Anomalisa (2015): Rutinitas Menjelma Manekin dan Sindrom Fregoli

0
461
Analisis film Anomalisa (2015): Rutinitas Menjelma Manekin dan Sindrom Fregoli

Fenomena industri jasa mutakhir membuat manusia takubahnya mesin yang terprogram. Kebakuan dan prosedural dalam industri ini menjadikan manusia layaknya manekin dan hadir secara mekanis. Charlie Kaufman dan Duke Johnson merekam hal ini ke dalam karya gambar gerak, Anomalisa.

Film ini mengisahkan Michael Stone–disulihsuarakan David Thewlis–pria paruh baya dengan profesi motivator ulung yang sedang bepergian. Dikisahkan, ia sedang mengunjungi sebuah kota untuk memberi lektur “Customer Service“. Kota tersebut sebenarnya pernah dikunjunginya satu dasawarsa silam yang memanggil beberapa ingatannya.

Selama perjalanan, kita melihat ia takmenyukai basa-basi atau keformalan dalam berkomunikasi dengan orang lain, mulai dari meladeni penumpang pesawat, supir taksi, hingga pegawai hotel. Ia hafal betul situasi keformalan tersebut merupakan rutinitas penuh kepalsuan, salah satunya ialah tuntutan kerja. Kepalsuan ini seolah-olah sudah menjadi budaya layanan jasa. Alhasil, ia menjawab seperlunya.

Di penginapan, ia bertemu dengan Lisa, seorang customer service yang hendak datang ke lekturnya. Kemudian, ia memanggilnya dengan Anomalisa yang menjadi judul film ini. Dari segi terminologi, kata “anomali” sendiri merupakan kejanggalan atau penyimpangan.

Dalam konteks ini, Lisa digambarkan sebagai pribadi yang masih terbebas dari keformalan atau “kenormalan” dalam berkomunikasi. Kata-kata yang takberaturan dari Lisa yang jauh dari umum atau respons yang takbiasa didapati Stone menjadi daya pikat tersendiri. Cerita Lisa yang apa adanya dan spontan, pun bukan bagian mempercantik citra diri, justru menampakkan keunikan pribadi wanita ini dibandingkan pekerja yang berkomunikasi karena peran perkerjaan.

Sepanjang film, Stone digambarkan menyimpan ketakutan dengan kepalsuan tingkah orang lain di sekitarnya, terutama pekerjaan layanan jasa. Dari aspek visual, ketakutan Stone digambarkan dengan adegan bahwa orang-orang yang ditemuinya memiliki wajah yang menunjukkan lekuk topeng. Ada pula adegan seolah-olah mulut Stone terlepas dan menunjukan sebagian wajahnya terbuat dari robot. Adegan tersebut menunjukkan adanya juga krisis kepribadian dalam diri Stone.

Di tengah ketakutannya, Lisa hadir dengan persona berbeda. Ia memiliki luka di wajahnya dan memiliki suara yang berbeda, yaitu suara perempuan. Hal ini menunjukkan Lisa merupakan manusia yang otentik. Namun, suara Lisa berubah ketika ia memulai pembicaraan mengenai keformalan dalam perkawinan. Secara tersirat, muncul ketakutan pada diri Stone bahwa Lisa ternyata tidak otentik.

Dengan demikian, secara umum, Anomalisa secara tersirat mampu menyingkapkan bahwa industri layanan jasa membentuk manusia sebagai manekin. Hal lainnya yang menjadi penguat ide ini tergambar pada penutup kisah, yaitu dari kado yang Stone bawa untuk anaknya. Stone menghadiahi anaknya sebuah manekin perempuan Jepang. Terlepas dari ia membelinya di toko mainan seks, kado ini secara tersirat menggambarkan apa yang dia hadapi akan dirasakan pada generasi selanjutnya lambat laun. Dalam industri jasa, seolah-olah manusia menjadi menekin yang terprogram dan takbisa menjadi otentik.

Sindrom Fregoli

Kedatangan Lisa menjadi sebuah jalan terang bagi psikis Stone. Paradoks motivator ulung ini ditampilkan dalam kondisi terpuruk dalam menjalankan hidup. Ia juga merasa takada orang yang mampu memahaminya. Ia digambarkan teralienasi dari lingkungannya. Gambaran kondisi psikisnya secara alam bawah sadar muncul secara spontan di lekturnya,”Takada yang mengerti Apa itu hidup? Apa itu luka?” Ia pun mengungkapkan bahwa dirinya takmemiliki teman untuk mendengarkan keluh kesahnya.

Kata “Fregoli”, yang juga menjadi nama hotel yang ia singgahi, tiba-tiba disebut Stone saat kesadarannya sedang takkeruan dalam menyampaikan lektur. Catatan yang dipersiapkannya taklagi memandunya. Kata-kata yang terucap dari bibirnya sangat spontan. Ia malah meracaukan beban hidupnya. Fregoli sendiri merupakan term yang digunakan dalam psikologi. Jika kita ambil pengertian singkat, menurut Motjabai, sindrom Fregoli merupakan delusi yang meyakini bahwa orang yang dikenalinya, biasanya penyiksa kepada penderitanya, berulang kali mengubah penampilan mereka.

Sindrom yang dimiliki Michael tersebut digambarkan dengan hampir semua tokoh dalam film, mulai dari suara ocehan para penumpang di pesawat, pekerja hotel, orang-orang yang ditemuinya, dan bahkan keluarganya memiliki suara yang sama dengan Stone. Seolah-olah tingkah laku dan kepedulian dari orang yang dikenalinya dan ditemuinya palsu belaka. Selain itu, gaya pengisahan dalam aspek suara tersebut mengonkretkan bahwa Stone menganggap semua orang yang ditemuinya ialah orang yang sedang menyamar dan sewaktu-waktu dapat menyakiti atau memanfaatkannya.

Akhirnya, Anomalisa merupakan kisah untuk menyelami lebih dalam tentang psikis manusia. Kaufman dan Johnson membawa kita mengulik keresahan-keresahan sosok Stone dan menjadikannya seorang “pasien”. Kita seolah-olah bertindak sebagai “psikiater”yang sedang mempelajari fenomena terkini mengenai psikis masyarakat modern.

Baca juga: Vertigo (1958): Obsesi, Fobia dan Cinta Semu

Penulis: Anggino Tambunan
Penyunting: Muhammad Reza Fadillah