Review Film Little Women (2019): Unjuk Gigi Greta Gerwig

0
325
Review Film Little Women (2019) ulasinema

Little Women merupakan film ketiga sineas Greta Gerwig sebagai sutradara. Dari dua film terakhirnya, pakem sentuhannya sebagai auteur terlihat belum jelas. Ada perbedaan latar waktu yang cukup mencolok antara Little Women dan Lady Bird (2017). Namun, kedua film ini memiliki kesamaan yang jelas: sama-sama hebat.

Kita mengenal Greta Gerwig dari film-film Noah Baumbach; sineas wanita yang memulai kariernya sebagai aktris ini selalu dijadikan tokoh utama oleh Baumbach. Gerwig memulai debut sebagai sutradara lewat film Nights and Weekends (2008). Namun, kariernya sebagai sutradara baru benar-benar dilirik usai menciptakan Lady Bird (2017).

Gaya penyutradaraan Gerwig dalam Lady Bird sudah sangat terasa. Dirinya tahu cara membuat tokoh perempuan remaja, yang diperankan oleh Saoirse Ronan, dalam film tersebut benar-benar hidup. Tanpa adanya dramatisasi berlebih dan dari percakapan-percakapan kecil yang menarik, cita rasa Gerwig bisa dirasakan dengan manis. Film yang memiliki kesan sangat 2000-an tersebut bisa benar-benar merepresentasikan pendewasaan perempuan remaja pada kala itu.

Usai kesuksesan Lady Bird, Gerwig menantang dirinya lagi untuk terus berkembang. Kali ini, ia mengadaptasi novel Little Women karangan Louisa May Alcott. Tantangan tersebut terasa semakin besar, mengingat novel ini sudah berulang kali dialihwahanakan menjadi film dan serial televisi. Dua alih wahana sebelumnya, yaitu film Little Women (1994) yang diarahkan oleh Gillian Armstrong serta serial televisi mini berjudul sama (2017) yang menuai pujian kritikus.

Kehangatan keluarga March (Saoirse Ronan, Emma Watson, Florence Pugh)

Gaya Unik Little Women ala Greta Gerwig

Film Little Women besutan Gerwig bisa dipecah menjadi 3 segmen yang tidak terikat oleh waktu yang terus berjalan maju. Memang masih sangat konvensional, mengingat 3 segmen ini terkait dengan runutan gaya tradisional, yaitu pengenalan, konflik, dan resolusi. Namun, penjelasan konflik cerita menggunakan alur maju mundur yang terus berulang.

Sepertinya rumit dijelaskan bagaimana cara Gerwig bisa menyatukan fragmen-fragmen cerita yang tidak terikat pada alur waktu maju saja. Hal itu nyatanya tidak membuat kita harus pusing-pusing menerka ini waktunya kapan. Terlihat jelas perbedaan kondisi para karakter dalam alur maju mundur tersebut.

Apalagi, cara Gerwig menyatukan fragmen tersebut menjadi satu untaian segmen yang terikat dengan rasa. Pada bagian awal, ada nuansa keceriaan yang ditampilkan dengan begitu manis. Keluarga March ditampilkan sebagai keluraga yang begitu aktif, begitu ceria, dan penuh kehangatan. Di sini diperkenalkan karakter-karakter unik dari keluarga March. Ada banyak momen-momen menyentuh yang dengan mudah membuat penonton ikut merasa.

Segmen kedua berisi fase kesedihan yang memuat konflik-konflik dalam cerita. Fase ini berfokus pada hubungan percintaan yang rumit dari para karakter yang sudah semakin dewasa. Lalu, yang menjadi pusat kesedihan, yaitu sakitnya Beth (Eliza Scanlen) hingga berujung pada kematiannya. Momen-momen kecil yang menyentuh terus ditebar dan lagi-lagi begitu efektif menyentuh hati penonton.

Segmen ketiga dibuat lebih rumit, ada kisah cinta rumit yang harus dihadapi keluarga March. Theodore (Timothée Chalamet), tetangga keluarga March yang kaya raya dan rupawan, menyukai Jo (Saoirse Ronan). Jo sendiri pun lebih menyukai kebebasan dan tidak melihat dirinya sebagai istri seseorang. Sementara itu, adik Jo, Amy (Florence Pugh) suka pada Theodore.

Saoirse Ronan lagi-lagi adu akting dengan Timothee Chalamet

Lebih rumit lagi, ada pula masalah posisi wanita yang harus mencari suami kaya untuk menunjang hidup keluarganya. Cinta mungkin dapat dinomorduakan. Namun, Meg (Emma Watson) memilih mendahulukan cinta dan melupakan kebutuhan ekonomi demi kebahagiaannya.

Dari belitan cinta yang rumit ini dan  momen pilu usai kematian Beth, kita dibawa ke fase penulisan cerita yang unik. Jo, yang menulis novel Little Women seakan menjadi penulis kisah dalam film ini, diberi dua opsi: menjadi perawan tua dan hidup dengan memegang teguh idealismenya atau menemukan cintanya dan “menjadi istri seseorang”.

Pertentangan dua idealisme ini begitu menarik. Gerwig menampilkan unsur ini dengan cermat, ingin tetap setia dengan karya asli, tetapi sesuai dengan konteks sosial sekarang. “Apa salahnya sedikit melunturkan idealisme diri demi meraih kebahagiaan yang lebih besar?” Mungkin itu jawaban Gerwig. Jo tetap mewujudkan impiannya untuk menjadi penulis bebas, pada saat yang bersamaan, ia menemukan cintanya.

Konvensional yang Emosional

Mungkin, dari satu sudut pandang, memang Little Women cerita yang begitu konvensional. Semuanya indah dan semuanya bahagia ketika tulisan kredit dimulai. Namun, kepiawaian Gerwig memadukan cerita sehingga setiap momen bisa membuat penonton dengan mudah terperangkap dalam berbagai emosi film ini.

Little Women pun menjadi ajang unjuk gigi Gerwig sebagai sutradara. Walaupun idealisme yang ditunjukkan filmnya sebelumnya Lady Bird, mirip dengan film ini, ada pembubuhan gaya yang begitu berbeda. Fleksibilitas sineas wanita ini menunjukkan bahwa dirinya punya potensi hebat yang sangat menarik untuk dilihat pada masa depan.

Infografik film Little Women (2020) oleh ulasinema

Baca juga: A Rainy Day in New York (2019): Mencipta Romantis

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan