Review Film Vertigo (1958): Obsesi, Fobia dan Cinta Semu

0
53

Kegemaran Alfred Hitchcock menyiksa penontonnya yang paling parah terjadi pada film Vertigo. Mahakaryanya yang membahas tentang obsesi, fobia dan cinta semu seorang lelaki ini membuat otak kita menjadi kacau. Lanskap 1.50:1 yang dipilih Hitchcock hadir untuk menyongsong masa depan dan menjadi pakem film yang dapat ditiru serta perlu digapai.

Tahun 1950-an merupakan tahunnya Hollywood. Usai perang, keinginan untuk berkarya makin besar dan dekade 1950 menjadi ledakan yang sangat menentukan muka dunia sinema. Selain aktor-aktor besar yang berebut nama, apresiasi terhadap sineas di baliknya, terutama sang sutradara, semakin besar. Alfred Hitchcock menjadi salah satu sineas pentolan zaman ini.

Menyaksikan film-film Hitchcock, kita sudah siap disuguhi oleh misteri, pembunuhan, dan wanita pirang cantik. Tiga hal ini kerap dilengkapi dengan suasana tegang, latar belakang psikologis karakternya, dan nuansa mistis. Belum lagi teknik-teknik pengambilan gambar yang cerdas, skoring yang intens, dan masih banyak lagi kegilaan yang bisa kita nikmati dalam film Hitchcock.

Inovasi di Bawah Sang Master

Vertigo rasanya memiliki segala ciri khas Hitchcock. Film ini berkisah tentang seorang detektif yang berhenti karena rasa bersalah atas rekannya yang meninggal. Ketika mengejar penjahat lewati atap-atap gedung San Fransisco, detektif yang dipanggil Scottie (James Stewart) ini terpleset dan akrofobia (fobia akan ketinggian) yang menyebabkannya sulit untuk beranjak dari pegangannya. Rekan polisinya yang sedang mengejar berbalik arah coba menolong Scottie. Sayang, rekannya terpleset dan jatuh dari atap gedung hingga menemui ajalnya.

Ada penemuan menarik kala menampilkan akrofobia Scottie. Kameramen Irmin Roberts menurunkan kameranya seiring dengan memperkecil perbesarannya, efek ini selanjutnya dikenal sebagai “Vertigo effect”. Efek ini juga mendekatkan kita kepada tokoh Scottie, merasakan ketakutannya, dan menghadirkan rasa vertigo itu sendiri yang disebabkan dari akrofobianya.

Pintasan adegan pertama ini tidak memberikan jawaban konkret apakah Scottie selamat dari peristiwa tersebut. Dari adegan berikutnya, saat Scottie berbicara dengan sahabatnya, Midge (Barbara del Geddes), jelas adegan ini terjadi usai kejadian di atas atap tersebut. Obrolan mereka menjelaskan bahwa Scottie mundur dari kepolisian karena takut fobianya muncul kembali  dan kejadian di atas atap tersebut terulang.

Selain itu, ada keanehan yang disengaja oleh Hitchcock di sini. Punggung Scottie kesakitan seakan memberi indikasi bahwa ia jatuh dari atap tersebut. Probabilitas Scottie selamat jika jatuh dari atap tersebut bisa dikatakan mustahil, mengingat kematian rekan polisinya. Ada beberapa kemungkinan. Pertama, Scottie selamat dan menyebabkannya sakit punggung. Tuhan mungkin sedang memberikan kehidupan kedua bagi mantan detektif ini untuk mengejar apa yang belum digapainya sebelumnya, yaitu mencintai dan dicintai. Perkara cinta ini terekam dalam pembicaraan Scottie-Midge, pada usia mereka yang sudah taklagi muda, mencari pasangan mungkin bisa menjadi tujuan hidup.

Kemungkinan kedua lebih menarik, Scottie sedang sekarat dan kita sedang melihat pintasan hidup saat ia sedang menerka masa depannya. Fenomena ini mirip life review, bedanya Scottie bukan meresensi masa lalunya, tetapi masa depannya. Kemungkinan seperti ini juga diamini oleh artikel jurnal kritikus film, James F. Maxfield yang berjudul “A Dreamer and his Dream: Another Way of Looking at Hitchcock’s “Vertigo””.

Hitchcock terampil sekali menanamkan simbol-simbol yang menyusun film ini. Cinta bisa membuat Scottie memiliki tujuan, sementara fobianya bisa menahannya menggapai tujuan tersebut. Lalu, Scottie diberikan dorongan dari kawan lamanya, Gavin Elster (Tom Helmore) untuk mengatasi fobianya dan mungkin menggapai tujuan terakhir hidupnya, yaitu menguntit istri Gavin, Madeleine (Kim Novak) yang bertingkah aneh. Dorongan ini rupanya berkedok. Dari adegan ini Hitchcock, si master misteri, bisa memamerkan kemampuan terbaiknya.

Kita diajak mengikuti kehidupan normal Scottie sebagai detektif dalam kasus yang berbau mistis. Madeleine diyakini sedang dirasuki Carlotta Valdes, wanita yang meninggal bunuh diri karena anaknya diambil. Gavin memberikan petunjuk bahwa Madeleine cicit dari Carlotta. Coba memercayai semua hal gaib ini membuat Scottie kehilangan nalarnya, terlena kecantikan Madeleine, dan menunjukkan obsesinya untuk mencinta.

Walau Madeleine berselingkuh dengan Scottie, kita tidak melihat adanya rasa bersalah pada kedua karakter. Kita terus disuapi dan dibutakan dengan obsesi Scottie untuk mencari penalaran dan pembenaran kasus dirasukinya Madeleine. Dengan merangkai kenangan Carlotta yang terpintas dalam benak Madeleine, gesekan antara masa lalu dan masa kini diharap Scottie bisa menjadi obat bagi wanita tersebut. Namun, rasanya di sini detektif tersebutlah yang terobsesi mencari pembenaran untuk memuaskan dirinya.

Brilian, Brilian, Brilian!

Satu jam pertama film merupakan penumpasan misteri yang sangat menarik. Setelah itu, sampailah pada tegangan pertama pada adegan bunuh diri Madeleine di atas menara San Juan Bautista. Racikan penyutradaraan Hitchcock dalam membangun tensi dalam adegan ini begitu lihai. Tarik-ulur Scottie dan Madeleine dipilin sedikit demi sedikit. Tensi yang dibangun sangat baik ini juga sangat ditentukan oleh faktor musik dari Bernard Herrmann. Iringan biola dan celo musiknya begitu cerdas, perlahan menaikkan tensi, menyesuaikan dengan gerakan Stewart, lalu membunuh dengan gong saat jatuhnya Madeleine. Bahkan, adegan di San Juan Bautista kedua mirip dengan adegan pertama di sana, racikannya jauh lebih hebat dengan ketegangan yang luar biasa. Sebuah klimaks yang hakiki.

Herrmann juga berperan besar dalam adegan abstrak nan eksotis yang terjadi dalam mimpi Scottie. Mungkin The Wizard of Oz (1939) film pertama yang menggunakan warna, tetapi mimpi Scottie yang terjadi dalam Vertigo mendorong lagi pemaksimalan penggunaan warna, efek, sinematograf,i dan pemaksimalan adegan abstrak dan nirdialog. Suguhan animasi indah yang berikan nuansa mencekam oleh John Whitney ini telah disodorkan juga pada kredit awal film.

Babak kedua film ini semakin menampilkan kehebatan akting dua pemeran utama, yakni Stewart dan Novak. Stewart yang kerap mendominasi adegan dengan kecerewetannya, dibuat bingung oleh Hitchcock dan diharuskan tampilkan gestur serta raut wajah yang kerap meragu. Ia bahkan “dibisukan” saat Scottie masuk rumah sakit jiwa karena trauma atas kejadian Madeleine. Penampilan Stewart mungkin tidak sebrilian tangisannya di drama persidangan Mr. Smith Goes to Washington (1939), tetapi di sini kita melihat persona lain dari Stewart. Dirinya bukan lagi protagonis tanpa celah, melainkan manusia biasa yang memiliki banyak celah. Peranannya sebagai Scottie sangat efektif.

Yang lebih menarik justru sosok Novak. Pada setengah paruh awal film, ia terlihat hanya menjadi wanita trofi saja. Daya tariknya sebagai Madeleine mungkin hanya menjadi salah satu dari sekian banyak perempuan-perempuan berambut pirang dalam film Hitchcock. Masuk paruh akhir film, Novak menunjukkan kemahirannya. Ia hadir dalam karakter lain bernama Judy Barton. Kita melihat seorang perempuan pekerja, bukan wanita berkelas layaknya Madeleine. Rias dan kostum memang berpengaruh, tetapi saat bertransformasi ulang menjadi Madeleine, kita masih melihat sosok Judy yang hanya berias Madeleine. Entah kedok hebat seperti apa yang dibuat Novak atau tipuan gaib apa yang dipermainkan oleh Hitchcock.

Obsesi, Fobia dan Cinta Semu

Obsesi kembali menjadi kunci utama yang menggerakkan sosok Scottie pada paruh akhir film. Ketika menemui Judy yang serupa dengan Madeleine, obsesi membutakan Scottie. Ia ingin Judy menjadi Madeleine, menumpaskan teka-teki cintanya untuk menghilangkan traumanya dan mungkin akrofobianya. Pada adegan awal pembicaraan Scottie dan Midge, wanita itu menanyakan dokternya bahwa akrofobia bisa diatasi dengan kejutan emosional lainnya. Mungkin hal ini tertanam di bawah alam sadar Scottie atau dia dibutakan cinta semata.

Cinta Scottie kepada Judy hanyalah cinta semu. Scottie sebenarnya mencintai sosok Madeleine palsu. Madeleine ini ialah karakter yang diciptakan oleh Judy dan Gavin untuk menyembunyikan pembunuhan Madeleine yang sesungguhnya. Apa yang dicintai Scottie mungkin bukan sosok Madeleine palsu tersebut, tetapi kompleksitas latar belakang di luar nalar yang begitu menarik. Scottie lebih tertarik merasionalkan cintanya dan kedok Madeleine yang dimainkan Judy ketimbang memiliki rasa cinta yang tidak bisa ia jelaskan.

Adegan kedua di menara San Juan Bautista pun menjadi ajang pembuktian Scottie, lelaki rasional yang ingin membuktikan segalanya. Obsesi dirinya tersebut mungkin membuatnya jadi detektif. Ketika semuanya sudah jelas, keraguan Scottie terangkat dan… voila! Akrofobianya hilang!

Untung sekali Hitchcock menolak akhiran untuk memperjelas masa depan Scottie dan Gavin yang kabur ke Eropa. Memotong kisah dengan kasar pada kematian Judy menghadirkan ribuan interpretasi yang membuat film ini terlihat semakin kaya dan semakin mahsyur. Hingga kini, banyak yang menyangka Vertigo hanyalah angan-angan masa depan Scottie yang tergantung di atap gedung, atau setengah akhirnya hanya bayangan Scottie yang bermain di dalam alam pikirannya. Hanya Hitchcock yang tahu. Satu hal yang jelas: Vertigo salah satu film terbaik sepanjang masa.

Infografik Review Film Vertigo (1958): Obsesi, Fobia dan Cinta Semua

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan