhibur dan tertawa. Tidak perlu kita mengharapkan beragam estetika perfilman layaknya sinematografi yang apik, cerita yang fantastis, atau super dramatis. My Spy, film terbaru Peter Segal, termasuk salah satu film yang seperti itu.

Mendengar nama Peter Segal sebagai sutradara memang membuat kita tidak mungkin menuntut lebih. Melihat jajaran filmnya seperti Get Smart (2008), The Longest Yard (2005), atau 50 First Dates (2003), kita sudah bisa mengharapkan komedi-komedi “receh”. Memang, di satu sisi, film-film tersebut punya unsur menarik yang sebenarnya bisa menciptakan adegan-adegan dramatis. Namun, rasanya cara Segal mengemas film-filmnya tidak ingin membuat para penontonnya terlibat dalam emosi yang mendalam.

Film terbaru Segal, My Spy, memang layaknya pakem-pakem Segal seperti yang disebut di atas. Film ini berkisah tentang seorang mata-mata yang sangat tangguh dalam berkelahi, tetapi ceroboh dalam menjalankan tugasnya. Mata-mata ini bernama JJ, diperankan oleh Dave Bautista yang memiliki tubuh yang masif.

JJ yang merupakan mantan tentara mengakui dirinya belum terbiasa menjalani kehidupan sebagai mata-mata. Ia pun mengakui bahwa dirinya mata-mata di depan musuh dan melibas mereka dengan mudah. Sayangnya, kurangnya pengalaman JJ dalam menjadi mata-mata membuat ia tidak bisa menuntaskan misi dengan baik sebab ada satu orang yang kabur.

Dave Bautista berperan sebagai JJ, mata-mata CIA dalam film My Spy (2020)

Mata-mata bertubuh besar ini pun diberikan tugas yang lebih mudah, mengamati seorang ibu dan anak perempuannya yang memiliki hubungan dengan jaringan teroris yang ia tumpas sebelumnya. Ia pun dipasangkan dengan Bobbi (Kristen Schaal), mata-mata yang sebagian besar meghabiskan kariernya di depan komputer daripada beraksi di lapangan. Bobbi yang menggemari JJ tidak disambut baik dengan pria bertubuh besar itu. JJ enggan ajari wanita ahli teknik informatika itu beraksi di lapangan.

Dikisahkan, satu kejadian tidak terduga membuat misi JJ dan Bobbi jadi pengalaman yang unik. Anak perempuan yang seharusnya mereka awasi, Sophie (Chloe Coleman) mengetahui kedok mereka, yakni CIA. Sophie mengancam membuka kedok JJ dan Bobbi dengan minta diajak berteman. JJ malah menjadi dekat dengan Sophie dan menjalin hubungan yang unik.

Pasangan yang Tidak Terduga

Memasangkan dua orang yang tidak serasi dan memiliki perbedaan karakter yang mencolok bukanlah hal baru dalam film-film komedi. Filmnya yang lain, Get Smart, juga memasangkan dua agen yang memiliki perbedaan mencolok. Pertentangan kedua karakter inilah yang nantinya dijadikan komedi.

Kita memang merasakan adanya lawakan-lawakan yang cukup banyak dan efektif saat JJ bertentangan dengan Bobbi. Banyolan dan tindak laku mereka dapat mengundang tawa. Namun, kedua karakter ini sepertinya tidak diberikan penulisan skenario yang matang oleh Erich Hoeber dan Jon Hoeber. Dalam satu momen, Bobbi terlihat begitu eksplosif dan sangat masuk akal jika ia marah kepada JJ. Namun, momen ini padam begitu saja dan tidak ada bekas yang ditinggalkan dari pertengkaran mereka.

Hubungan JJ dan Sophie jadi kunci film My Spy (2020)

Alasan JJ tidak ingin mengajarkan Bobbi beraksi di lapangan pun tidak berdasar. Padahal, Bobbi rekannya yang sewaktu-waktu pasti ada momen JJ harus dibantu. Apalagi, JJ dengan mudahnya mengajarkan Sophie beraksi, anak kecil yang seharusnya ia jaga. Ketidakkonsistenan karakter JJ ini pun patut dipertanyakan.

Konflik-konflik di luar akal seperti ini memang dapat menjadi bahan komedi yang dengan mudah mengundang tawa. Sayangnya di antara banyolan-banyolan yang efektif tersebut, memang kurangnya cerita yang konkret. Ada masalah transisi yang tidak hanya terjadi kepada hubungan Bobbi dan JJ saja. Ada logika-logika yang sulit diterima dengan realita.

Film-film komedi aksi semacam My Spy ini memang selalu memiliki tempat dan pasarnya sendiri. Ada orang yang memang ingin menonton film yang dapat menghibur dirinya dengan tawa tanpa perlu banyak berpikir. Bahkan, bagi penggemar film sekalipun, film-film seperti ini bisa menjadi selingan di antara film-film yang bisa menguras otak dan emosi. Namun, dengan kualitas yang ditawarkan, sepertinya My Spy bukanlah film yang akan kita kenang dalam beberapa tahun ke depan.

Infografik film My Spy (2020) oleh ulasinema.

Baca juga: Mountain Song (2019): Terbatas Sumber Daya

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan