10 Film Terbaik 2025

0
32
10 Film Terbaik 2025 versi ulasinema

Tahun 2025 menjadi tahun yang meriah buat dunia sinema. Film-film berkualitas hadir takhanya memberikan bobot, tetapi juga hiburan yang membuat kita mendapatkan semua kesenangan dari bioskop. ulasinema pun memilih 10 film terbaik 2025 yang dirasa unggul dari yang lainnya.

10. O Agente Secreto / “The Secret Agent

The Secret Agent

Menangkap tahun-tahun politik yang carut-marut di Brazil, Kleber Mendonça Filho melahirkan film bergaya necis. Film ini berpusat di sosok Armando (Wagner Moura), mantan ilmuwan yang menolak hasil risetnya diambil alih oleh pemerintah dan harus menjalankan pengasingan. Walau awalnya sempat mengawang, penjelasan di pertengahan film akhirnya membuat ruwetan film ini masuk akal. Pertentangan estetika dari hal-hal eksentrik dan gaya parlente film serta ketenangan Moura menciptakan pertentangan yang menarik.

9. 2000 Meters to Andriivka 

Berada di pusat peperangan bukanlah keinginan semua orang, tetapi demi mempertahankan tanah air, para tentara Ukraina menjelajahi kengerian Andriivka. Film ini menggambarkan betapa berharganya suasana tenang di tengah peperangan, tetapi ketenangan itu bisa menjadi tanda bahaya. Kita pun diajak buat tetap waspada sepanjang film, walau tetap terselip sisi-sisi humanis yang menjadikan para tentara di sini bak protagonis. Dokumenter esensial yang penting untuk mengingatkan kita betapa perang adalah kesia-siaan.

8. صوت هند رجب / “The Voice of Hind Rajab

The Voice of Hind Rajab

Ada batasan yang membingungkan antara eksploitasi dengan penyampaian senyata mungkin dalam karya seni, tetapi sutradara Kaouther Ben Hania menanganinya dengan baik di film ini. Mencampurkan elemen suara asli dan dramatisasi di sekitarnya, film ini mirip dengan The Guilty (2018), tetapi kali ini kisahnya nyata. Sulit untuk tidak menahan air mata dan merasa geram saat mendengar suara miris dari Hind Rajab. Benar-benar film yang menyayat hati dan lagi-lagi mengingatkan kita akan kengerian perang dalam situasi dunia yang kisruh ini.

7. 어쩔수가없다 / “No Other Choice

7. No Other Choice

Saat Park Chan-wook bersinema ria, kita hanya bisa duduk dan menikmatinya. Kali ini, ia membawa kisah tentang manajer pabrik kertas yang terkena PHK karena otomatisasi. Saat peluang kerja baru dibuka, ia hendak menyingkirkan lawannya yang mengalami nasib serupa. Park lagi-lagi bermain dengan kebengisan yang dicampur komedi dengan sinematografi yang energik. Lee Byung-hun pun mengendarai film ini dengan mahir, mencampurkan unsur komikal dalam karakternya yang kaku. Benar-benar hiburan lengkap.

6. The Alabama Solution

6. The Alabama Solution

Kehidupan di penjara kerap menjadi akhir dari hidup seseorang. Institusi yang seharusnya menjadi rehabilitasi malah menjadi ladang untuk meluapkan emosi polisi. Itulah yang digambarkan dalam dokumenter karya Andrew Jarecki dan Charlotte Kaufman. Penjara menjadi institusi yang taklagi mengenal kemanusiaan, saat para tahanan taklagi memiliki hak. Film ini berperan penting dalam mengubah perspektif kita tentang seperti apa kehidupan di penjara dan memandang para tahanan sebagai manusia yang butuh pembenaran, bukan pemukulan atau bahkan pembunuhan.

5. Ocean with David Attenborough

Saat dunia sedang sibuk dengan peperangan di daratan, sang narator alam legendaris, David Attenborough, mengajak kita ke dalam lautan. Film ini dibuka dengan betapa horornya kerusakan yang kita ciptakan akibat kerakusan dalam mengeksploitasi hasil laut. Bagaimanapun, narasinya membawa kita ke sisi yang lebih optimistis, saat restorasi membuktikan bahwa lautan bisa menyembuhkan dirinya. Gambar-gambar indahnya pun membawa kita jatuh cinta lagi kepada bumi ini dan menyegarkan kembali keinginan untuk menyelamatkannya.

4. Marty Supreme 

4. Marty Supreme

Menyaksikan film ini mengingatkan kita kembali dengan Uncut Gems (2019) yang sangat gelisah dan penuh dengan adrenalin. Berpisah dengan Benny Safdie, Josh Safdie menunjukkan siapa yang lebih dominan dalam film sebelumnya. Jika dikomparasikan dengan karya saudaranya tahun ini, The Smashing Machine, Marty Supreme membuat Josh lebih unggul. Timothée Chalamet terlihat habis-habisan di sini, karakternya yang penuh karisma walaupun bengal menjadi jantung dari film ini. Uniknya, semua kekacauan itu sangat menghibur, berbanding terbalik dengan Uncut Gems.

3. یک تصادف ساده / “It Was Just an Accident

3. It Was Just an Accident

Bagi sineas veteran sekelas Jafar Panahi, It Was Just and Accident masih terasa lengkap: ia masih seperti sineas baru yang punya banyak hal yang ingin diungkapkan, tetapi penulisannya dan penyutradaraannya jelas seperti seorang master yang berpengalaman.

Film ini mungkin dapat didasarkan dari peribahasa “jatuh nila setitik, rusak susu sebelanga”. Satu kejadian kecil ternyata bisa menentukan nilai kita sebagai manusia. Kali ini, seorang lelaki dengan kaki prostetik terperangkap dan ditangkap oleh orang-orang yang pernah ia sakiti.

Layaknya beberapa sinema kelas atas Iran, lagi-lagi, para tokoh diberi keputusan berat yang mengharuskan ia memilih antara kepuasan emosional atau keutuhan kepribadian untuk menjalankan kebaikan. Peperangan tokoh-tokohnya dengan kepribadian yang berbeda untuk menentukan pilihan pun menghasilkan dialog-dialog yang seru nan jenaka.

2. Affeksjonverdi / “Sentimental Value

2. Sentimental Value

Eksplorasi koneksi antara ayah di dunia sinema kerap menghasilkan karya-karya sentimental dan hal ini yang diselami oleh Joachim Trier. Trier menganalogikan rumah sebagai warisan sentimental yang bisa menurunkan cinta maupun depresi juga. Nora (Renate Reinsve) mungkin mewarisi keduanya dari ayahnya, rasa cinta pada masa kecil, tetapi depresi karena ia ditinggal begitu saja.

Film ini berbicara dengan bahasa sinema, kadang dialognya emosional, kadang lucu, kadang diam pun jadi bahasa indah dan Reinsve paham sekali apa yang ingin disampaikan Trier di bagian ini. Selain Reinsve, para pemeran pendampingnya pun tampil mempesona dan sulit memilih salah satu yang mencolok saat dialog, penokohan, hingga eksekusi bahasa tubuh mereka pun menawan. Sentimental Value pun menjadi ajang pameran keterampilan Trier sebagai auteur modern.

1. One Battle After Another

Jika memikirkan nama sineas aktif terbaik saat ini, sulit untuk melupakan nama Paul Thomas Anderson. Usai Licorice Pizza (2021) yang seperti membawanya kembali ke era 90-an saat film-filmnya memiliki unsur jenaka, kini One Battle After Another seperti mengkulminasi semua gaya di kariernya. Dari kriminal, perampokan, politik, romansa sinting, hingga hubungan ayah-anak, One Battle After Another merupakan cerita epik yang eksklusif.

PTA menyuguhkan kita dengan tiga jam penuh intensitas, menyimpan suatu misteri, dan di sisi lain takpernah lupa untuk menghibur, baik dari kejutan-kejutan unik di ceritanya, sinematografi yang takterduga, maupun dengan selipan kejenakaan para aktornya. Leonardo DiCaprio di sini menampilkan akting komedi terbaiknya, tetapi semua sorotan jatuh ke para pemeran lain. Sean Penn tampil brilian dengan sifat tegas, kaku, emosional, tetapi kikuknya membuat kita tertawa. Chase Infiniti memesona dalam debut layar lebarnya. Benicio del Toro memanfaatkan waktu singkatnya untuk memikat kita. Namun, yang paling kuat aktingnya di antara mereka ialah Teyana Taylor. Menggabungkan kebengisan dan sisi seduktifnya, Taylor jadi pusat cerita walau hanya tampil 17 menit.

Pada akhirnya, One Battle After Another adalah kekacauan ambisius yang terstruktur dari sang master, PTA. Film yang lengkap dalam segala hal ini menjadi puncak dari karier mentereng dari sutradara sekelasnya. Sebuah mahakarya kelam yang uniknya takpernah lupa untuk menghibur.

Baca juga: 10 Film Terbaik 2024

Penulis: Muhammad Reza Fadillah