Review Film Milea: Suara dari Dilan (2020)

0
209
Review film Milea Suara dari Dilan (2020)

Melalui film Milea: Suara dari Dilan (2020), Dilan akhirnya buka suara mengenai perasaannya. Mengambil sudut pandang lewat ruang hati seorang Dilan, penonton seakan diberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam dua film pendahulunya. Namun, banyaknya kilas balik dari segi penceritaan membuat film ini terasa kehilangan konflik utama pada alurnya.

Film yang mengisahkan pasangan ikonik ini merupakan trilogi yang diangkat dari novel karya Pidi Baiq dengan judul yang sama. Takdapat dimungkiri bahwa cerita cinta sejoli asal kota Bandung ini memiliki penggemar yang cukup banyak, terutama di kalangan remaja. Bahkan, taksedikit penggemarnya yang meniru gaya berpacaran mereka.

Berbeda dengan dua film sebelumnya, Dilan memegang penuh kisah dengan hadir sebagai pembawa cerita. Hal ini memberikan kita sudut pandang lain, pengungkapan kisah dari Dilan. Di balik sosok unik nan misterius, ternyata terdapat sejumlah keresahan. Di balik kuatnya sosok seorang “panglima tempur geng motor”, terdapat pula hati yang bisa tersakiti.

Kisah dibuka dengan adegan Dilan (Iqbaal Ramadhan) yang tengah berkomentar atas dua novel cerita cinta dirinya dan Milea (Vanesha Prescilla). Menurutnya, sosoknya tidaklah sehebat atau seunik apa yang diceritakan oleh Milea. Namun, ia turut mengamini akan kisah-kisah unik dan romantis yang pernah terjadi di antara mereka semasa berpacaran di bangku SMA.

Selain itu, ia juga berkomentar mengenai kejadian-kejadian unik antara dirinya dan Milea. Seperti saat pertama kali ia menyapa Milea dengan cara meramal hingga meminta restu Bundanya (Ira Wibowo) dengan meminta dibacakan Al-Fatihah pada segelas air.

Perjalanan cerita cinta keduanya pun berjalan sebagaimana yang diceritakan oleh Milea. Terdapat kisah unik sekaligus beberapa konflik antarkeduanya. Misalnya, Dilan beradu pukul dengan sahabat karibnya Anhar (Giulio Parengkuan) karena telah menampar Milea.

Di sisi lain, pertengkaran tersebut membuat Dilan dikeroyok oleh Kakak Anhar (Imamsyah) beserta teman-temannya. Takterima hal itu, Dilan berencana untuk membalaskan kejadian tersebut. Aksi balas dendam pun sempat terhenti ketika datang beberapa mobil polisi yang hendak menyergap mereka. Mereka segera melarikan diri, namun nahas, Dilan dan Akew (Gusti Rayhan) tidak dapat meloloskan diri dan dibawa ke kantor polisi. Kejadian penangkapan ini membuat hubungannya dengan Milea mulai merenggang.

Ditengah perasaan kehilangan sosok Milea, Dilan harus kehilangan sahabatnya Akew yang menjadi korban salah sasaran. Kehilangan sahabat dan juga Milea membuat hatinya hancur. Ia pun harus menelan kepedihan tersebut seorang diri.

Selang beberapa waktu setelah kematian Akew, Milea mendatangi rumah Banar dan memutuskan hubungannya dengan Dilan. Milea menganggap Dilan tidak mendengarkan larangannya untuk berhenti dari kegiatan geng motornya. Di sisi lain, teman-teman Dilan mengatakan bahwa sikapnya telah banyak berubah semenjak berpacaran dengan Milea. Hati serta pikiran Dilan pun menjadi tak karuan. Ia pun turut kehilangan sosok ayah yang sangat diseganinya.

Kejujuran Hati Seorang Dilan

Mendapatkan porsi penuh untuk bercerita membuat Dilan dapat menceritakan hal yang mungkin luput di pandangan Milea maupun para penggemarnya, penggambaran akan sosok sebenarnya seorang Dilan. Terlepas dari sosok romantisnya, pada masa SMA, Dilan tetaplah seorang laki-laki remaja yang belum matang secara emosional. Seseorang yang hanya ingin menghabiskan masa sekolah dengan bersenang-senang. Serta mengukir cerita cinta bersama gadis yang ia sukai. Layaknya dunia remaja masa SMA.

Dilan (Iqbaal Ramadhan) datangi pemakaman dalam Milea Suara dari Dilan

Terdapat beberapa adegan dalam film yang menunjukkan sisi lemah Dilan. Ada perasaan gagal karena tidak dapat membahagiakan Milea. Ada rasa gamang setelah bertarung dengan Anhar, sahabatnya sendiri. Ditambah, tidak adanya sosok Milea yang seharusnya dapat menenangkannya. Pun, hadir kecemburuan pada lelaki yang mendekati Milea.

Dalam film ini, Dilan seakan ingin meluruskan pemikiran salah yang terlanjur hinggap di para penggemar. Pemikiran bahwa suatu keharusan untuk menjadi sosok Dilan apabila ingin mendapatkan pujaan hati. Menurutnya, untuk membahagiakan seorang perempuan tidak melulu harus dengan kemewahan atau dengan cara yang rumit. Cukup dengan ketulusan untuk membahagiakan serta mengerti keinginan pasangan.

Hilangnya Konflik Utama Pada Alur Film

Film Milea: Suara dari Dilan merupakan film lanjutan dari Dilan 1990 dan Dilan 1991. Ketiga film tersebut sama-sama disutradarai oleh Fajar Bustomi dan Pidi Baiq. Berbeda dengan dua film sebelumnya, film Milea: Suara dari Dilan (2020) tidak menampilkan jalan cerita baru di dalamnya. Jika kita tarik mundur pada pendahulunya, film Dilan 1990 mempunyai alur yang kuat berupa kisah unik Dilan dalam mendapatkan hati Milea. Pun, pada film Dilan 1991, jalan cerita berpusat pada perjalanan cinta keduanya hingga mereka berpisah.

Pada film ketiga, jalan cerita terasa agak monoton. Minimnya kisah romantis Dilan dan Milea rasanya akan sedikit mengecewakan ekspektasi para penontonnya. Tidak banyak kisah baru yang diceritakan, jalan cerita pun hanya mengulang kejadian-kejadian yang membekas pada dua film sebelumnya. Bedanya, sudut pandang penceritaan berganti pada sosok Dilan. Alur film ini terasa hanya berupa beberapa babak yang disatukan tanpa adanya benang merah di dalamnya. Hal ini tentu berimbas pada hilangnya puncak cerita seperti halnya film pada umumnya.

Kendati demikian, film ini masih terasa nyaman ditonton bagi mereka yang belum menonton kedua film sebelumnya. Terlebih jadwal penayangan yang berdekatan dengan perayaan hari Valentine turut menambah daftar film romantis yang tayang di bioskop.

Infografik Milea: Suara dari Dilan (2020) sajian ulasinema.

Baca juga: Review Film Harley Quinn: Birds of Prey

Penulis: Karomaen
Penyunting: Anggino Tambunan