Review Film Ave Maryam (2018): Visual Cantik Perlu Disidik

0
197
Review Film Ave Maryam (2018): Visual Cantik Perlu Disidik

Robby Ertanto memiliki ide yang menarik dalam Ave Maryam. Ide cerita yang mengusik substansi keagamaan di Indonesia layaknya film ini cukup langka. Namun, ada duri kecil yang bisa berakibat fatal dalam penyampaian ide hebatnya.

Ave Maryam berkisah tentang seorang suster yang jatuh cinta pada seorang pastur atau dalam film ini dipanggil romo. Suster bernama Maryam (Maudy Koesnaedi) ini terusik imannya ketika seorang romo yang baru datang, Yosef (Chicco Jerikho), mengajaknya kencan. Perlahan-lahan, hubungan mereka semakin dalam sehingga perbuatan dosa di antara keduanya takterhindarkan.

Kompleksitas yang dibawa Robby ialah cinta di antara pengabdi gereja. Konflik film ini mengingatkan kita pada Ida (2013) karya Pawel Pawlikowski, tetapi dibalut dengan kearifan lokal. Berbeda dengan Ida Lebenstein, Maryam tidak menggali latar belakangnya saat mencari jati dirinya. Belum lagi, Maryam hampir menginjak usia paruh baya, sementara Ida baru masuk ke tahap dewasa awal.

Menarik melihat Maryam krisis identitas saat 40 tahun yang sebagian besar hidupnya mengonsumsi doktrin-doktrin Katolik. Proses transisi dirinya dan tarik-ulur hubungannya dengan Yosef dibangun dengan tenang dan penuh kehati-hatian. Seusai mereka berhubungan seks, kekacauan yang terjadi pun membuat resah. Akting Koesnaedi yang tenang sepanjang film, tetapi meledak usai berbuat seks dan bergolak hatinya, membuat hati miris.

Ada adegan yang cukup aneh usai Maryam mengakui perbuatan dosanya kepada suster-suster lainnya. Ia sudah naik kereta dan berniat pergi, tetapi bayang-bayang Yosef membuat ia turun dan kembali lagi ke gerejanya. Tidak diketahui ia akan pergi ke mana dan tidak diketahui juga kenapa ia kembali lagi sebab tiada dialog yang menjelaskan.

Minimnya dialog dalam film ini sangat dibantu dengan sinematografi indah dari Ical Tanjung. Penurunan saturasi menguatkan nuansa klasik, selaras dengan latar waktu film pada tahun 1980. Sementara pengambilan gambar yang statis lahir dari pengamatan jeli dari pemanfaatan ruang yang manis, baik dalam gereja maupun di sudut-sudut kota Semarang. Visualisasinya menciptakan bahasa tersendiri.

Bagaimanapun, saat berdialog, para pemainnya justru mengeluarkan intonasi yang aneh. Terlihat Ertanto ingin dialog para pemainnya tenang, tetapi intens. Namun, hampir setengah dialognya gagal disampaikan dengan matang. Yang paling menjadi sorotan ialah Joko Anwar yang memerankan Romo Martin. Intonasinya yang ingin terdengar berwibawa justru menciptakan jeda-jeda aneh yang takalami. Salah satu properti yang digunakan Anwar juga sempat mengganggu keselarasan waktu. Ia menggunakan jam tangan G-Shock yang baru rilis pertama kali tiga tahun setelah film ini tayang.

Problem dialog juga sangat mengganggu pada konklusi film sehingga menimbulkan masalah krusial. Saat Maryam melakukan sakramen dan Yosef yang menjadi pastur pendengarnya, lelaki ini mengatakan pernyataan yang cukup bermasalah. Ia mengatakan, “Yesus mengajarkan kita untuk memilih bahagia.”

Pernyataan ini bisa berbahaya jika tidak didasari dengan ayat yang mendukung. Konteksnya pun bisa dibawa ke mana-mana: apakah kebahagiaan berarti melampiaskan nafsu dan melanggar kaul. Apalagi, dinyatakan oleh seseorang yang di sini berperan sebagai romo. Mungkin akan lebih masuk akal jika Yosef menyatakan persepsinya seperti, “saya rasa, Yesus lebih menginginkan kita bahagia.”

Menampilkan cerita yang mengusik substansi keagamaan pada masyarakat Indonesia yang sensitif bisa memunculkan konflik. Ertanto pun mengambil risiko tersebut saat menciptakan Ave Maryam. Untungnya, filmnya ini bisa mengedukasi walau sekaligus mengusiknya.

Dengan latar kehidupan di gereja Katolik, kita diajak lebih mengenal keseharian para suster dan pastur yang jarang dilihat dalam sinema Indonesia. Waktu 72 menit pun terasa padat, walau dalam beberapa adegan terlihat agak lama. Dalam versi yang dirilis di Netflix, ada adegan seks yang dipotong dan pemotongannya sangat kasar.

Robby Ertanto memiliki ide berani dan kuat yang sebagian besarnya berhasil ia tampilkan dalam Ave Maryam. Dialog minim berhasil dieksploitasi dengan baik lewat visual Ical Tanjung yang sangat memikat. Dalam diamnya yang dominan, Maudy Koesnaedi dengan apik menampilkan performa terbaiknya. Sayangnya, kegagalan dalam menyampaikan dialog untuk mengonklusi film menjadi duri yang sangat perih.

Baca juga: It Follows: Seks Sebagai Medium Pelepasan Diri

Penulis: Muhammad Reza Fadillah
Penyunting: Anggino Tambunan