Keluar dari pakem adiwira gelap Zack Snyder di DC, James Gunn merombak ulang dengan nuansa cerah dalam Superman (2025). Semua bintangnya benar-benar baru dan memakai para aktor yang relatif belum begitu terkenal. Namun, di tangan Gunn, semuanya terasa mewah.
Di film Superman (2025) ini, Gunn takingin mengulang lagi cerita dari nol dan langsung tancap gas. Kisahnya diringkas dengan tulisan prolog dari tiga ratus tahun lalu hingga tiga menit terbaru. Hal ini mungkin terasa malas, tetapi cukup efektif jika kita mengingat dalam dua puluh tahun terakhir, kita sudah diperkenalkan karakter ini dalam dua film (Superman Returns, 2005 dan Man of Steel, 2013) serta satu serial (Smallville, 2001).
Gunn punya misi besar dalam menghidupkan lagi Superman yang berulang kali memikat sinema. Sejak Snyder merombak sosok Kal-El yang cerah berwibawa menjadi gelap dan seperti monster yang takterkalahkan, kita mungkin sudah terbiasa melihat karakter klasik ini diubah sesuai dengan visi sutradara atau relevansi terhadap zaman. Kini, Gunn merombak lagi sosok Clark Kent dan mempercayakannya terhadap David Corensweet.
Corensweet punya paras dan fisik sempurna yang terlihat lebih tenang ketimbang Cavill. Dia lebih mendekati Christopher Reeve atau Brandon Ruth yang memiliki paras Superman klasik. Namun, di tangan Gunn, Superman taklagi kaku, minim dialog, dan takterkalahkan. Sejak awal, kita langsung diberi tahu bahwa Superman kalah. Ia ditaklukkan dengan Ultraman yang dilengkapi dengan baju besi di bawah komando Lex Luthor (Nicholas Hoult).
Konfliknya terasa lebih kompleks ketika Clark diwawancara oleh Lois Lane (Rachel Brosnahan) yang di titik ini telah menjadi kekasihnya dan tahu bahwa ialah Superman. Mereka membicarakan tentang interupsi Superman yang mencegah invasi negara khayalan Boravia ke Jarhanpur. Invasi ini menguntungkan Luthor yang memasok senjata.
Boravia di sini jelas terinspirasi dari Rusia, tetapi Jarhanpur bukan Ukraina, sebab rakyatnya lebih mirip etnis India. Bagaimanapun, dijelaskan bahwa lahan Jarhanpur berada di gurun dan disebut juga memiliki potensi pertambangan minyak yang deras. Dengan kondisi geografis ini dan tujuan Luthor yang ingin membangun ulang negaranya membuat kita sulit melepaskan citra bahwa Jarhanpur mungkin saja Palestina. Apalagi Luthor yang ingin mendirikan lahan utopia di sana membuat kita teringat akan keinginan Donald Trump yang ingin membangun ulang Gaza sebagai tempat hiburan modern.
Jika benar Gunn secara tersirat memunculkan konflik ini dalam film terbarunya, keberaniannya perlu diapresiasi. Walaupun terasa oportunis dan eksploitatif, tetapi hal ini penting untuk membuat Superman lebih relevan. Takhanya ceritanya, karakter Clark pun terlihat lebih relevan dan kita banyak melihat sisi humanisnya.
Dalam wawancara dengan Lois, tensi memanas saat Clark dipertanyakan tentang kompleksitas perang alih-alih hanya menghentikan tindakan kejahatan. Clark pun menunjukkan amarahnya. Ia pun dibuat lebih eksplosif dan sensitif dengan adanya media sosial yang terus mengkritiknya. Momen ini benar-benar juara dan rasanya belum pernah film pahlawan super yang berani menampilkan pertukaran dialog panjang untuk membahas tentang moralitas dan kungkungan politik yang membelenggu mereka pada zaman modern.
Di sini juga Lois terasa lebih hidup dari para pendahulunya. Tampilannya punk-rock dan wawancaranya dengan Superman menampilkan kecerdasannya, walau di satu sisi ia masih terasa kekanak-kanakan dalam hubungannya dengan Clark. Lois di sini pun punya andil kuat dalam ceritanya dan takhanya menjadi pemanis saja.
Selain itu, Superman (2025) ini menjadi film adiwira ini yang paling kuat sisi jurnalismenya. Perlawanan dengan Luthor takhanya dalam pertarungan fisik saja, tetapi dalam perang media. Di sinilah peran Lois dan rekan-rekannya di Daily Planet untuk mengungkap kebenaran kekejian Luthor dan memperbaiki citra Superman yang dirusak. Sebagai Luthor, Hoult tampil hebat dalam menampilkan sosok yang sangat menjengkelkan dan sehingga adegan akhirnya dengan Superman terasa memuaskan.
Pada resolusinya, Gunn pun ingin memenangkan kebaikan klasik yang membuat film ini terasa sangat setia kepada komiknya. Beberapa unsur klasik pun hadir di film ini, mulai dari kostum, beberapa teknologi, hingga latar tempatnya. Beberapa adegan normatif pun dibuat dengan indah dan menusuk dengan apik. Selain itu, bagian paling menyentuh dari nuansa klasik ini ialah kembalinya skoring khas Superman (1978) ciptaan John Williams. Kita pun tiba-tiba terperangkap dalam nostalgia yang menyentuh.
Sebagai film pertama dari rombak ulang semesta sinema DC, Superman telah terasa ekspansif. Di film ini juga hadir beberapa adiwira DC lainnya, yakni Mister Terrific (Edi Gathegi), Green Lantern (Nathan Fillion), dan Hawkgirl (Isabela Merced). Film ini pun takmalu-malu untuk menjelaskan tentang semesta lain, selain bumi dan tempat kelahiran Kal-El, walau takditampilkan citranya.
Pada akhirnya, ramuan Gunn di sini benar-benar terasa mujur. Ia terlihat leluasa dalam mengeksplorasi Superman ini dan membawa relevansi yang jitu. Walau penciptaan karakternya solid, sayangnya, Corensweet dan Brosnahan belum terasa seperti bintang yang mempunyai gravitasi kuat. Ini mungkin disebabkan Gunn yang memaksakan gaya komikalnya. Namun, ini bukan masalah besar yang dapat mengganggu film ini.

Baca juga: Dekade 2020 – Akjir Kejayaan Film Pahlawan Super?
Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Farhan Iskandarsyah


















