Review Film Happy Old Year (2019): Minimalisme Tidak Spark Joy

0
126
Review Film Happy Old Year (2019): Minimalisme Tidak Spark Joy

Now this one sparks joy (Nah, barang ini memicu kegembiraan),” merupakan ujaran yang mengandung esensi dasar dari konsep berbenah ala Marie Kondo. Nyatanya, menerapkan konsep ini pun tidak semudah memilih mana yang memicu kegembiraan mana yang tidak. Hal itulah yang dipermasalahkan Nawapol Thamrongrattanarit dalam Happy Old Year.

Minimalisme dalam arsitektur memang bukanlah konsep baru, tetapi konsep ini semakin digemari untuk memaksimalkan penggunaan ruang. Mendirikan bangunan baru dengan konsep minimalis mungkin taksulit, tetapi merenovasi rumah kita sendiri menjadi minimalis bisa menjadi masalah besar. Masalah inilah yang dimiliki Jean (Chutimon Chuengcharoensukying) dalam Happy Old Year.

Jean ialah perempuan muda yang baru memulai kariernya sebagai arsitek di Thailand usai berkuliah di Swedia. Ia mengusung tinggi minimalisme dalam karya-karyanya maupun gaya hidupnya. Jean pun ingin menerapkan hal itu di rumahnya yang ingin ia sulap menjadi kantornya.

Masalahnya, rumah Jean yang merupakan rumah ibunya, penuh dengan barang-barang. Ketika menyampaikan hal ini kepada saudaranya, Jay (Thirawat Ngosawang) keinginannya disambut dan ia akan membantu. Namun, yang sulit ialah meyakini ibunya (Apasiri Nitibhon) karena barang-barang tersebut memiliki banyak kenangan.

Tanpa restu dari ibunya, Jean dan Jay pun mulai mereorganisasi barang-barangnya besar-besaran. Bagi Jean yang berhati dingin dan bertekad besar untuk reorganisasi ini, awalnya mudah. Sementara itu, Jay mencoba untuk belajar mereorganisasi dengan membeli buku serta menonton video-video Marie Kondo, organisator kondang asal Jepang.

Thamrongrattanarit dalam film ini memang terlihat ingin menantang konsep benah-benah ala Kondo. Sosok Jean merupakan produk modernisme, ia ingin segala sesuatunya minimalis nan futuristik dan ingin melepas hal-hal lama yang takberguna. Hal yang bertentangan dengan Jean mungkin bukan hanya ibunya, tetapi masa lalu.

Dengan membuang barang-barang lamanya, Jean ingin hanya ingin melihat masa depan. Namun, seiring dengan ia menyentuh barang-barang yang menjadi saksi bisu hidupnya, emosinya terusik. Jean yang sangat dingin mulai digoyah hatinya setelah sahabatnya, Pink (Padcha Kitchaicharoen) menemukan CD lama di tempat sampah. Jean hendak membuangnya, tetapi Pink menginginkannya dan mengingatkan bahwa kaset tersebut ia yang beri.

Jean pun mulai sentimental dan kembali membuka plastik-plastik yang berisi barang-barang yang hendak ia buang. Konsep memilah barang Kondo pun dipertanyakan. Jika Kondo memilih barang-barang yang hanya memicu kegembiraan saja untuk disimpan, Jean melihat ada nilai lebih dari barang-barang tersebut. Nilai ini pastinya berbeda-beda, tergantung pengalaman setiap pribadi dengan barang tersebut.

Ada beberapa barang ternyata pinjaman atau pemberian. Dimulailah perjalanan Jean yang bukan hanya untuk mengembalikan barang-barang tersebut. Perempuan ini menghadapi masa lalunya yang sebenarnya telah ia coba lupakan saat berkuliah di Swedia. Perjalanan Jean mengembalikan barang-barang pun menjadi ajang untuk meminta maaf kepada orang-orang yang ia sakiti.

Masalah paling besar datang saat Jean mengembalikan barang mantan kekasih yang ia abaikan setelah ia terbang ke Swedia. Selain itu, Jean kesulitan untuk membuang piano ayahnya yang memberikannya banyak kenangan, terutama ibunya yang bersikukuh enggan membuang piano itu. Pada akhirnya, melepas barang penuh kenangan taksemudah memilih mana yang memicu kegembiraan atau tidak layaknya konsep Kondo.

Untuk membawa konsep ini dalam Happy Old Year, Thamrongrattanarit mengusung minimalisme yang ingin dituju Jean. Ia meminimalisasi tampilan layar menjadi 4:3 yang sedang tren di film-film arthouse, menurunkan kontras warna serta membuat karakter utamanya minim emosi. Lalu, pada bagian akhir film, Thamrongrattanarit membuat antitesis terhadap konsep minimalisme dengan menjadikan film ini sentimental.

Perjalanan karakter Jean merupakan daya tarik utama film ini. Dirinya yang sekeras dan sedingin gunung es, perlahan terkikis dan meleleh ketika masa lalu mulai menghampirinya satu per satu. Sedikit disayangkan, klimaks yang seharusnya jadi momen pembunuh dari film ini terlalu bertumpuk. Tiga puluh menit terakhir film ini menjadi tumpukan resolusi yang isinya sebagian besar tangisan Jane. Nuansa film yang awalnya dingin tiba-tiba menjadi cengeng pada bagian akhir.

Bagaimanapun, konsep yang dibawa Thamrongrattanarit sangat menarik. Modernisme tidak boleh terburu-buru dan tidak boleh mengikis budaya lama sepenuhnya. Konsep benah-benah dan menyortir dengan dasar memicu kegembiraan ala Kondo tidak boleh ditelan mentah-mentah. Happy Old Year menunjukkan bahwa spektrum emosi manusia luas, tidak hanya gembira atau tidak saja karena adanya perasaan yang jauh lebih kompleks.

Infografik Review Film Happy Old Year (2019): Minimalisme Tidak Spark Joy oleh ulasinema

Baca juga: Review Film I’m Thinking of Ending Things

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan