Blade Runner (1982): Sajian Teror Estetik Dunia Futuristik

0
306
Blade Runner (1982): Sajian Teror Estetik Dunia Futuristik

Teknologi yang berkembang pesat nyatanya tidak selalu berarti baik bagi manusia. Di samping dampak positif yang dihasilkan, kemajuan teknologi dapat melahirkan kesombongan, degradasi moral, serta menghapus sisi humanisme dalam diri manusia itu sendiri. Film Blade Runner (1982) mengingatkan kita akan pentingnya untuk menyadari hal tersebut.

Film berlatar era futuristik ini bercerita tentang Blade Runner senior bernama Rick Deckard (Harrison Ford). Tugas para Blade Runner adalah memburu setiap Replicant yang bertindak di luar kendali. Kali ini, ia ditugaskan untuk menyelidiki dan memburu empat Replicant yang melarikan diri dari proyek kolonisasi.

Replicant adalah manusia buatan atau android buatan Tyrell Corporation. Keberadaannya telah dilarang di muka bumi karena memberontak saat bertugas. Untuk memastikan perbedaan Replicant atau manusia, Blade Runner melakukan tes bernama Voight-Kampff. Tes ini merupakan serangkaian pertanyaan provokatif yang memicu respon emosional

Perkembangan Karakter Deckard di Sepanjang Film

Salah satu hal menarik dalam Blade Runner (1982) ini adalah bagaimana sang sutradara menampilkan perkembangan karakter Deckard di sepanjang film. Pada awal cerita, tokoh Deckard digambarkan sebagai Blade Runner yang berkarakter dingin, cerdas, serta memiliki intuisi tajam layaknya seorang detektif berpengalaman. Dia juga ditampilkan sebagai sosok individualis. Hal tersebut diketahui dari banyaknya adegan yang memperlihatkan bahwa Deckard adalah sosok yang dapat bertumpu pada dirinya sendiri,

Seiring dengan berjalannya misi perburuan, Deckard menemukan beberapa fakta baru terkait dengan penciptaan Replicant. Misalnya, seperti pemberian kenangan palsu ke dalam ingatan Replicant serta pemberian batas usia 4 tahun kepada Replicant model Nexus 6. Menurut Eldon Tyrell (Joe Turkel), pendiri Tyrell Corporation, hal ini dimaksudkan agar Replicant tetap berada dalam jangkauan kendali mereka.

Informasi-informasi ini ternyata sedikit melahirkan kebimbangan pada diri Deckard. Kecanggihan teknologi dalam tubuh Replicant tersebut terlihat tidak memikat dirinya sama sekali. Deckard malah terlihat semakin tidak memahami tujuan pemberian elemen-elemen tersebut pada Replicant. Raut wajah bingung Deckard juga seolah mengisyarakatkan pertanyaan baru di dalam lubuk hatinya, “Apakah tujuan sebenarnya dari penciptaan teknologi Replicant ini?”

Kebimbangan Deckard juga bertambah setelah ia berjumpa dengan Replicant wanita model Nexus 6 yang mengabdi pada Tyrell bernama Rachael (Sean Young). Perasaan iba Deckard terhadap Replicant mulai tergambar setelah ia melihat reaksi Rachael yang tidak percaya bahwa dirinya selama ini memiliki ingatan palsu. Meski demikian, Deckard tetap berusaha fokus menjalankan misi awalnya, yakni melumpuhkan keempat Replicant yang melarikan diri.

Deckard tetap gigih melakukan perburuan. Hal tersebut seperti menegaskan bahwa Deckard adalah sosok berintegritas yang tidak mudah terpengaruh oleh keadaan sekitarnya begitu saja. Perubahan gaya pandang Deckard terhadap Replicant baru benar-benar terasa setelah ia bertemu dengan salah satu replicant yang ia buru, Batty (Rutger Hauer).

Setelah Deckard diselamatkan Batty dan mendengar seluruh curahan perasaannya, Deckard pun tersadar bahwa ia tidak lagi berhadapan dengan keganasan Replicant. elainkan dengan kesombongan, kekejian, dan kediktatoran umat manusia di era teknologi.

Estetika Visual Kehidupan Futuristik

Di dalam film Blade Runner (1982), Ridley Scott tampak ingin menghadirkan perspektif baru mengenai kehidupan futuristik. Hal tersebut dapat dilihat dari nuansa kelam yang dibawakan film ini dari awal hingga akhir. Nuansa kelam terbangun melalui penggambaran buruknya cuaca. Penggambaran langit yang ‘murung’ serta cuaca berawan menunjukkan sisi ‘liar’ dari kehidupan futuristik. Elemen-elemen tersebut menyatu dengan atmosfer film sehingga penonton dapat menikmati film ini.

Kekelaman dunia futuristik dalam film ini juga disajikan secara apik melalui sinematografi  Jordan Cronenweth. Begitu banyak pengambilan adegan dalam film ini ditampilkan dengan komposisi warna indah dan memukau. Penggunaan spektrum warna dari biru ke kuning pada film ini sangat memanjakan mata penonton. Melalui penyajian sinematografi yang indah ini, elegansi kehidupan futuristik terjaga dengan baik meski film ini diselimuti dengan nuansa kelam.

Dari segi penyampaian cerita, film ini terlihat tidak ingin menyuapi penonton dengan narasi atau penjelasan langsung dari tokoh utama mengenai dunia yang ia hadapi. Film ini seperti memicu penonton untuk membaca setiap keputusan dan pergerakan yang diambil. Setiap informasi penting dalam film ini dibuka secara perlahan-lahan untuk menjaga antusias penonton hingga akhir. Semua ini dirancang sedemikian rupa oleh Ridley Scott agar penonton dapat merasakan keindahan film ini secara utuh tanpa tergesa-gesa.

Berikut ini, infografis yang khusus kami sajikan untuk Anda.

blade runner untuk blog, fb, twitter

Penampilan Berkelas Tokoh Antagonis yang Intimidatif

Di dalam cerita Blade Runner, para Replicant didesain dengan teknologi yang begitu canggih sehingga membuat mereka mampu berpikir dan bertindak layaknya manusia normal. Satu-satunya jurang pemisah antara manusia dan Replicant adalah emosi atau perasaan. Para Replicant tidak mampu merasa atau berempati layaknya manusia biasa.

Perasaan yang  dimiliki Replicant bersumber pada kenangan masa kecil pemberian Tyrell Corporation. Kenangan masa kecil tersebut nantinya memicu emosi dalam diri mereka seiring dengan bertambahnya usia mereka. Mereka pun akhirnya merasa menjadi manusia seutuhnya.

Sifat-sifat tersebut tentunya juga terdapat pada keempat tokoh antagonis yang jadi fokus utama. Keempat Replicant yang kabur, Batty (Rutger Hauer), Leon (Brion James), Zhora (Joanna Cassidy), Pris (Daryl Hannah), digambarkan sebagai sosok cerdas mengolah informasi, piawai melakukan penyamaran, serta ahli intimidasi lawannya. Di awal cerita, seorang Blade Runner bahkan berhasil dikelabui dan dibunuh oleh Leon ketika sedang melakukan uji tes “Voight Kampff”.

Sementara itu, kecerdasan Replicant dalam mengolah informasi secara cepat tergambar pada adegan Zhora melarikan diri setelah membaca gerak-gerik Deckard yang dinilai mencurigakan. Lalu bukti keahlian mereka dalam melakukan intimidasi terlihat ketika Batty dan Leon memaksa pembuat mata Replicant untuk memberikan informasi tentang usia mereka.

Semua performa aktor yang memerankan keempat tokoh Replicant ini terbilang baik karena mampu bersikap dingin dan sedikit kaku layaknya robot tanpa terasa dibuat-buat. Penampilan keempat Replicant ini mampu mengimbangi performa Deckard sebagai tokoh utama karena mampu menebar teror dan ancaman serius bagi setiap tokoh lain. Pembagian porsi yang adil antara tokoh protagonis dan antagonis inimampu membuat suasana terasa lebih hidup bagi penonton.

Mengingat Kembali Nilai Moral dan Kemanusiaan di Era Teknologi

Film Blade Runner sejatinya menghadirkan realita sesungguhnya mengenai hitam putih perkembangan teknologi di era modern. Setiap hal tentu memiliki potensi baik dan buruk, tak terkecuali kemajuan teknologi. Kemajuan alat-alat teknologi tidak hanya dapat menyejaterahterakan umat manusia, melainkan juga dapat membinasakan nilai moral dan kemanusiaan dari diri manusia apabila tidak disikapi dengan bijak.

Film ini juga mengingatkan kita betapa pentingnya untuk menghargai setiap eksistensi makhluk hidup yang berada di muka bumi ini. Keserakahan serta eksploitasi yang dilakukan manusia terhadap makhluk lain seringkali mengundang kehancuran serta kerusakan di bumi ini. Blade Runner mengajarkan kita sebagai manusia untuk tidak bersikap semena-mena atas limpahan karunia yang telah diberikan, yakni kecerdasan dan kreativitas.

Di akhir film, kita kembali diingatkan pada pertanyaan penting di era modern ini. Akankah teknologi mengarahkan kita pada sebuah kemajuan? Atau hanya mengarah pada kemunduran yang tak terlihat?

Baca juga: Blade Runner 2049 (2017): Sajian Matang Visual Memuaskan Mata

Penulis: Farhan Iskandarsyah
Infografik: Farhan Iskandarsyah
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah