A Rainy Day In New York (2019): Realitas, Mentalitas, dan Cinta

0
41
A Rainy Day In New York (2019): Realitas, Mentalitas, dan Cinta

Jika saya diberi kesempatan untuk memilih kota yang tepat untuk kencan, saya akan memilih New York yang diguyur gerimis dan diiringi musik lounge. Persis, imaji saya tentang bagaimana saya ingin berkencan dengan wanita pujaan hati digambarkan dalam film A Rainy Day In New York yang menyuguhkan nuansa romantis dalam gerimis. 

(Gatsby)
I love the lounge cocktail piano. 
Outside drizzle, grey.
New York city, enveloped in the light mist.
Two lovers have a date, to meet at 6 o’clock.

(Chan)
At the Grand Central Station.
Under the clock, like in the movie.

….

Apabila membayangkan New York yang selalu sibuk dengan hiruk-pikuk, cukup sulit menggambarkan kota ini romantis. Melalui film A Rainy Day in New York, gambaran sederhana tentang kota ini disuguhkan lewat visualisasi yang mendeskripsikan salah satu pengalaman tentang New York yang romantis dalam gerimis. Tidak kalah romantis dengan Paris. Selain itu, New York yang ingar-bingar dan sibuk tidak digambarkan dengan gamblang dalam film ini. Hanya beberapa potongan adegan yang menunjukkan bahwa New York “hidup” dalam hujan.

A Rainy Day In New York merupakan film romantis yang biasa saja, bercerita tentang bagaimana romansa terjadi antarmanusia. Namun, tidak demikian sederhana jika kita “mau” menganalisis film ini lebih dalam. Lalu, bagaimana jika penganalisisan film ini menggunakan perspektif kota New York? Semoga menarik.

Dalam film ini, manifestasi tokoh utama yang digarap sang sutradara—Woody Allen–cukup merepresentaikan pengalaman realitas maupun psikologis penghuni New York pada umumnya. Tidak hanya itu, simbol masyarakat luar New York pun diejawantahkan ke dalam karakter lain. Hal ini menarik karena yang menonton film ini secara tidak langsung mendapat “pengalaman perjalanan” setiap tokohnya, tentu dari kacamata kota New York.

Gatsby (Timothée Chalamet) & Ashleigh (Elle Fanning) adalah sepasang kekasih yang hendak merayakan kebersamaan mereka di akhir pekan di kota New York. Meskipun sesungguhnya menemani Ashleigh melakukan tugas kampus, Gatsby menjadikan kesempatan ini untuk menikmati ranum cintanya dengan Ashleigh. Lelaki tersebut juga memanfaatkan kesempatan ini untuk bernostalgia dengan New York.

Simbol “New Yorker” pada tokoh Gatsby sebetulnya cukup kentara. Mengapa demikian? Jika menggunakan pendekatan yang stereotip, Gatsby adalah sosok yang neurotik, kurus, pintar, dan kritis yang juga cukup mempesona sebagaimana laki-laki New York pada usianya yang sama. Sosok Gatsby dalam film ini digambarkan sangat menikmati rangkaian peristiwa yang terjadi dan tetap teguh pada karakter yang kasual meskipun tetap memelihara kekhawatiran akan Ashleigh.

Sementara itu, Ashleigh adalah tokoh yang lekat dengan stereotip bahwa ia bukan warga New York. Kemungkinan besar, karakter Ashleigh merupakan simbol yang dibangun di atas antusiasme masyarakat suburban New York terhadap obsesi mereka tentang kota Big Apple ini. Dengan lugu, spontan, dan penuh gairah, Ashleigh berhasil memperkokoh simbol tersebut. Di antara simbol ini, sosok Ashleigh terkesan oportunis karena ia mampu memanfaatkan kesempatan yang menguntungkannya. Bagaimana tidak? Ashleigh yang awalnya hanya mewawancarai seorang sutradara film bahkan bisa ikut berbaur dalam pesta selebriti New York yang penuh kemewahan.  

Berkaitan dengan hal tersebut, baik Gatsby—“Si Santai” –maupun Ashleigh–“Si Oportunis”—merupakan gambaran menarik tentang bagaimana setiap peristiwa mereka di New York tidak sesuai dengan rencana dan tidak menganggap itu sebagai sebuah masalah. Bahkan, perjalanan tokoh di film ini dapat dimaknai sebagai kondisi “let’s get lost” dalam momentum tanpa terencana dan ternyata lebih menyenangkan. Tokoh-tokoh ini memastikan bahwa ketersesatannya dalam rangkaian peristiwa adalah cara lain yang akan menjadikannya pertimbangan dalam setiap keputusan, kelak di penghujung cerita. 

Gambaran menarik lainnya, Gatsby dalam benaknya mengatakan, “One thing about New York City, you are here or you are nowhere. You can’t achieve this level of anxiety, hostility and paranoia anywhere else. It’s really exhilarating.”

Dialog di atas bisa diartikan bahwa tokoh Gatsby secara naluriah tidaklah asing dan terbiasa dengan realitas kehidupan New York meskipun dalam perspektifnya yang sempit. Hal ini diperkuat dengan keputusan Gatsby untuk menetap di New York pada akhir film. 

Bagaimanapun sesaknya New York secara realitas, di dalam film ini justru mampu menjadi faktor penting terkait perubahan perasaan ataupun suasana hati tokoh-tokohnya. Kita telah menyaksikan bagaimana dinamika rasa itu terbentuk atas pengalaman-pengalaman ketersesatan di kota New York. Jika Ashleigh jatuh cinta pada selebriti yang menawarkan kemewahan, Gatsby jatuh cinta pada imajinasinya tentang bagaimana ia berkuasa untuk mengonstruksi romansa. 

Gatsby, Ashleigh, dan tokoh lainnya merupakan integrasi yang menggambarkan kota New York akan selalu dihiasi orang-orang seperti mereka. Datang, menetap, atau pergi. New York telah memberikan pilihan kepada setiap tokoh dalam film ini. Tentu, apa pun yang dipilih oleh para tokoh ini telah melewati sebuah proses “pengalaman perjalanan” realitas, mentalitas, dan tentunya cinta. 

Kepada New York-lah Ashleigh harus melepaskan Gatsby tanpa penjelasan yang ia mengerti. Dalam kebingungan itu, Ashleigh memutuskan untuk meminta pengendara kereta kuda yang ia naiki agar melaju lebih cepat, sebab ia takingin kehujanan. Ashleigh pun tahu bahwa dia rela pergi tanpa Gatsby.

Sementara itu, kepada New York yang telah membuatnya merasakan segala rasa, Gatsby memastikan bahwa ia akan menetap dan jatuh cinta lagi. Imajinya tentang menikmati romansa di kota ini harus ia rampungkan bersama seseorang yang ia cium tanpa rencana di bawah hujan.

Sebagai penutup, New York hanyalah sebuah kota. Urusan romantis atau tidak tergantung pada siapa yang mampu mencipta romansa dengan “pengalaman perjalanan” seperti apa yang dimilikinya. Kita adalah tokoh untuk New York kita masing-masing. Tentunya kita dapat menyaksikan dalam A Rainy Day in New York, kota yang diguyur gerimis ini, telah menjadi saksi bahwa betapa pun matangnya sebuah rencana bisa saja ia tidak akan terlaksana. Selain itu, selalu ada peristiwa yang akan mengubah perasaan dalam hati. Terakhir, berciuman di bawah gerimis itu menyenangkan!

Baca juga: A Rainy Day in New York: Mencipta Romantis

Penulis: Juang Herdiana
Penyunting: Anggino Tambunan